Tantangan bagi Orangtua, Pademi Memengaruhi Anak Ingin Bunuh Diri

Hidup yang berubah bisa membingungkan bagi anak hingga memunculkan rasa hampa dan kesepian

1 Juli 2021

Tantangan bagi Orangtua, Pademi Memengaruhi Anak Ingin Bunuh Diri
Freepik/Zinkevych

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak secara ekonomi dan sosial. Keterbatasan bertemu, pola hidup yang dipaksa berubah membuat kondisi mental seseorang bisa mengalami gangguan. 

Masalah kesehatan mental tidak hanya terjadi pada orang dewasa, selama pandemi terjadi anak-anak juga menjadi kelompok yang rentan. Banyak faktor yang mendukung bagaimana anak bisa mengalami gangguan kesehatan mental selama pandemi, dari pola hidup berubah, makanan hingga screen time dan waktu bermain.

"Mereka harus mengkompromi dengan aktivitas yang terbatas. Belum lagi waktu untuk berbicara dengan orangtua pun meski berada dalam rumah yang sama kalau bekerja juga jadi terbatas," tutur dr. Anggia Hapsari, Sp.KJ (K), dokter spesialis kedokteran jiwa konsultan psikiatri anak dan remaja RS Pondok Indah - Bintaro Jaya dalam webinar Kesehatan Mental Anak dan Remaja di Masa Pandemi, Selasa (29/6/2021).

Fakta mengejutkan yang dihadapi oleh dokter Anggia, dalam 15 bulan terakhir banyak anak-anak yang memikirkan percobaan bunuh diri atau menyakiti dirinya sendiri.

"Ini yang harus kita pahami, kita sebagai orang dewasa awareness ini yang harus diketahui karena ada gejala yang bisa dilihat," pungkasnya.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Gejala kesehatan mental pada anak yang perlu diwaspadai

1. Gejala kesehatan mental anak perlu diwaspadai
Freepik/dashu83

Anak dan remaja cenderung memiliki gejala yang berbeda dibandingkan dengan orang dewasa jika mengalami masalah mental. Hanya beberapa gejala saja yang mirip.

Dokter Anggia mengungkapkan beberapa gejalanya berikut ini:

  • Kesulitan tidur dan makan.
  • Mimpi buruk.
  • Menarik diri atau agresif.
  • Keluhan fisik tanpa penyebab yang jelas.
  • Ketakutan ditinggal sendiri.
  • Selalu ingin berada di dekat orangtua/sangat tergantung.
  • Timbul ketakutan baru (takut kegelapan, tidak berani tidur sendiri, dsb).
  • Kehilangan minat (bermain, hobi).
  • Sedih, menangis lebih dari biasa tanpa alasan.

"Perubahan perilaku kepada anak harus diwaspadai. Dari segi komunikasi misalnya tidak banyak, kesulitan tidur, pola makan dan pembersihan dirinya juga akan terganggu. Misalnya tadinya sudah nggak ngompol tapi menjadi sering ngompol lagi," jelas dr. Anggia. 

Editors' Picks

2. Anak-anak mengalami gejala kesehatan mental sampai ingin bunuh diri

2. Anak-anak mengalami gejala kesehatan mental sampai ingin bunuh diri
Freepik/jcomp
Ilustrasi

Anak-anak dengan pemikiran yang belum sekompleks orang dewasa ingin sesuatu yang instan untuk penyelesaian masalah. Dokter Anggia berpendapat bahwa generasi Z dan Aplha sudah terbiasa dengan digital dengan serba instannya. 

"Sehingga dalam mengatasi masalah cenderung ingin cepat. Dalam mengatasi emosinya pun harus dengan cepat. Jadi ketika menghadapi keterbatasan di pandemi membuat perasaan mereka menjadi kosong," tuturnya.

Dokter Anggia menuturkan, ketika mereka merasakan kesepian akan erat kaitannya dengan merasakan kesakitan. Dari sana mereka akan mencoba untuk mulai menyakiti diri. Ketika itu tidak cukup, mereka akan merasa frustasi.

Kegiatan itu bisa dilakukan berulang hingga akhirnya membuat mood mereka semakin terpuruk. Sehingga pada akhirnya ingin menghilangkan rasa sakit tersebut.

"Pikiran yang muncul pertama adalah cut, menghakhiri hidup. Sehingga seolah seperti main game yang kalau kalah bisa di reset ulang dan akan menjadi karakter baru. Begitu pula mereka memandang dunia ini," tutur dokter Anggia.

Kebanyakan dari anak-anak yang ditangani oleh dokter Anggia merasa tidak menyukai dirinya sebagai karakter di hidupnya saat ini. Sehingga dengan mengakhiri hidup mereka akan seolah bisa menciptakan karakter baru di kehidupan selanjutnya. 

3. Dorongan diri untuk mengakhiri rasa kesepian membuat anak-anak rentan bunuh diri

3. Dorongan diri mengakhiri rasa kesepian membuat anak-anak rentan bunuh diri
Freepik/Zinkevych

Dalam tahap di atas, anak-anak sudah masuk ke dalam depresi. Ketika sudah depresi, akan muncul gejala psikotik yang bertanda anak mengalami waham atau halusinasi. 

"Adanya suara-suara tanpa sumber, adanya pikiran-pikiran salah yang menuduh mereka. Sehingga akan semakin menguatkan mereka untuk melakukan tindakan bunuh diri," tutur dr. Anggia.

4. Cara orangtua mendukung anak dengan masalah mental sampai ingin bunuh diri

4. Cara orangtua mendukung anak masalah mental sampai ingin bunuh diri
Freepik/Jiboom

Ketika anak mengalami tanda-tanda depresi hingga cenderung menyakiti dan ingin bunuh diri, orangtua perlu waspada. Menurut dr. Anggia hal pertama yang bisa dilakukan adalah menerima kondisi anak dengan tulus. 

"Ketika ketika mengerti maunya anak, kita menjadi kontainernya anak. Lalu lakukan pendampingan tanpa adanya penghakiman. Jadi ketika muncul ingin bunuh diri dan sadar ada orangtuanya yang selalu ada buat mereka itu yang biasanya jadi penghambat untuk mengurungkan niat mereka," pungkas dr. Anggia.

5. Tips mendidik anak di era new normal Covid-19

5. Tips mendidik anak era new normal Covid-19
Dok. Popmama

Saat pandemi, mau tidak mau anak menjadi lebih lekat dengan gadget (gawai). Hal ini jelas perlu dikontrol. Menurut dr. Anggia, caranya dengan menciptakan kebiasaan atau jadwal seperti yang dilakukan sebelum Covid-19 menyerang.

"Yang terpenting, orang tua ikut terlibat aktif saat anak-anak memegang gawai. Sehingga menghindarkan anak terbuai pada akun-akun yang menghadirkan konten negatif," jelasnya.

Lalu cara kedua adalah dengan mengasah kreativitas melalui dunia maya. Sebab, di era industri 4.0 dunia maya tak bisa dilepaskan dari keseharian anak-anak. Hal itu pun bisa dimanfaatkan untuk mengasah kreativitas anak.

Sebagai orangtua kita juga harus memahami tempramen anak. Orangtua perlu memahami gaya perilaku anak dan cara anak untuk merespon sesuatu.

Itulah tadi informasi mengenai kasus kesehatan mental untuk anak dan remaja serta keinginan untuk bunuh diri. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Mama yang membutuhkan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.