Ternyata, Apa yang Dimakan Anak Dapat Memengaruhi Perilakunya, lho!

Jika anak tidak bisa konsentrasi atau berprilaku agresif, cek apa yang ia makan deh!

21 Februari 2020

Ternyata, Apa Dimakan Anak Dapat Memengaruhi Perilakunya,
Freepik

"You are what you eat." Mungkin Mama sudah seringkali mendengar kalimat ini di mana-mana. Apa yang kita makan turut mencerminkan bagaimana diri kita. Pernyataan ini cukup kontroversial karena banyak orang yang tidak sepakat dirinya didefinisikan oleh jenis makanan yang dikonsumsinya. Tetapi, ternyata sains punya pendapatnya sendiri lho, Ma. 

Nutrisi yang seimbang sangat penting selama masa kanak-kanak untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak. Ketika anak lebih sering mengonsumsi makanan yang tidak sehat, ternyata cenderung mengalami masalah perilaku. Misalnya gangguan perhatian defisit, menjadi lekas marah dan agresif. Pola makan buruk yang tinggi gula, makanan cepat saji dan makanan berpengawet ternyata terkait dengan masalah perilaku ini.

Berikut Popmama.com merangkum penjelasannya, dilansir dari livestrong.com:

Kaitan Antara Konsumsi Gula dan Makanan Cepat Saji dengan ADHD

Kaitan Antara Konsumsi Gula Makanan Cepat Saji ADHD
Pixabay/Studioessen

Meski ADHD belum dapat diketahui secara pasti, dikutip dari livestrong.com, dalam jurnal Postgraduate Medicine disebutkan asupan gula berlebih selama periode waktu yang lama dapat memicu gejala kondisi tersebut. Penyebabnya bisa jadi karena gangguan di otak yang dipicu bahan kimia.

Studi di tahun 2012 yang dipublikasikan pada jurnal Nutrition mencatat adanya hubungan antara gula dan konsumsi makan cepat saji terhadap ADHD.

Pewarna Makanan Buatan Juga Berpotensi Memicu ADHD

Pewarna Makanan Buatan Juga Berpotensi Memicu ADHD
Pexels/Rawpixel.com

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry di tahun 2012 menyimpulkan bahwa adanya efek pewarna makanan terhadap pemicu ADHD anak. Penelitian tersebut memang masih bias, tetapi data tersebut penting untuk dikembangkan lagi. 

Pada tahun 2008, The Center for Science in the Public Interest petitioned the U.S. Food and Drug Administration melarang penggunaan beberapa pewarna makanan buatan yang dinilai terkait penyebab ADHD. Menurut Dr. David Schab, seorang psikiater di Columbia University Medical Center, masalah perilaku pada anak-anak membaik ketika mereka berhenti mengonsumsi makanan yang mengandung pewarna buatan. Kondisi mereka memburuk ketika kembali mengonsumsi makanan mengandung pewarna buatan. 

Editors' Picks

Konsumsi Makanan Mengandung Lemak Trans terhadap Agresi Anak

Konsumsi Makanan Mengandung Lemak Trans terhadap Agresi Anak
Pexels/Marco Fischer

Lemak trans adalah jenis lemak yang dapat diproduksi secara sintetis. Jenis lemak ini banyak ditemukan di makanan cepat saji, makanan yang digoreng dan makanan kemasan. Selain meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, lemak trans dapat dikaitkan dengan sifat lekas marah dan agresi, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada 2012 di jurnal Public Library of Science.

Meskipun penelitian ini tidak spesifik menyebutkan dampaknya pada kelompok usia tertentu, konsumsi lemak trans secara umum dianggap buruk dan berpotensi menyebabkan masalah kesehatan dan perilaku pada anak-anak.

Mengatur Pola Makan Anak yang Sehat dan Bergizi Seimbang

Mengatur Pola Makan Anak Sehat Bergizi Seimbang
Freepik/Angelina-Zinovieva

Sejak dini sebaiknya anak sudah diperkenalkan beragam makanan yang terbuat dari bahan alami, rendah gula dan minim menggunakan bahan-bahan buatan seperti lemak trans dan pewarna makanan. 

Biasakan anak mengonsumsi buah segar dan sayuran setiap hari. Ada banyak cara mengolah makanan yang lebih sehat, misalnya dipanggang atau dikukus, ketimbang digoreng. Gantilah jus kemasan dan soda botolan dengan jus buah segar dan perbanyak minum air putih. Mengganti camilan kemasan yang banyak mengandung bahan sintetis dengan camilan sehat dari biji-bijian, sereal atau buah.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.