Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Hal yang Diingat Anak Usia 6-9 Tahun dari Mama dan Papa
Pexels/Teja J
  • Anak usia 6-9 tahun mulai membentuk memori naratif yang berpengaruh pada identitas dan harga diri, terutama dari pengalaman emosional bersama Mama dan Papa di kehidupan sehari-hari.

  • Janji yang ditepati, cara Mama dan Papa bersikap di depan teman anak, serta waktu mendengarkan tanpa menghakimi menjadi kenangan kuat yang menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan diri anak.

  • Tradisi keluarga, keteladanan menghadapi stres, keberanian meminta maaf, dan dukungan terhadap minat anak membangun fondasi karakter positif serta hubungan emosional yang hangat hingga dewasa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Beralih ke usia sekolah dasar, memori anak mulai terbentuk secara lebih kognitif dan naratif. 

Memori yang mereka simpan bukan lagi sekadar sensorik, melainkan momen-momen yang membangun identitas dan harga diri mereka di tengah lingkungan sosial yang lebih luas.  

Mereka mulai merekam momen yang membentuk identitas diri dan prinsip hidupnya hingga dewasa kelak.

Berikut Popmama.com rangkum 7 hal yang diingat anak selamanya dari Mama dan Papa!

1. Ketika Mama dan Papa menepati atau ingkar janji

Pexels/Marcelo Chagas

Anak usia sekolah sudah paham betul konsep janji. Ia akan mengingat dengan sangat detail momen ketika Mama menjanjikan sesuatu dan apakah Mama menepatinya. 

Bagi anak, janji yang ditepati adalah bukti bahwa ia bisa mempercayai dunia, sementara janji yang diingkari berulang kali akan terekam sebagai luka kecil yang membuatnya ragu akan kasih sayang Mama dan Papa. 

Ia akan selalu mengingat rasa senang saat Mama mengutamakan janji tersebut di tengah kesibukan, yang membangun rasa aman bahwa ia adalah prioritas yang berharga. 

Sebaliknya, memori tentang janji yang terlupakan akan membuatnya belajar untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi di masa depan sebagai bentuk perlindungan diri.

2. Cara Mama bersikap di depan teman-temannya

Pexels/Salih Sezgen

Anak usia sekolah mulai peduli dengan citra sosial dan rasa bangga di depan teman-temannya.

Ia akan mengingat selamanya bagaimana cara Mama menyapa teman-temannya atau bersikap saat menjemputnya di sekolah. 

Jika Mama bersikap ramah dan membuat anak merasa bangga, memori itu akan membangun kepercayaan dirinya secara sosial.

Namun, jika anak merasa dipermalukan, misalnya ditegur dengan keras di depan teman sebaya, memori rasa malu itu bisa bertahan hingga dewasa. 

Dukungan Mama terhadap kehidupan sosialnya adalah bentuk pengakuan bahwa dunianya di luar rumah juga penting. Ia akan selalu mengenang momen saat Mama menjadi pendukung utama yang membuatnya merasa hebat di mata lingkungan sekitarnya.

3. Waktu mendengar curhat tanpa dihakimi

Pexels/Ketut Subiyanto

Anak usia 6-9 tahun mulai memiliki rahasia atau kecemasan di sekolah. Memori yang paling membekas adalah saat Mama meluangkan waktu khusus untuk mendengarkan ceritanya tanpa langsung memberi ceramah atau kritikan. 

Ia akan ingat bagaimana rasanya memiliki seseorang yang benar-benar berada di pihaknya saat ia merasa dunia tidak adil.

Momen sederhana seperti mengobrol sebelum tidur menjadi sangat berharga. Jika anak merasa didengarkan, ia akan merekam Mama sebagai sosok tempat curhat yang aman selamanya. 

Kehadiran emosional Mama yang tenang saat ia sedang bingung adalah hadiah memori yang akan membuatnya selalu kembali pada Mama saat ia menghadapi masalah besar nanti ketika ia beranjak remaja.

4. Tradisi keluarga yang unik dan hanya ada di rumah

Pexels/Ron Lach

Anak usia ini mulai mencari identitas diri melalui keluarganya. Ia akan sangat mengingat tradisi unik yang Mama bangun, seperti malam menonton film bersama setiap Jumat atau cara unik Mama merayakan nilai ujiannya. 

Memori tentang tradisi ini bukan soal kemewahannya, tapi soal rasa kebersamaan. Hal-hal yang hanya dilakukan di rumah Mama dan Papa akan menjadi identitas yang ia banggakan dan mungkin akan ia teruskan saat ia memiliki keluarga sendiri nanti. 

Tradisi memberikan anak rasa memiliki yang kuat, sehingga ia merasa menjadi bagian dari sesuatu yang spesial. Memori kehangatan tradisi inilah yang akan membuatnya selalu merindukan rumah meski ia sudah beranjak dewasa dan tinggal berjauhan kelak.

5. Cara Mama menangani stres dan tekanan hidup

Pexels/Keira Burton

Anak akan mengingat selamanya apakah Mama menghadapi masalah dengan ketenangan atau dengan amarah yang meluap. 

Memori tentang cara Mama bangkit dari kesulitan atau tetap tenang saat ada masalah di rumah akan menjadi acuan bagi anak dalam menghadapi masalahnya sendiri. 

Jika anak melihat Mama bisa mengelola stres dengan bijak, ia akan belajar tentang pantang menyerah. Sebaliknya, memori tentang ketegangan yang konstan di rumah akan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang selalu waspada. 

Cara Mama menjaga kedamaian hati di depan anak adalah pelajaran karakter paling nyata yang akan ia simpan rapat sebagai panduan hidupnya.

6. Momen saat Mama meminta maaf karena salah

Pexels/Kampus Production

Salah satu memori paling kuat bagi anak usia sekolah adalah ketika Mama atau Papa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepadanya. 

Di usia ini, anak mulai belajar tentang keadilan. Saat Mama berkata, "Maaf ya, tadi Mama terlalu keras menegurmu," anak akan merekam bahwa orang dewasa pun bisa salah dan tanggung jawab adalah hal yang utama. 

Memori ini akan membuatnya merasa sangat dihargai sebagai manusia. Tindakan meminta maaf ini justru akan meningkatkan rasa hormat anak kepada Mama, bukan sebaliknya. 

Ia akan selalu mengingat bahwa Mama adalah sosok yang adil dan rendah hati, yang kemudian akan ia contoh dalam hubungannya dengan orang lain di masa depan saat ia melakukan kesalahan yang sama.

7. Dukungan Mama pada minat yang berbeda dari ekspektasi

Pexels/RDNE Stock Project

Anak usia 6-9 tahun mulai menunjukkan minat yang spesifik, yang terkadang berbeda dengan keinginan Mama. Ia akan mengingat selamanya bagaimana reaksi Mama saat ia ingin belajar hal baru yang mungkin Mama anggap sepele. 

Dukungan Mama, seperti membelikan peralatan gambarnya atau menontonnya berlatih bola, akan terekam sebagai bentuk penerimaan jati diri. Anak akan merasa bahwa ia dicintai karena dirinya sendiri, bukan karena ia memenuhi keinginan Mama dan Papa. 

Memori tentang dukungan tanpa syarat pada minatnya ini adalah kunci utama bagi anak untuk berani menjadi dirinya sendiri di masa depan. Ia akan selalu mengenang Mama sebagai orang yang memberinya sayap untuk terbang mengejar mimpinya tanpa rasa takut.

Membangun memori di fase ini memang butuh kepekaan lebih terhadap harga diri anak ya, Ma. Karena di sinilah karakter dan pandangan dunianya mulai terbentuk secara permanen.

Menurut Mama, dari ketujuh hal di atas, mana yang kira-kira paling membekas bagi anak Mama saat ini?

Editorial Team