Awalnya, kota Bandung ini ditemukan secara tidak sengaja oleh para penjajah di zaman kolonial Belanda. Namun, sejatinya "kota tak bertuan" ini sudah berdiri sejak masa Kerajaan Mataram sekitar abad ke-17 Masehi.
Bupati pertama Bandung pada saat itu adalah Tumenggung Wiraangunangun atau Ki Astamanggala. Mulanya, kota Bandung berada di Krapyak yang sekarang menjadi daerah Dayeuhkolot.
Kepemimpinan Mataram di tanah Parahyangan ini hanya bertahan sampai tahun 1677 saja. Lalu beralih ke tangan pemerintah Hindia-Belanda, yakni Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pembangunan kota Bandung mulai dilakukan sejak berada di bawah kekuasaan Belanda.
Hal ini bersamaan dengan proyek pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan oleh Daendels. Ketika Daendels sedang mengontrol pembangunan jalan tersebut, sampailah di jembatan Sungai Cikapundung (dekat Gedung Merdeka).
Lalu, Daendels menyebrangi jembatan yang dirampungkan oleh warga pribumi hingga sampai di lokasi. Tepatnya adalah seberang Hotel Savoy Homann di Jalan Asia-Afrika.
Di tempat ini, Daendels menancapkan tongkat miliknya seraya berkata "Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd" (usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota).
Untuk memperingatinya maka dibangun tugu nol kilometer Kota Bandung sebagai cikal bakal berdirinya kota Bandung. Tugu ini resmi didirikan pada tahun 2004 silam. Di tempat ini juga terdapat mesin penggilingan kuno (stoomwals) serta batu prasasti sejarah