Anak Suka Cabut Rambut Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental, Trikotilomania

Waduh, apa benar ini tanda gangguan psikologis? Cek disini beritanya!

20 Agustus 2020

Anak Suka Cabut Rambut Bisa Jadi Tanda Gangguan Mental, Trikotilomania
www.pexels.com

Apakah Mama sering mengamati tingkah dan kebiasaan si Kecil? Pernahkah ia mencabuti rambut atau bulu yang tumbuh di beberapa bagian tubuhnya?

Jika ia sering melakukan hal tersebut, maka bisa saja ia mengidap trikotilomania!

Trikotilomania adalah kondisi kelainan dimana penderitanya memiliki dorongan yang tidak tertahankan untuk mencabuti rambut sendiri. 

Hal tersebut dikarenakan tidak adanya kemampuan dalam mencegah diri untuk tidak melakukan suatu perbuatan tertentu, maka trikotilomania termasuk kelompok masalah psikologis yang disebut dengan gangguan pengendalian impuls atau impulse-control disorder.  

Selain mencabuti rambut di kepala, ada juga penderita trikotilomania yang suka mencabuti rambut di bagian-bagian lainnya, seperti bulu mata dan alis, kumis, janggut, dan jambang, rambut di sekitar ketiak, dada, perut, kemaluan, tangan dan kaki.

Apabila penderita trikotilomania mencoba menahan keinginan untuk mencabuti rambut, biasanya akan timbul semacam perasaan tegang, gelisah, dan tidak nyaman pada diri mereka.

Sebaliknya, ketika keinginan tersebut sudah terpenuhi, mereka akan merasa lega.

Bukan hanya itu, ciri lain yang bisa terlihat dari penderita trikotilomania adalah mereka suka mengamati rambut-rambut yang sudah dicabut misalnya mengamati akarnya atau memilin-milin rambut tersebut.

Pada beberapa kasus, penderita bahkan mengunyah atau memakan rambut mereka.

Menyadari begitu pentingnya mengenal penyakit yang satu ini lebih dalam lagi, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa fakta mengenai trikotilomania yang perlu Mama ketahui!

1. Penyebab trikotilomania

1. Penyebab trikotilomania
www.pexels.com

Trikotilomania adalah kondisi yang berkaitan dengan kelainan pada jalur penghubung bagian-bagian di dalam otak yang berperan dalam mengatur gerakan, emosi, dan impuls, serta dalam membentuk kebiasaan, demikin menurut penelitian.

Selain itu, genetik juga merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya trikotilomania. 

Seseorang yang memiliki keluarga dekat pengidap trikotiloma diyakini berisiko tinggi mengidap kondisi yang sama. 

Bukan hanya itu, jenis kelamin dan umur juga berpengaruh. Kasus trikotilomania paling banyak ditemukan pada perempuan usia pra remaja, yaitu kisaran usia 11-13 tahun, ketika terjadi perubahan hormon.

Trikotilomania seringkali dikaitkan dengan masalah psikologis lain, seperti gangguan kepribadian, gangguan makan, gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, dan penyalahgunaan zat.

Para penderita beranggapan bahwa mencabuti rambut merupakan solusi untuk mengatasi rasa tegang, cemas, stres, dan frustrasi.

Editors' Picks

2. Ciri-ciri pengidap trikotilomania

2. Ciri-ciri pengidap trikotilomania
cloverblossomsblog.com

Para dokter menyimpulkan bahwa seorang pasien mengalami trikotilomania apabila ia sering mencabuti rambutnya sehingga nampak kebotakan pada bagian tertentu saja.

Selain itu, ia juga memiliki keinginan untuk mencabuti rambut begitu kuat hingga tidak bisa dicegah lagi,  serta ada perasaan tegang yang meningkat sebelum mencabut rambut dan perasaan lega setelah selesai mencabut rambut.

3. Cara mengatasi trikotilomania

3. Cara mengatasi trikotilomania
Pixabay/54118

Jika Mama menemukan anak mama memiliki ciri berikut dan dilakukan secara berulang-ulang, maka kebiasaannya patut dicurigai dan perlu dilakukan penanganan dari dokter secepatnya.

Salah satu cara yang akan dilakukan oleh dokter adalah dengan melakukan psikoterapi. Jenis psikoterapi yang umumnya direkomendasikan untuk penanganan kondisi ini adalah terapi perilaku kognitif atau cognitif behavioural therapy (CBT). 

Melalui CBT, pasien akan dibantu oleh seorang ahli dalam mengubah perilaku negatif mereka menjadi positif, yaitu tidak mencabuti rambutnya lagi.

Selain dengan mengedukasi pasien mengenai kondisi yang mereka alami dan cara mengatasinya, ahli juga akan membantu pasien memperbaiki anggapan mereka tentang diri sendiri sendiri dan tentang bagaimana mereka berhubungan secara sosial. 

Sering kali dalam penanganan trikotilomania, CBT akan dikombinasikan juga dengan pemberian obat.

Salah satu obat yang biasanya diresepkan adalah clomipramine. Meskipun obat ini utamanya diperuntukan untuk mengobati OCD dan depresi, clomipramine terbukti efektif dalam kasus trikotilomania.

4. Dampak buruk trikotilomania

4. Dampak buruk trikotilomania
Pexels/Skitter Photo

Banyak efek negatif yang bisa timbul dari penyakit trikotilomania.

Selain menyebabkan kebotakan, penderita kondisi ini juga bisa mengalami tekanan psikologis, seperti perasaan malu, bersalah, dan terasing. 

Hal ini bisa berimbas pada hubungan sosial dan menurunnya prestasi di bidang pekerjaan atau pendidikan.

Pada sejumlah kasus, trikotilomania juga bisa menyebabkan trichobezoars atau terbentuknya gumpalan-gumpalan rambut di dalam perut. 

Komplikasi ini bisa terjadi apabila penderita trikotilomania sering memakan rambut yang mereka cabuti.

Nah, itulah beberapa fakta mengenai penyakit trikotilomania yang perlu diwaspadai.

Maka dari itu, sebagai alternatif pencegahan, jika si Anak terbiasa menarik-narik rambut atau memakannya, maka tegaskan padanya sejak dini bahwa kebiasaan tersebut bukanlah hal yang baik.

Dengan begitu, nantinya ia juga tidak akan terbiasa lagi melakukan hal tersebut ketika ia beranjak dewasa.

Itulah penjelasan dan dampak buruk jika anak mengalami trikotilomania. Segera atas dan konsultasikan kondisi kejiwaan anak mama kepada ahlinya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.