Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Dampak Orangtua Bertengkar Depan Anak dan Cara Atasinya
Pexels/Timur Weber
  • Pertengkaran Mama dan Papa di depan anak bisa memicu stres, kebingungan identitas, dan rasa tidak aman karena anak menyerap emosi negatif dari kedua figur yang ia anggap sebagai satu kesatuan.

  • Konflik antar orangtua tidak selalu buruk jika diselesaikan dengan saling menghormati; justru dapat menjadi contoh positif bagi anak dalam belajar mengelola emosi dan perbedaan pendapat secara sehat.

  • Mama dan Papa disarankan menenangkan diri saat emosi memuncak, memberi penjelasan setelah konflik, serta menegaskan kasih sayang agar anak tetap merasa aman meski melihat perdebatan terjadi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Melihat Mama dan Papa berselisih paham terkadang membuat anak merasa dunianya sedang tidak aman. 

Tanpa sadar, ketegangan emosional yang terjadi di antara Mama dan Papa akan diserap sepenuhnya oleh anak, karena bagi mereka, Mama dan Papa adalah satu kesatuan sistem emosional yang menjadi fondasi rasa aman mereka.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal penting mengenai dampak konflik orangtua bagi mental anak!

1. Kritik antar orangtua dianggap sebagai ancaman

Pexels/Afif Rhamdasuma

Saat Mama mengkritik Papa atau sebaliknya di depan anak, otak anak tidak hanya mendengar sebuah argumen biasa. Bagi mereka, Mama dan Papa bukan sekadar dua orang yang berbeda, melainkan seluruh dunia mereka. 

Ketika salah satu pihak diserang, otak anak melihatnya sebagai ancaman terhadap identitas dirinya sendiri. Mereka belum bisa memisahkan peran orangtua secara objektif, sehingga konflik yang terjadi terasa sangat personal bagi mereka. 

Hal ini memicu respon stres dalam tubuh anak meskipun kemarahan tersebut tidak ditujukan langsung kepadanya. Rasa aman yang seharusnya ia dapatkan di rumah seketika berubah menjadi ketegangan yang membingungkan bagi perkembangan emosionalnya.

2. Kebingungan identitas yang picu rasa rendah diri

Pexels/Jack

Anak-anak membangun identitas diri mereka dari Mama dan Papa secara bersamaan.

Saat Mama melontarkan kritik tajam kepada Papa, anak mungkin akan berpikir, "Kalau ada bagian dari Papa yang salah, apakah itu berarti ada bagian dari diriku yang salah juga?" 

Inilah awal mula terbentuknya keraguan diri dan rendah diri pada anak. Kritik antar orangtua tidak hanya berhenti pada pasangan, tapi dianggap anak sebagai penilaian terhadap separuh dirinya. 

Tanpa sadar, anak memikul beban emosional untuk mencintai kedua orangtuanya sekaligus merasa bersalah saat salah satu pihak direndahkan. Hal ini menciptakan konflik batin yang sulit ia selesaikan sendiri di usianya yang masih sangat belia.

3. Ketegangan emosional yang diserap oleh anak

Pexels/Kampus Production

Anak sebenarnya belum memiliki kemampuan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di antara orangtuanya. Alhasil, alih-alih melepaskannya, mereka justru menyerap seluruh ketegangan tersebut ke dalam diri mereka sendiri. 

Terjadi dilema yang menyakitkan, ia mencintai Mama dan Papa, tapi ia melihat orang yang ia cintai saling menyakiti.

Paparan berulang terhadap dinamika ini dalam jangka panjang sering dikaitkan dengan munculnya rasa cemas yang meningkat, harga diri yang rendah, hingga pola people-pleasing di masa depan. 

Anak belajar untuk selalu "menjaga perasaan" orang lain demi menghindari konflik, yang justru bisa membuatnya kehilangan jati diri dan rasa aman dalam hubungan.

4. Konflik tidak selalu buruk jika ditangani dengan sehat

Pexels/cottonbro studio

Mama perlu tahu bahwa konflik itu sendiri sebenarnya tidak selalu berbahaya bagi anak. Jika konflik ditangani dengan baik, hal tersebut justru bisa menjadi pelajaran komunikasi yang sangat sehat bagi anak. 

Yang terpenting bukanlah ketiadaan masalah, melainkan adanya rasa hormat, keamanan emosional, dan apa yang dilakukan setelah konflik berakhir. Anak belajar meregulasi emosi justru dengan memperhatikan bagaimana Mama dan Papa mengelola kemarahan. 

Ketika mereka melihat Mama dan Papa bisa berdiskusi tanpa saling menyerang karakter, mereka belajar bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan bisa diselesaikan dengan kepala dingin tanpa harus merusak ikatan kasih sayang.

5. Cara mengontrol diri saat emosi mulai memuncak

Pexels/Timun Weber

Yang bisa Mama dan Papa lakukan saat emosi memuncak dan ada anak adalah:

  • Cobalah untuk mengambil jeda sejenak sebelum bereaksi karena nada suara sangat menentukan segalanya. 

  • Hindari menyalahkan atau menyerang karakter pasangan.

  • Jangan ragu untuk menjauh sejenak jika suasana sudah terlalu panas. 

  • Mama bisa mencoba mengganti kalimat kritikan dengan komunikasi yang lebih konstruktif. Misalnya, daripada bilang "Papa nggak pernah bantu!", lebih baik katakan "Nanti kita bahas ini lagi ya." 

Yang penting adalah nada suara. Dengan menurunkan nada suara dan menghindari serangan personal, Mama sedang memberikan contoh nyata kepada anak tentang cara mengendalikan diri. 

Anak akan meniru cara Mama mengelola stres dan tetap tenang meskipun sedang dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

6. Pentingnya memberi penjelasan pada anak setelah konflik

Pexels/www.kaboompics.com

Jika tanpa sengaja anak menyaksikan Mama dan Papa bertengkar, jangan biarkan ia terjebak dalam kebingungannya sendiri. Cobalah untuk mendekati anak dan berikan penjelasan yang menenangkan agar ia tidak merasa bersalah. 

Mama bisa mengatakan, "Kamu mungkin dengar Mama dan Papa tadi bicara keras, tapi itu bukan karena kamu kok. Kita berdua sayang kamu dan sayang satu sama lain juga." 

Katakan bahwa Mama dan Papa sedang belajar untuk menangani masalah dengan lebih baik lagi.

Penjelasan sederhana ini sangat krusial untuk mengembalikan rasa aman anak dan meyakinkannya bahwa konflik tersebut tidak mengubah kasih sayang Mama dan Papa kepadanya sedikit pun.

7. Anak tidak butuh orangtua sempurna

Pexels/MART PRODUCTION

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orangtua yang sempurna dan tidak pernah berselisih paham.

Yang paling mereka butuhkan adalah merasa aman dalam hubungan Mama dan Papa, merasa aman dengan siapa diri mereka, serta merasa utuh tanpa harus memihak salah satu di antara kalian. 

Pastikan anak tidak merasa terbagi atau harus memilih kubu saat terjadi perbedaan pendapat di rumah. Dengan menciptakan lingkungan yang penuh empati dan keterbukaan, Mama membantu anak tumbuh dengan kesehatan mental yang stabil. 

Fokuslah pada cara membangun kembali koneksi setelah konflik, karena bagi anak, melihat Mama dan Papa berdamai jauh lebih menenangkan daripada sekadar melihat mereka berpura-pura selalu akur.

Setelah mengetahui bahwa anak cenderung menyerap emosi orangtuanya, hal kecil apa yang ingin Mama ubah dalam cara berkomunikasi dengan Papa agar anak tetap merasa aman di rumah?

Editorial Team