Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Fase Penting Anak Usia 6–10 yang Sekilas Terlihat Tenang
Pexels/GustavoFring
  • Usia 6–10 tahun bukan fase tenang, melainkan masa pembentukan keyakinan diri dan identitas anak yang sangat memengaruhi kepercayaan diri di masa depan.
  • Anak mulai belajar memahami perbedaan sosial, membangun pertemanan, menahan emosi di luar rumah, serta mengembangkan suara batin yang dipengaruhi cara bicara orangtua.
  • Peran orangtua penting untuk mendampingi dengan empati, memberi ruang kemandirian, dan menumbuhkan rasa aman agar anak tumbuh percaya diri serta mengenal dirinya dengan baik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orangtua mengira usia 6–10 tahun adalah fase yang “aman” karena anak sudah melewati masa balita, tetapi belum masuk masa remaja. Padahal, di fase ini justru banyak perubahan penting yang sering tidak disadari.

Dilansir dari Instagram @duniaparentingdotid, di usia ini anak sedang membentuk core beliefs atau keyakinan dasar tentang dirinya. Mereka mulai bertanya dalam hati, “Siapa aku?” dan “Seberapa berharganya aku?” Proses ini akan sangat memengaruhi kepercayaan diri mereka di masa depan.

Berikut Popmama.com rangkum 7 fase anak usia 6–10 tahun yang sering luput dari perhatian orangtua.

1. Anak mulai membandingkan dirinya dengan orang lain

pexels/Oliadanilevich

Di fase ini, anak mulai sadar bahwa dunia tidak hanya tentang dirinya. Mereka mulai melihat perbedaan antara “aku” dan “orang lain”.

Hal ini membuat anak sering membandingkan diri, baik dari segi kemampuan, penampilan, maupun pencapaian.

Tips untuk orangtua:

Hindari membandingkan anak dengan orang lain. Sebaliknya, bantu anak menerima dirinya apa adanya, meskipun tidak selalu menonjol.

2. Anak belajar berteman, sekaligus belajar kecewa

pexels/KampusProduction

Anak mulai mengenal konsep pertemanan yang lebih kompleks, seperti siapa yang populer, pintar, atau lucu. Mereka juga mulai mencari “tempat” dalam lingkungan sosialnya.

Di fase ini, anak juga mulai merasakan penolakan atau kekecewaan dalam berteman.

Tips untuk orangtua:

Dukung anak untuk tetap menjadi dirinya sendiri, tanpa harus mengikuti standar orang lain agar diterima.

3. Menahan emosi di luar, tapi meledak di rumah

Pinterest.com/Universaliconic

Sepanjang hari di sekolah, anak berusaha bersikap baik dan menahan emosinya. Namun saat sampai di rumah, mereka bisa tiba-tiba marah atau menangis.

Hal ini sering terjadi karena rumah menjadi safe space bagi anak untuk meluapkan perasaan.

Tips untuk orangtua:

Rangkul dan validasi emosi anak. Tunjukkan bahwa perasaan mereka diterima, bukan dihakimi.

4. Munculnya “suara” di dalam kepala anak

pexels/Vikaglitter

Anak mulai memiliki inner voice atau suara batin yang menilai dirinya sendiri. Menariknya, suara ini sering kali terbentuk dari cara orangtua berbicara kepada mereka.

Karena itu, kata-kata dan nada bicara Mama sangat berpengaruh.

Tips untuk orangtua:

Gunakan bahasa yang membangun dan penuh empati saat menegur anak.

5. Ingin mandiri, tapi masih butuh rasa aman

pexels/TanyaGorelova

Di satu sisi, anak ingin mencoba melakukan banyak hal sendiri. Namun di sisi lain, mereka tetap membutuhkan kehadiran dan dukungan orangtua.

Jika tidak seimbang, anak bisa merasa ditolak atau justru terlalu dikontrol.

Tips untuk orangtua:

Berikan ruang untuk mandiri, tetapi tetap hadir sebagai tempat mereka kembali.

6. Anak mulai mencari makna dari pengalaman sosialnya

Pexels/AbdelRahmanAbuBaker

Di usia ini, anak mulai mencoba memahami situasi sosial di sekitarnya. Mereka belajar membaca sikap teman, memahami maksud ucapan orang lain, dan menafsirkan pengalaman yang mereka alami.

Tips untuk orangtua:

Ajak anak berdiskusi. Misalnya dengan bertanya, “Menurut kamu, kenapa temanmu bilang begitu?” atau berbagi pengalaman Mama di usia mereka agar anak merasa tidak sendirian.

7. Anak semakin sensitif terhadap penilaian orang lain

pexels/MikhailNilov

Anak mulai lebih peduli terhadap apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Mereka bisa merasa malu, takut salah, atau khawatir tidak diterima.

Ini adalah bagian dari proses pembentukan identitas diri.

Tips untuk orangtua:

Yakinkan anak bahwa mereka tetap berharga, terlepas dari penilaian orang lain. Ingatkan juga bahwa tidak harus disukai semua orang, dan tidak apa-apa mencari lingkungan yang lebih cocok.

Fase usia 6–10 tahun mungkin terlihat “tenang” dari luar, tetapi sebenarnya penuh proses penting dalam pembentukan diri anak. Di sinilah peran orangtua menjadi sangat krusial untuk mendampingi, mendengarkan, dan memberikan rasa aman.

Karena pada akhirnya, bukan hanya soal anak menjadi pintar atau berprestasi, tetapi bagaimana mereka bisa tumbuh dengan rasa percaya diri dan mengenal dirinya dengan baik.

Editorial Team