Waspadai, Begini 5 Dampak Negatif Anak Terlalu Sering Nonton TV

Membiarkan anak menonton TV terlalu sering setiap hari hanya akan memberikan bahaya dan dampak buruk

4 Agustus 2020

Waspadai, Begini 5 Dampak Negatif Anak Terlalu Sering Nonton TV
Pixabay/Victoria_Borodinova

Televisi termasuk gadget yang cukup dekat dengan keseharian, termasuk anak. Padahal anak-anak yang menonton TV terlalu sering setiap hari hanya akan memberikan dampak buruk terhadap perkembangannya di masa depan. 

Terlebih lagi ketika anak menonton TV tanpa pendampingan dari orangtua, sehingga mereka bisa bebas menonton berbagai tontonan sesuka hati mereka.

Jika Mama ingin mengetahui bahaya dan dampak negatif dari anak-anak yang sering menonton TV terlalu sering, kali ini Popmama.com telah merangkumnya.

Hati-hati terhadap dampak negatifnya untuk perkembangan anak ya, Ma!

1. Memicu risiko mengalami gangguan tidur

1. Memicu risiko mengalami gangguan tidur
Pixabay/Teresalunt

Salah satu dampak negatif dari anak-anak yang terlalu sering menonton TV yakni dapat memicu gangguan tidur. 

Perlu diketahui bahwa blue screen yang dipancarkan oleh layar TV dapat mengganggu persiapan tubuh saat sudah waktunya tidur. Selain itu, anak-anak belum bisa membedakan berbagai konten yang ditonton. 

Kesulitan tidur atau mimpi buruk bisa muncul sewaktu-waktu di malam hari. Ini dipicu karena anak-anak masih belum dapat membedakan antara kenyataan serta fantasi dari tontonannya tersebut. 

Gambaran menyeramkan yang ditonton oleh anak, seperti film-film berbau monster atau cukup dekat dengan kekerasan dapat membuatnya takut. 

Tak hanya memicu mimpi buruk saja, anak-anak yang menonton TV terlalu sering dapat membuat pola tidurnya berubah.

Editors' Picks

2. Masih cenderung langsung menirukan tontonan yang dilihatnya 

2. Masih cenderung langsung menirukan tontonan dilihatnya 
thethreeseas.com.au

Orangtua perlu waspada bahwa dampak negatif lain yang bisa dirasakan oleh anak-anak saat sering menonton TV yakni lebih cenderung meniru. 

Anak mama cenderung langsung ingin mengikuti apa yang terjadi di dalam tontonan tersebut tanpa mengetahui baik atau buruk. Sebelum anak-anak terpapar konten negatif yang bersumber dari TV, maka ada baiknya orangtua tetap memberikan pendampingan.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2014 diketahui bahwa di pasal 32 ada informasi mengenai penggolongan usia, sehingga orangtua dapat mengetahui kategori atau rating sebuah film. 

Berikut penggolongan usia rating film di Indonesia, antara lain: 

  • SU artinya Semua Umur
  • 13+ artinya film dapat ditonton oleh anak dengan usia 13 tahun atau lebih  
  • 17+ artinya film dapat ditonton oleh anak dengan usia 17 tahun atau lebih  
  • 21+ artinya film dapat ditonton oleh anak dengan usia 21 tahun atau lebih

3. Meningkatkan risiko kenaikan berat badan 

3. Meningkatkan risiko kenaikan berat badan 
Freepik

Risiko kenaikan berat badan bisa muncul ketika anak-anak terlalu sering menonton TV lebih dari empat jam setiap harinya. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health di Boston, Amerika Serikat menyatakan bahwa anak-anak memang cenderung mengalami obesitas. Ketika menonton TV setiap satu jam secara rutin akan meningkatkan berat badannya sebesar 0,23 kg.

Ketika terus menantap layar TV dan menonton berbagai film favoritnya, maka tanpa disadari anak-anak menjadi kurang aktif bergerak. Tak jarang, si Anak juga cenderung untuk lebih banyak mengonsumsi camilan. 

Demi menghindari dampak buruk ini, ada baiknya untuk mengajak anak bermain bersama agar tidak terus menonton TV. 

4. Memengaruhi pembentukan karakter anak

4. Memengaruhi pembentukan karakter anak
Freepik

Ma, perlu dipahami bahwa pembentukan karakter anak bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tontonan TV pun dapat memiliki dampak tersendiri terhadap karakter anak. 

Walau channel yang diberikan sebagai tontonan anak terbilang aman dan sesuai usianya, namun orangtua tetap perlu mendampingi. Dengan begitu, anak bisa memahami setiap karakter yang ada di dalam tontonan termasuk antara sifat baik atau buruk. 

Bukan tidak mungkin kalau karakter penjahat yang ada di dalam tontonan anak justru menarik perhatiannya. Jangan heran jika keesokan harinya, anak memiliki keinginan untuk menjadi seorang penjahat. 

5. Anak menjadi ketergantungan dan enggan melakukan sosialisasi 

5. Anak menjadi ketergantungan enggan melakukan sosialisasi 
Pixabay/mojzagrebinfo

Seiring bertambahnya usia anak, mereka akan tumbuh menjadi makhluk sosial yang senang melakukan sosialisasi. 

Hanya saja, momen bersosialisasi rasanya tidak mungkin terjadi dengan maksimal ketika anak terlalu sering menonton TV. Demi menciptakan pembentukan karakter yang baik, alangkah baiknya untuk mematikan televisi dalam rentang waktu tertentu. 

Ini membantu agar fokus anak mama tidak selalu tertuju pada tontonan di televisi. Saat sudah tidak lagi mengalami ketergantungan, maka ajak anak bersosialisasi dengan anggota keluarga di rumah. 

Nah, itulah beberapa dampak negatif yang bisa ditimbulkan karena terlalu sering menonton TV. Diharapkan permasalahan ini bisa diatasi dengan baik agar perkembangan anak ke depannya dapat lebih maksimal. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.