Apa Itu Selfitis pada Remaja? Kecanduan Selfie yang Bisa Merugikan

Selfitis bisa merugikan diri sendiri, bahkan merugikan orang lain juga lho!

14 Januari 2022

Apa Itu Selfitis Remaja Kecanduan Selfie Bisa Merugikan
Freepik/Luis-molinero

Foto selfie atau swafoto adalah hal umum yang dilakukan banyak orang untuk mengabadikan momen dengan mendokumentasikannya melalui kamera foto atau kamera lainnya.

Biasanya setelah selfie, orang tersebut mengunggahnya ke akun media sosial. Ini adalah hal yang biasa terjadi. 

Bisa jadi Mama atau anak remaja mama juga melakukan hal ini. Terlebih kalau ada hal, kejadian, atau bertemu dengan orang tertentu. Rasanya pasti tidak ingin melewatkan untuk abadikan momen tersebut, kan.

Namun, kalau dilakukan secara berlebihan, hal tersebut juga bisa berdampak buruk bagi diri sendiri, lho. Apalgi kalau selfie dengan kondisi yang bisa membahayakan diri sendiri. Nah, fenomena ini disebut dengan selfitis.

Beri pengertian pada anak remaja agar tetap bisa melindungi dirinya dari bahaya. Berikut Popmama.com telah merangkum apa itu selfitis yang sering dialami remaja.

Editors' Picks

1. Apa itu selfitis?

1. Apa itu selfitis
Pexels/Ron Lach

Selfitis adalah kondisi seseorang yang memiliki perilaku yang kecanduan foto selfie dan mengunggahnya ke media sosial. Ini tidak termasuk sebagai gangguan mental.

Meski bukan gangguan mental, namun perilaku ini adalah bentuk narsisme seseorang yang mungkin saja berkembang dan malah menjadi penyakit mental jika tidak dikontrol sejak dini.

2. Alasan orang menjadi selfitis

2. Alasan orang menjadi selfitis
Pexels/Anna Nekrashevich

Foto, foto, dan foto lagi, lalu unggah, unggah, dan unggah lagi di media sosial. Ada beberapa alasan yang mendukung seseorang memiliki perilaku selfitis, antara lain:

Masih bisa dibilang wajar meski jangan kebanyakan juga ya, seperti:

  • Sebagai wadah untuk mengekspresikan diri
  • Meningkatkan suasana hati agar happy  atau mengembalikan mood
  • Sebagai memori yang bisa dikenang

Ini level alasan yang parah dan sebaiknya dikurang-kurangi untuk unggak ke media sosial ya, seperti:

  • Ketagihan mendapatkan like  atau comment  dari orang lain
  • Mencari perhatian dan validasi dari orang lain
  • Meningkatkan rasa percaya diri
  • Meningkatkan status sosial, biasanya si tukang pamer begini
  • Perilaku meniru tren, seperti mencoba fitur "Add Yours" di Instagram.

3. Bahayanya selfitis bagi remaja

3. Bahaya selfitis bagi remaja
Unsplash/Anthony Tran

Berikut ini adalah bahaya selfitis yang mungkin bisa terjadi pada anak remaja:

  • Meningkatkan risiko penyakit mental pada remaja

Foto, posting, dapat reaksi dari orang lain, lalu merespon dengan postingan baru lagi. Semetara bisa saja komentar yang masuk ada yang positif atau negatif. 

Lalu dibalas lagi dengan unggahan baru, seperti itu terus tak ada habisnya. Ini bisa memicu gangguan mental jika anak remaja mama terjebak dalam kebiasaan selfitis seperti itu.

Parahnya lagi, tidak ada yang komentar atau memberi like pun, tetap ada perasaan ingin unggah foto baru lagi. Tidak mampu mendapatkan perhatian dan validasi orang lain dianggap sesuatu yang tidak menyenangkan, lalu dilakukan sampai berulang-ulang. 

Kondisi tersebut bisa menambah risiko mengalami gangguan kecemasan, depresi, bahkan bayangan untuk melakukan bunuh diri. Segera kontrol dari sekarang!

  • Membuat citra negatif pada diri sendiri

Semakin sering foto selfie membuat seseorang akan semakin menyadari apa saja kekurangan yang ditemukan pada dirinya. 

Nah,bagi orang selfitis, hal ini yang kemudian dapat membuatnya memiliki penilaian negatif pada dirinya sendiri.

Selain itu, jika jumlah orang yang tidak menyukai unggahan semakin banyak, maka ini akan meningkatkan rasa tidak percaya diri atau meningkatkan rasa harga diri rendah bahkan merasa tidak menarik.

  • Merusak hubungan pertemanan

Terlalu banyak foto selfie bisa saja membuat follower merasa tidak nyaman. Ada kalanya teman yang melihat foto tersebut mengomentari bahkan bicara hal buruk. 

Perilaku selfitis memicu munculnya haters atau ujaran kebencian dari followers. Bahkan bisa sampai bertengkar dan akhirnya merusah hubungan pertemanan.

Ingatkan pada anak remaja bahwa mengunggah foto selfie boleh saja. Itu hak anak untuk berekspresi, sebenarnya tidak apa-apa, yang penting anak paham dan tahu batasnya. 

Itulah penjelasan tentang apa itu selfitis pada remaja dan bahaya, perhatikan juga bagaimana perilaku anak di media sosial. Jika sudah terlanjur sering upload foto dan terlalu sering, semoga bisa terkontrol mulai saat ini ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.