Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak perempuan terlihat takut dan mengintip di balik pintu
Freepik

Intinya sih...

  • Menertawakan anak menangis mengajarkan pesan keliru tentang perasaan.

  • Candaan tentang penampilan fisik dapat membentuk citra diri yang negatif jangka panjang.

  • Mengejek kepribadian anak dapat merusak harga diri dan hubungan sosial mereka.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam banyak keluarga, candaan sering dianggap sebagai cara ringan untuk mendekatkan diri. Namun pada anak, terutama di usia tumbuh kembang, batas antara bercanda dan meremehkan sering kali sangat tipis. Apa yang menurut orang dewasa lucu atau sepele, bisa diterima anak sebagai kebenaran tentang dirinya.

Berbagai riset perkembangan anak menunjukkan bahwa komentar berulang dari figur terdekat memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan harga diri, rasa aman, dan cara anak memandang dunia. Karena itu, penting bagi orangtua dan orang dewasa di sekitar anak untuk lebih sadar terhadap hal-hal yang sebaiknya tidak dijadikan bahan olok-olok, meskipun dengan niat bercanda.

Popmama.com akan mengulas 9 hal yang tak seharusnya jadi bahan candaan pada anak!

1. Perasaan mereka

Freepik

Menertawakan anak karena menangis, marah, atau terlihat sensitif mengajarkan pesan keliru bahwa perasaan tertentu tidak boleh dirasakan. Anak bisa belajar menekan emosi atau merasa bersalah ketika sedih dan kecewa.

Padahal, kemampuan mengenali dan mengelola emosi adalah dasar kesehatan mental. Ketika perasaan anak diterima, mereka belajar bahwa emosi adalah sesuatu yang wajar dan bisa diungkapkan dengan cara yang sehat.

2. Penampilan ifisik

Freepik/8photo

Candaan tentang tubuh, tinggi badan, warna kulit, rambut, atau fitur wajah anak dapat membentuk citra diri yang negatif. Anak cenderung mempercayai penilaian orang dewasa sebagai fakta, bukan opini.

Komentar kecil yang berulang bisa berkembang menjadi rasa tidak percaya diri, kecemasan sosial, bahkan gangguan citra tubuh di kemudian hari. Menghormati penampilan anak membantu mereka membangun hubungan yang lebih sehat dengan tubuhnya sendiri.

3. Kesalahan yang mereka buat

Freepik

Menjadikan kesalahan anak sebagai bahan ejekan dapat membuat mereka takut mencoba hal baru. Anak bisa belajar bahwa gagal adalah sesuatu yang memalukan, bukan bagian alami dari proses belajar.

Pendekatan yang lebih sehat adalah membantu anak memahami apa yang bisa diperbaiki, tanpa mempermalukan. Dengan begitu, mereka belajar tanggung jawab, refleksi diri, dan keberanian untuk mencoba kembali.

4. Hal-hal yang mereka sukai

Freepik

Ketertarikan anak pada mainan, buku, musik, atau aktivitas tertentu adalah bagian dari proses menemukan jati diri. Ketika hal-hal ini diejek, anak bisa merasa minatnya tidak valid atau tidak pantas.

Dalam jangka panjang, anak mungkin belajar menyembunyikan ketertarikan mereka atau berhenti mengekspresikan diri demi diterima lingkungan. Menghargai apa yang mereka sukai membantu anak merasa aman menjadi diri sendiri.

5. Teman-teman mereka

Freepik

Mengolok-olok pilihan teman anak dapat membuat mereka ragu pada penilaian sosialnya sendiri. Anak bisa merasa malu, bingung, atau terjebak antara loyalitas pada teman dan keinginan menyenangkan orang dewasa.

Hubungan pertemanan adalah ruang penting bagi anak untuk belajar empati, kompromi, dan batasan sosial. Dukungan orangtua dalam hal ini membantu anak membangun relasi yang sehat dan percaya diri.

6. Ketakutan mereka

Freepik/Kristina Chernavina

Ketakutan pada gelap, suara keras, hewan tertentu, atau situasi baru adalah hal yang umum pada anak. Menertawakan ketakutan justru dapat memperbesar kecemasan dan membuat anak merasa tidak dipahami.

Ketika ketakutan ditanggapi dengan empati, anak belajar bahwa rasa takut bisa dihadapi perlahan, bukan disangkal atau diejek. Ini menjadi dasar kemampuan mengelola stres di masa depan.

7. Jumlah makanan yang mereka konsumsi

Freepik

Candaan tentang anak yang makan terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat merusak hubungan mereka dengan makanan. Anak bisa mulai makan karena tekanan, bukan karena rasa lapar, atau sebaliknya menahan diri karena takut dinilai.

Pola makan yang sehat terbentuk dari lingkungan yang aman dan netral, bukan dari rasa malu. Sikap dewasa yang suportif membantu anak mendengarkan sinyal tubuhnya sendiri.

8. Kemampuan dan keterampilan mereka

Freepik

Mengejek anak karena dianggap kurang pintar, lambat, atau tidak berbakat dalam bidang tertentu bisa menurunkan motivasi belajar. Anak mungkin menarik kesimpulan bahwa usaha tidak ada gunanya karena hasilnya selalu dibandingkan atau direndahkan.

Setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. Ketika kemampuan mereka dihargai tanpa ejekan, anak lebih berani mencoba, berlatih, dan berkembang sesuai potensinya.

9. Kepribadian mereka

Freepik

Ada anak yang pendiam, ada yang aktif, ada yang sensitif, ada pula yang tegas. Menjadikan kepribadian sebagai bahan candaan mengirim pesan bahwa cara mereka menjadi diri sendiri adalah kesalahan.

Penerimaan terhadap kepribadian anak membantu mereka membangun identitas yang sehat. Anak yang merasa diterima apa adanya cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih stabil dan hubungan sosial yang lebih baik.

Candaan memang bisa mendekatkan, tetapi pada anak, kata-kata orang dewasa memiliki bobot yang besar. Maka, itulah 9 hal yang tak seharusnya jadi bahan candaan pada anak!

Editorial Team