Berbagai Gangguan Makan yang Dialami Anak dan Tanda-tandanya

Gangguan makan tak hanya dialami orang dewasa saja. Anak-anak pun berpotensi mengalaminya.

15 April 2019

Berbagai Gangguan Makan Dialami Anak Tanda-tandanya
Pixabay.com

Gangguan makan adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki masalah dengan perilaku makannya. Perilaku ini ternyata tak hanya dapat menyerang orang dewasa saja, tetapi juga bisa dialami anak-anak, bahkan yang berusia di bawah 12 tahun, lho Ma.

Secara medis, gangguan makan belum bisa dipastikan penyebabnya. Tetapi gangguan makan ini ternyata bisa diwariskan pada anak apabila ada orangtua dan saudara kandung yang mengalami kelainan ini.

Gangguan makan pada anak tak hanya berpotensi mempengaruhi perkembangan anak, baik secara fisik dan psikologis. Tetapi juga dapat menimbulkan kondisi kesehatan serius mulai dari kekurangan gizi hingga risiko yang dapat mengancam jiwa

Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)

Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)
pexels.com/Min An

Avoidant / Restrictive Food Intake Disorder atau ARFID adalah gangguan makan yang umum dialami oleh anak. Ditandai dengan kurangnya minat terhadap kelompok makanan tertentu, ARFID telah terbukti dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat badan dan kekurangan gizi pada anak-anak. 

Dilansir dari psycom.net, anak-anak yang mengalami ARFID biasanya merasa enggan menelan makanan. Bahkan takut sakit perut atau muntah jika mereka makan satu jenis makanan yang memiliki warna, aroma, rasa dan tekstur tertentu. Misalnya saja anak hanya mau mengonsumsi makanan yang bertekstur renyah dan menolak semua makanan yang bertekstur lembek. 

ARFID dapat mengakibatkan anak malnutrisi karena ia cenderung hanya mau mengonsumsi satu atau beberapa jenis makanan saja. Kurangnya variasi makanan membuat nutrisi dan vitamin jadi tidak beragam.

Editors' Picks

Pica

Pica
Wikimedia Commons

Pemakan segala atau pica adalah kondisi di mana anak memiliki kebiasaan untuk mengonsumsi bahan yang bukan makanan seperti sabun, kapur, pasir, tanah, dan lain sebagainya. Kebiasaan makan segala ini sering muncul bersama gangguan lain, seperti autisme spektrum atau keterbelakangan mental.

Pica dapat menyebabkan terjadinya komplikasi medis pada anak seperti keracunan, masalah pada usus, dan bahkan infeksi pada lambung.

Anorexia Nervosa

Anorexia Nervosa
pixabay.com/sasint

Penderita gangguan makan anorexia nervosa atau sering disebut anorexia, seringkali merasa kelebihan berat badan dan merasa takut jika berat badannya bertambah. Gangguan makan ini yang dapat menyebabkan kerusakan signifikan bagi pada kesehatan fisik maupun pertumbuhannya ini.

Anak yang mengalami anorexia sangat terobsesi untuk menjadi kurus. Mereka rela untuk melakukan hal-hal di luar batas kewajaran, seperti selalu berusaha menahan lapar dan melakukan olahraga secara berlebihan. Jangan salah, Ma, anorexia bukan hanya dialami anak perempuan lho. Anak laki-laki pun dapat mengalaminya.

Gangguan makan pada anak sebisa mungkin dideteksi sejak dini, sebelum menimbulkan risiko yang lebih buruk di masa depannya. Segera bawa anak ke dokter jika Mama mendapati tanda-tanda yang tak wajar. Misalnya selalu menahan diri untuk makan, takut berat badannya bertambah, selalu merasa sakit perut saat mengonsumsi makanan tertentu, emosi tak terkontrol, sering buang air dan memuntahkan makanan yang baru dimakannya.

Baca Juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!