Si Lembut Hati yang Peka, Bagaimana Orangtua Mengasuhnya?

Bantu anak mengelola emosinya jadi lebih baik yuk, Ma

13 Agustus 2019

Si Lembut Hati Peka, Bagaimana Orangtua Mengasuhnya
Freepik

Setiap anak terlahir dengan karakter yang berbeda-beda. Ada anak yang agresif, berkehendak dan berperasaan kuat. Sebaliknya, ada juga anak-anak yang berperasaan sensitif. Perasaannya begitu peka sehingga yang dilihat dan dirasakannya mudah memancing tangisnya.

Pada sebagian anak yang berperasaan sensitif, tak hanya emosinya saja yang sensitif. Melainkan pengaruh stimulasi indranya. Misalnya, saat anak mendengar suara berisik, melihat sinar lampu yang terlalu terang, menonton televisi dan mendengarkan lagu dengan volume keras, membaca cerita menyeramkan atau menyedihkan dan berbagai hal membuatnya terbawa situasi.

Memiliki anak berperasaan sensitif memang menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Meski sifat sensitif mungkin tidak bisa hilang sepenuhnya, tetapi Mama bisa membantu anak mengelola emosinya kok. Berikut tips mengasuh anak berperasaan sensitif ala Popmama.com, dilansir dari romper.com:

1. Beri ruang pada anak untuk mengekspresikan perasaannya

1. Beri ruang anak mengekspresikan perasaannya
Freepik/spukkato

Sebagai orangtua, Mama mungkin tak ingin melihat anak bersedih. Namun, kadangkala penting bagi orangtua untuk membiarkan anak-anak merasakan perasaan negatifnya. Jangan terburu-buru mengarahkan pada situasi positif, yang sebetulnya hanyalah untuk kenyamanan orangtua sendiri, bukan untuk kenyamanan perasaan anak. 

Menurut psikolog anak Elinor Bashe, saat orangtua mengajak anak untuk berbicara tentang apa yang dirasakannya, bisa jadi ia akan semakin masuk ke dalam perasaan itu. Namun, biarkan itu terjadi agar anak lega melepaskan perasaan negatifnya.

2. Perbanyak kegiatan fisik untuk menyalurkan emosi

2. Perbanyak kegiatan fisik menyalurkan emosi
Pixabay/fishisdiane

Tak banyak orangtua yang menyadari bahwa aktivitas fisik dapat menjadi kunci meredakan emosi anak yang sensitif. Mama bisa mengarahkan anak untuk melakukan kegiatan yang dapat memfokuskan energinya melalui aktivitas seperti yoga, meditasi, seni bela diri, atau teknik pernapasan dalam.

Pilih waktu terbaik untuk melakukan aktivitas ini. Misalnya saat anak dalam suasana hati yang gembira dan tenang. Memilih waktu yang tepat akan membentuk persepsi yang baik pula sehingga anak tidak mengidentikan kegiatan ini dengan aktivitas yang berkaitan dengan stres dan emosi. 
 

Editors' Picks

3. Ubah mindset: punya perasaan sensitif bukanlah kelemahan

3. Ubah mindset pu perasaan sensitif bukanlah kelemahan
Pexels.com/kelvin octa

Tak dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat menganggap anak sensitif sebagai sebuah kelemahan. Namun, sebagai orangtua, langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah memberikan pengertian kepada si Anak agar dapat menerima keadaan dirinya apa adanya.

Mama dapat mengarahkan rasa sensitif pada dirinya agar menjadi sebuah kekuatan baru yang bermanfaat. Misalnya dengan melakukan hal-hal positif yang berhubungan dengan apresiasi seni atau mengajak melakukan aktivitas yang membangkitkan empati bagi yang kaum kurang beruntung.

4. Pelukan bukan hanya meredakan kesedihan

4. Pelukan bukan ha meredakan kesedihan
Hog's Breath Cafe

Ada beberapa anak yang berperasaan sensitif sangat suka dipeluk saat ia berada dalam keadaan yang kurang nyaman. Sebenarnya sah-sah saja sih, Ma. Namun, sebaiknya pelukan dilakukan juga diberikan saat dalam situasi yang menyenangkan. Misalnya saat menonton televisi atau membaca buku bersama-sama.

Dengan membiasakan pelukan dalam situasi sedih maupun senang, anak dapat memahami batasannya dan tidak menjadikan pelukan sebagai suatu cara untuk menarik perhatian saat ia berada dalam kecemasan. 

5. Memfasilitasi ekspresi perasaan anak

5. Memfasilitasi ekspresi perasaan anak
Freepik

Orangtua yang memiliki anak berperasaan sensitif harus lebih peka terhadap kebutuhan emosionalnya. Anak tipe ini perlu dukungan orang lain untuk mengelola dan mengekspresikan emosinya. Seiring bertambahnya usia, anak harus mampu mengetahui cara mengekspresikan perasaan yang tepat. Misalnya melalui seni. Bisa lewat menggambar, bermain musik atau pun membiasakan anak menulis jurnal harian.

Sebenarnya, setiap anak berpotensi memiliki sifat sensitif. Hanya saja dalam kadar yang berbeda tergantung dengan peran orangtua, lingkungan sekitar dan suasan hatiyang terbentuk saat itu. Namun, dengan semakin bertambahnya usia, anak akan lebih bijak mengelola aneka emosi yang dirasakannya.

Baca Juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!