Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Cara Membantu Anak Tidak Mudah Tersinggung
Pexels/cottonbrostudio
  • Orangtua perlu melatih ketangguhan emosional anak agar tidak mudah tersinggung, dengan cara memahami dan mengelola perasaan sejak dini.

  • Ditekankan peran orangtua untuk mendengarkan cerita anak, membantu menamai emosi, serta mengajarkan bahwa tidak semua hal bersifat personal.

  • Orangtua diajak membangun rasa aman di rumah dan memberi contoh respon sehat terhadap situasi sulit agar anak tumbuh lebih percaya diri dan tangguh.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat anak pulang ke rumah dengan wajah murung karena diejek teman, tidak diajak main, atau kalah dalam permainan, rasanya pasti ikut sedih. Wajar kalau orangtua ingin langsung turun tangan dan “membela”.

Tapi di balik momen seperti itu, sebenarnya ada kesempatan penting untuk melatih ketangguhan emosional anak. Bukan berarti anak harus kuat tanpa perasaan, ya, melainkan belajar memahami emosi dan tetap bisa bangkit saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.

Berikut 7 cara yang bisa dicoba agar anak tidak mudah sakit hati dan lebih kuat menghadapi situasi sosial sehari-hari.

1. Jangan Langsung Menyimpulkan, Dengarkan Dulu Ceritanya

pexels/Paveldanilyuk

Misalnya, anak pulang dan bilang, “Teman aku jahat, nggak mau main sama aku.” Daripada langsung menyalahkan temannya, coba gali ceritanya lebih dalam.

Tanyakan dengan tenang, “Tadi kejadiannya gimana?” atau “Menurut kamu, kenapa dia begitu?” Dengan begitu, anak belajar melihat situasi dari berbagai sisi, bukan langsung merasa disakiti.

2. Bantu Anak Memberi Nama pada Perasaannya

Pexels/paveldanilyuk

Kadang anak menangis bukan karena hal besar, tapi karena ia belum tahu cara mengungkapkan perasaannya. Di sinilah peran orangtua penting.

Contohnya, “Kamu sedih ya karena nggak diajak main?” atau “Kamu kesal karena kalah?” Saat anak bisa mengenali emosinya, ia jadi lebih mudah mengelola perasaan tersebut.

3. Ajarkan Bahwa Tidak Semua Hal Bersifat Personal

Pexels/rdnestockproject

Contoh sederhana: anak tidak dipilih dalam tim saat olahraga. Ia mungkin langsung berpikir, “Aku nggak disukai.”

Bantu anak memahami bahwa kadang pilihan orang lain bukan tentang dirinya. Bisa saja temannya memilih karena faktor lain, seperti ingin satu tim dengan teman dekatnya.

4. Latih Anak Menghadapi Penolakan dengan Cara Sehat

Pexels/mikhailnilov

Misalnya saat anak mengajak temannya bermain, tapi ditolak. Alih-alih memaksa atau langsung sedih, ajarkan alternatif.

Kamu bisa bilang, “Kalau dia lagi nggak mau, kamu bisa ajak teman lain atau main hal lain dulu.” Ini membantu anak tidak bergantung pada satu orang saja untuk merasa diterima.

5. Jangan Selalu “Menyelamatkan” Anak dari Situasi Tidak Nyaman

Pexels/AugustdeRichelieu

Ketika anak mengalami konflik kecil, seperti berebut mainan, tidak semua harus langsung diselesaikan oleh orangtua.

Biarkan anak mencoba menyelesaikan dengan cara sederhana, seperti berbicara atau menunggu giliran. Dari situ, anak belajar bahwa rasa tidak nyaman itu bisa dihadapi, bukan dihindari.

6. Bangun Rasa Aman dari Rumah

Pexels cottonbro

Anak yang merasa dicintai dan diterima di rumah cenderung tidak mudah rapuh saat menghadapi dunia luar.

Momen sebelum tidur adalah waktu yang sederhana, tetapi sangat bermakna. Di saat suasana tenang itulah, anak biasanya lebih terbuka untuk bercerita dan menerima kehangatan dari orangtuanya.

Mama dan Papa bisa memanfaatkan momen ini untuk memberikan apresiasi kecil yang tulus, “Mama dan Papa bangga sama kamu hari ini,” atau “Kamu anak yang hebat.” Kata-kata sederhana seperti ini memiliki dampak yang besar. Anak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa seburuk apapun harinya di luar, ia selalu punya tempat yang aman dan nyaman untuk pulang.

7. Ajarkan Cara Merespons, Bukan Bereaksi

Pexels yunkrukau

Saat ada teman yang mengejek, anak mungkin ingin langsung marah atau menangis. Di sini, orangtua bisa memberi contoh respon yang lebih sehat.

Misalnya dengan mengatakan, “Kalau ada yang ngomong nggak enak, kamu bisa bilang ‘Aku nggak suka itu’ atau memilih menjauh.” Anak jadi belajar bahwa ia punya kendali atas responnya.

Membantu anak agar tidak mudah sakit hati bukan berarti membuat mereka kebal terhadap emosi. Justru sebaliknya, anak belajar memahami perasaannya, menerima situasi, dan tetap percaya diri menghadapi dunia.

Pelan-pelan saja, Ma. Dari kejadian kecil sehari-hari, anak sedang belajar jadi lebih kuat

Editorial Team