Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Ajarkan Anak agar Tak Salah Pilih Teman, Pengaruhnya Besar
Pexels/Anastasia Shuraeva
  • Pertemanan membantu anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan konflik, dan memahami perasaan orang lain.

  • Orangtua perlu membantu anak mengenali hubungan sehat, menetapkan batasan, serta menghadapi tekanan kelompok.

  • Komunikasi terbuka memberi ruang bagi anak untuk memilih pertemanan sehat dengan tetap menjaga keamanan dan kemandiriannya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Anak belajar banyak dari teman, seperti berbicara, bekerja sama, dan mengerti perasaan orang lain. Tetapi, teman juga bisa membuat anak mengikuti hal yang tidak baik. Mama dan Papa membantu anak mengenali teman yang baik, berkata tidak, menjaga batasan, dan bercerita saat merasa takut atau tidak aman.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendekatan ini membantu anak belajar memilih pertemanan tanpa merasa harus menjauhi semua orang yang berbeda. Orangtua tetap menjaga keamanan, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk mengenali pola hubungan, menyampaikan ketidaknyamanan, dan mengambil keputusan sosial secara mandiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pertemanan menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak. Lewat hubungan dengan teman sebaya, anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan konflik, hingga memahami perasaan orang lain.

Namun, tidak semua hubungan pertemanan selalu membawa pengaruh yang sehat. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa kebutuhan anak untuk merasa diterima dan menjadi bagian dari kelompok bisa memengaruhi perilakunya. Dalam beberapa situasi, kebutuhan untuk diterima tersebut bahkan dapat mendorong anak mengambil risiko atau mengikuti perilaku kelompok.

Karena itu, tugas orangtua bukan sekadar menentukan siapa yang boleh atau tidak boleh menjadi teman anak. Mama dan Papa juga perlu membantu si Kecil mengenali seperti apa hubungan pertemanan yang sehat serta kapan ia perlu menjaga jarak.

Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu anak memilih lingkungan pertemanan yang sehat.

1. Anak dapat meniru perilaku yang sering ia lihat dari lingkungan

Pexels/Nasirun Khan

Anak banyak belajar dengan memperhatikan perilaku orang-orang di sekitarnya. American Academy of Pediatrics (AAP) menjelaskan bahwa anak mempelajari perilaku melalui pengamatan dan teladan, termasuk bagaimana orang lain berkomunikasi, mengelola emosi, serta memperlakukan orang lain.

Hal serupa dapat terjadi dalam lingkungan pertemanan. Jika perilaku seperti berkata kasar, berbohong, merendahkan orang lain, atau melanggar aturan terus dianggap lucu dan mendapat perhatian dari kelompok, anak bisa saja mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Karena itu, orangtua dapat memperhatikan perubahan perilaku anak tanpa langsung menyalahkan teman-temannya.

2. Anak tidak bertanggung jawab untuk ‘memperbaiki’ temannya

Pexels/Nasirun Khan

Mengajarkan empati kepada anak tentu penting. Namun, rasa kasihan bukan berarti anak harus terus bertahan dalam hubungan yang membuatnya takut, tertekan, sering dihina, atau menjadi sasaran perilaku agresif.

Orangtua dapat mengajarkan bahwa anak tetap boleh peduli kepada temannya sambil menjaga batasan untuk dirinya sendiri. Child Mind Institute menjelaskan bahwa memahami dan menetapkan batasan membantu anak menyadari kebutuhan dirinya sekaligus menghormati kebutuhan orang lain. Anak juga bisa dilatih menggunakan kalimat sederhana untuk menyampaikan ketidaknyamanan atau menolak perilaku yang melewati batas.

3. Tekanan kelompok bisa membuat anak melakukan hal yang biasanya dihindari

Pexels/Ron Lach

Anak mungkin memahami aturan ketika sedang sendirian, tetapi situasinya bisa berbeda ketika ia berada bersama kelompok teman. Psikolog Brett Laursen, PhD, dikutip dari APA menjelaskan bahwa hubungan teman sebaya dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif pada perilaku anak dan remaja. Hubungan yang kuat dengan orangtua juga dapat menjadi faktor pelindung terhadap pengaruh teman sebaya yang kurang sehat.

Keinginan untuk diterima terkadang membuat anak mengikuti sesuatu yang sebenarnya ia tahu tidak benar. Oleh karena itu, Mama dan Papa bisa membicarakan kemungkinan situasi seperti diajak berbohong, mengejek teman lain, menyembunyikan sesuatu, atau melanggar aturan, lalu membantu anak menyiapkan cara untuk mengatakan tidak.

4. Tidak semua keluarga memiliki aturan yang sama

Pexels/ Annushka Ahuja

Setiap keluarga memiliki nilai dan aturan rumah yang berbeda. Sesuatu yang diperbolehkan di rumah temannya belum tentu sesuai dengan aturan yang diterapkan orangtua di rumah.

AAP menyarankan orangtua mengenal teman anak dan keluarganya, mengetahui aktivitas yang akan dilakukan ketika anak berkunjung, serta memastikan ada pengawasan orang dewasa jika diperlukan. Orangtua juga dianjurkan menjelaskan aturan keluarga dengan jelas dan konsisten.

Ini bukan berarti keluarga lain lebih buruk. Fokusnya adalah memastikan lingkungan tempat anak menghabiskan waktu tetap sesuai dengan usia, kebutuhan, dan keamanan anak.

5. Ajarkan anak menilai perilaku, bukan merasa lebih baik dari orang lain

Pexels/MART PRODUCTION

Mengajarkan anak memilih teman tidak berarti mengajarkannya merasa lebih baik dibandingkan anak lain. Justru, Mama dan Papa dapat membantu si Kecil melihat pola dalam sebuah hubungan.

Ajak anak bertanya, misalnya: apakah teman tersebut menghormati ketika ia mengatakan tidak? Apakah ia merasa aman menjadi dirinya sendiri? Apakah temannya mau meminta maaf ketika melakukan kesalahan? Apakah mereka bisa berbeda pendapat tanpa saling merendahkan?

APA menyebut orangtua tetap memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan hubungan pertemanan yang sehat. Salah satunya melalui komunikasi terbuka dan membantu anak memahami dinamika dalam hubungan dengan teman sebaya.

Pada akhirnya, melindungi lingkungan pertemanan anak bukan berarti mengontrol setiap orang yang boleh mendekatinya. Seiring bertambahnya usia, anak juga membutuhkan kesempatan untuk mengambil keputusan sosial sendiri. Child Mind Institute mengingatkan bahwa orangtua perlu menyeimbangkan struktur untuk menjaga keamanan dengan ruang bagi anak untuk mengembangkan kemandirian.

Orangtua dapat menjadi tempat anak bercerita, membantu mengenali pola hubungan yang sehat, dan turun tangan ketika hubungan sudah melibatkan intimidasi, kekerasan, atau ancaman terhadap keselamatannya. Dengan begitu, anak bukan hanya “dijauhkan dari pengaruh buruk”, tetapi dibekali kemampuan untuk memilih pertemanan yang sehat secara mandiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article