Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Pexels/Alena Darmel
Pexels/Alena Darmel

Kasus pelecehan seksual pada anak hingga saat ini masih kerap terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Sebagai salah satu upaya pencegahan, orangtua perlu membekali anak pendidikan seksual sedari dini serta mengenalkan sexual consent atau pemberian persetujuan tanpa adanya paksaan.

Namun nyatanya, pendidikan seks terhadap anak di masyarakat Indonesia masih menjadi hal tabu. Sehingga banyak orangtua yang mengabaikan dan tidak membekali anak informasi terkait hal-hal tersebut.

Padahal, diskusi terkait topik tersebut dapat membantu anak remaja mama yang mengalami pergolakan emosi dan cenderung suka mengeksplorasi hal-hal baru di usianya. Sehingga bisa meminimalisir terjadinya pelecehan seksual pada mereka, Ma.

Bisa dijadikan panduan untuk diajarkan pada anak, kali ini Popmama.com akan rangkumkan beberapa tips mengenalkan sexual consent pada anak mama yang sudah menginjak usia remaja.

1. Lakukan diskusi dengan cara yang hangat dan tenang

Freepik

Berbicara pendidikan seksual pada anak memang menjadi topik yang sensitif dan tidak mudah. Orangtua mungkin akan merasa canggung, bahkan bisa membuat kedua belah pihak merasa tidak nyaman selama diskusi.

Untuk itu, Mama dan anak perlu melakukannya dengan cara yang hangat dan tenang, yakni membicarakannya dari hati ke hati. Buatlah suasana, tempat, dan waktu yang tepat agar pembicaraan ini menjadi lebih bebas tanpa merasa canggung.

Mama bisa membicarakannya di dalam kamar anak atau di ruangan tertutup mana pun yang membuat anak lebih nyaman dan tidak merasa malu. Selain itu, bukalah pembicaraan dengan obrolan ringan atau sesuatu yang anak sukai.

Kemudian jika obrolan sudah lebih rileks, barulah di situ Mama bisa menjelaskan perihal kesehatan reproduksi dan topik lain dalam edukasi seks pada anak. Jangan lupa untuk memberikan juga contoh yang terkait agar anak lebih mudah menangkap hasil diskusi yang sedang dilakukan.

2. Beritahu anak soal pentingnya membuat batasan

Freepik

Selain mengajarkan edukasi seks, Mama juga perlu memberitahu anak tentang pentingnya batasan pada remaja. Dengan mengajarkan hal ini, anak juga bisa memahami bahwa mereka berperan penting untuk dirinya sendiri dari paksaan orang lain.

Salah satu yang penting diberitahu anak adalah menjelaskan bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh orang lain sentuh, dan bagian mana yang memang boleh disentuh namun harus dengan persetujuan anak terlebih dahulu.

Maka dengan begitu, anak pun bisa memahami bahwa jika orang lain melakukannya tanpa persetujuan, mereka bisa memberikan penolakan atau peringatan kepada orang lain yang melakukan hal tersebut padanya.

3. Berikan pendidikan seksual yang komprehensif

Pexels/RODNAE Productions

Tak hanya usia remaja, sejatinya mengajarkan edukasi seks bisa diajarkan sejak anak usia belia. Mama bisa mengenalkan lebih dulu organ reproduksi secara rinci, bagaimana menjaga kesehatan reproduksi, hingga konsekuensi seks bebas.

Tak sekadar memberikan informasi, Mama bisa mengenalkan dan menjelaskannya sesuai dengan usia anak. Tujuannya agar anak bisa memahami maksud diskusi yang sedang dilakukan, serta tidak membuat mereka merasa malu atau canggung untuk membahasnya.

Kemudian di usia remaja, Mama juga bisa mengenalkan akan adanya masa pubertas atau perubahan yang terjadi dalam diri anak, yang kemudian bisa diikuti adanya kehamilan, pernikahan dini, seks bebas, alat kontrasepsi, dan penyakit seksual menular.

Mengajarkan edukasi seks pada anak mungkin akan membuat canggung Mama dan juga anak, namun jangan sampai diabaikan ya, Ma. Sebab anak perlu mendapatkan pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual dengan baik sedari dini.

4. Berikan praktik consent dalam kehidupan sehari-hari

Pexels/RODNAE Production

Consent atau izin sendiri bukan hanya terkait konteks seksual saja kok, Ma. Tetapi juga bisa diajarkan dan diterapkan dalam segala aspek kehidupan sehari-hari anak. Contoh mudahnya adalah saat ingin memeluk, maka mereka bisa melakukannya jika memang orang yang bersangkutan sudah memberikan izin.

Dengan melakukan praktiknya dalam kehidupan sehari-hari, maka anak bisa memahaminya dan menerapkan hal serupa dalam konteks seksual. Sehingga mereka bisa memberikan keputusan dan tidak sembarang memberikan izin pada orang lain atas dirinya.

5. Menanamkan pemikiran bahwa anak itu berharga

Freepik

Hal terakhir yang penting orangtua lakukan adalah menanamkan pemikiran bahwa anak itu berharga. Ketika anak memiliki pemikiran demikian, mereka pun bisa memandang dirinya dengan cara yang positif dan mampu menolak dengan tegas apabila bertentangan dengan nilai yang diajarkan.

Meski tak mudah membangun kedekatan dengan anak usia remaja, namun orangtua perlu terus melakukan pendekatan agar anak bisa lebih terbuka kepada keluarga dan menjalin hubungan yang harmonis terhadap satu sama lain.

Melalui kelima cara di atas, diharapkan orangtua bisa lebih mudah mengenalkan sexual consent pada remaja. Meski masih dianggap tabu di tengah masyarakat, namun orangtua tidak boleh mengabaikan edukasi seks pada anak.

Dengan begitu, anak bisa lebih membangun proteksi dirinya dari ancaman pelecehan seksual yang banyak mengintai anak-anak seusia mereka. Yuk, ajak anak diskusi perlahan, Ma.

Editorial Team