Para peneliti menyarankan para dokter untuk memeriksa secara menyeluruh mengapa remaja yang kecanduan perangkat elektronik dan mengalami pengalaman psikotik menjadi tergantung pada teknologi, sebelum menyalahkan teknologi itu sendiri.
Doktor Simona Skripkauskaite, dari Universitas Oxford, mengatakan, "Penggunaan teknologi digital yang tinggi pada masa remaja dapat menjadi penanda awal, bukan penyebab, masalah kesehatan mental di kemudian hari."
Ia juga menyatakan bahwa para ahli telah mulai mengubah pandangan mereka dari melihat teknologi digital sebagai penyebab utama semua masalah kontemporer, dengan mengakui bahwa kondisi personal yang sudah ada sebelumnya sering menjadi faktor penentu dalam peningkatan penggunaan media dan masalah kesehatan mental.
Menurut penelitian dari Millennium Cohort Study yang melibatkan 18.000 keluarga, hampir setengah dari remaja Inggris merasa kecanduan media sosial. Penelitian terbaru dari King's College London juga menyimpulkan bahwa satu dari tiga individu memenuhi kriteria kecanduan ponsel pintar secara klinis.
Gejala kecanduan termasuk kehilangan kendali terhadap durasi penggunaan ponsel, tekanan yang dirasakan saat tidak dapat mengakses perangkat, dan pengabaian terhadap aspek lain dalam hidup yang lebih penting.
Selanjutnya, penelitian dari International Journal of Mechanical Engineering juga menjelaskan bahwa aktivitas penggunaan media elektronik seperti gadget dalam jangka waktu lama merupakan tanda kecanduan yang berisiko menyebabkan perilaku psikotik.
Demikian informasi mengenai kecanduan teknologi berisiko terkena psikosis pada anak-anak. Bagi para orangtua, pemahaman akan dampak dari kecanduan teknologi pada anak-anak adalah kunci dalam memberikan dukungan yang tepat.
Melalui kesadaran akan risiko yang terkait dengan penggunaan berlebihan terhadap perangkat elektronik, orangtua dapat berperan aktif dalam membimbing anak-anak menuju penggunaan teknologi yang sehat dan seimbang.