Hati-Hati, 5 Kebiasaan Buruk Orangtua yang Mudah Ditiru Anak

Wah, ada yang suka melakukan ini nggak saat di dekat si Kecil

9 November 2018

Hati-Hati, 5 Kebiasaan Buruk Orangtua Mudah Ditiru Anak
Freepik

Seberapa dekat anak mama dengan Mama dan Papa? Jadi orangtua itu nggak bisa sembarangan, lho.

Itu karena orangtua menjadi profil pertama yang sangat penting untuk anak-anaknya.

Pada umumnya, orangtua dijadikan sosok panutan dan menjadi contoh yang perilaku dan kebiasaannya akan diikuti oleh anaknya.

Pada dasarnya anak itu mudah mencontoh dari apa yang ia lihat. Terlebih lagi ketika yang dia lihat adalah sesuatu yang dilakukan orangtuanya sendiri, secara tidak langsung anak-anak akan meyakini bahwa hal itu adalah benar dan aman untuk ditiru.

Banyak orangtua yang tidak menyadari hal tersebut sehingga dengan mudah melakukan berbagai hal tanpa memedulikan dampaknya bagi anak.

Berikut ini Popmama.com mengulas, apa saja kebiasaan buruk orangtua yang berkemungkinan besar dicontoh oleh anaknya:

1.Senang mengkritik keadaan

1.Senang mengkritik keadaan
Freepik/yanalya

Tanpa sadar kamu mungkin sering merasa tidak bersyukur dengan keadaan. Mama sering mengeluh dalam kehidupan sehari-hari. Ada ucapan negatif yang berupa kalimat tidak terima, tidak senang, atau marah yang diucapkan baik secara sadar ataupun tidak.

Kebiasan ini akan menyebabkan anak memahami bahwa tidak ada namanya rasa syukur atas apa yang didapatkan.

Anak mama bisa mencontoh perilaku buruk ini dari orangtuanya. Anak juga bisa memiliki rasa tidak puas dan cenderung memiliki perilaku depresi di kemudian hari.

2. Menggunakan gadget tidak kenal waktu

2. Menggunakan gadget tidak kenal waktu
Freepik

Komunikasi saat di kantor menggunakan gadget, mengingatkan anak belajar melalui gadget, bahkan sudah sampai rumah sebagian orangtua masih terus-menerus memegang gadgetnya.

Melihat ini, anak juga akan menganggap bahwa komunikasi tanpa tatap muka adalah hal yang diperkenankan. Mereka akan kesulitan menghargai orang lain dan kesulitan disiplin mengatur waktu.

Banyak juga kasus anak lebih akrab dengan gadget dibanding dengan orangtua mereka. Saat orangtuanya mengingatkan, mereka tidak menggubris dan tetap menatap ke layar gadgetnya terus-menerus.

Editors' Picks

3. Adu argumen tanpa membiasakan musyawarah

3. Adu argumen tanpa membiasakan musyawarah
Freepik/bearfotos

Debat kusir. Itulah istilahnya. Ketika beberapa orang berdebat mempertahankan pendapatnya masing-masing tanpa ada yang mau mengelah. Menyampaikan pendapat dan beradu argumen merupakan hal yang normal terjadi.

Namun, Mama dan Papa lebih baik biasakan voting atau musyawarah ketika ingin menyimpulkan sesuatu. Misal, saat mau liburan ke luar kota mau menetapkan tujuan tempat wisata mana saja yang akan didatangi.

Ada baiknya melibatkan seluruh anggota keluarga yang akan pergi. Tanyakan pendapat anak-anak untuk menunjukkan bahwa perbedaan pendapat itu biasa dan setiap masalah harus diselesaikan secara baik.

Hal ini akan membantu anak dalam menyelesaikan konfliknya sendiri.

4. Tidak menghargai perbedaan

4. Tidak menghargai perbedaan
Freepik/rawpixel.com

Perbedaan gender, kesukaan, hobi, pekerjaan, dan bermacam latar belakang itu harus dihargai. Jangan terbiasa menilai orang secara singkat dari tampilan luarnya saja.

Misalnya, ada orang datang ke tempat makan dengan rambut kusut, lalu orangtua tiba-tiba mengeluarkan reaksi yang menyepelekan orang tersebut. Hal ini akan membuat anak memperlakukan hal yang sama di lingkungan sosial.

Hindari sikap yang menunjukkan tidak menghargai perbedaan. Sama halnya membedakan anak perempuan dan laki-laki.

Stop melakukan itu ya, Ma!

5. Kompetitif dan egois

5. Kompetitif egois
Freepik

Masih membahas kebiasaan buruk orangtua yang bisa ditiru anak, perilaku tidak mau kalah juga tanpa sadar sering dilakukan Mama atau Papa.

Membanding-bandingkan si Kecil dengan saudaranya atau teman sebayanya. Lalu berkomentar sesuatu yang membuat anak merasa kecil dan tidak memiliki kemampuan seperti, "Saudara kamu lebih bagus pasti nilai kursus renangnya dari kamu," atau "Dia lebih jago main badmintonnya daripada kamu", ini sebenarnya tidak perlu dikatakan oleh orangtua.

Mama tak perlu menyamakan si Kecil dengan orang lain. Setiap anak punya bakat dan kemampuan yang unik.

Bukan membuat anak jadi lebih percaya diri, hal ini justru membuat anak kehilangan rasa bangga dengan dirinya sendiri. Anak juga lebih sering berpikir negatif.

Kata-kata Mama juga bisa menyakiti hati anak, apalagi jika dikatakan depan banyak orang yang membuat si Kecil merasa malu.

Seringkali melakukan hal ini bisa membuat anak merasa depresi.

Itulah 5 kebiasaan buruk orangtua yang bisa ditiru oleh anak. Perilaku yang tidak diharapkan untuk dilakukan anak, sebaiknya Mama dan Papa batasi. Ini untuk mencegah agar si Kecil tidak mencontoh sesuatu yang tidak baik.