Tidak berhenti di situ, Azkiave juga secara khusus menyindir gaya hidup Generasi Z. Dalam kontennya, ia berpendapat bahwa narasi "masih muda" sering dijadikan pembenaran untuk menghindari tanggung jawab besar, seperti pernikahan.
Ia mengaitkannya dengan konsep extended adolescence dan perspektif agama, yang justru kian mendapat ragam komentar netizen karena dinilai sebagai bentuk penyederhanaan yang keliru.
Dalam konten-konten yang dibagikan, netizen menyinggung bagaimana sosok influencer yang menggaungkan pernikahan muda itu dinilai punya kesiapan latar belakang yang mumpuni.
Namun, netizen juga menggarisbawahi bahwa setiap individu memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan tujuan hidup yang berbeda-beda, sehingga kesiapan menikah tidak bisa disamaratakan.
Reaksi netizen pun beragam. Banyak yang menggarisbawahi kematangan emosional, mental, finansial, dan menemukan pasangan yang tepat.
Seperti tanggapan pemilik akun Caterju, pernikahan muda tanpa fondasi kuat, justru berisiko menciptakan sandwich generation.
Tanggapan ini menunjukkan kesadaran kolektif bahwa memilih untuk fokus studi, membangun karier, atau mengenal diri sendiri di usia muda bukanlah bentuk penghindaran tanggung jawab, melainkan bagian dari tanggung jawab itu sendiri terhadap masa depan yang lebih stabil.
Polemik Azkiave yang disebut mempromosikan nikah muda mengingatkan kita bahwa perjalanan hidup setiap orang unik. Pernikahan di usia muda sendiri tidak dilarang, tapi penting untuk dipertimbangkan secara matang dari segala aspek agar tidak terjebak dalam ekspektasi yang tidak realistis.
Bagaimana nih, tanggapan Mama terkait pemberitaan yang beredar ini? Apakah Mama tim setuju untuk membiarkan anak menikah di usia muda? Sharing di kolom komentar, yuk!