Najelaa Shihab: Orangtua Merasa Sekolah Bukan Solusi

Orangtua sering mengandalkan sekolah untuk jaminan masa depan anaknya

1 Februari 2019

Najelaa Shihab Orangtua Merasa Sekolah Bukan Solusi
Popmama.com/Ihda nadaroh

Bukan hanya masalah kemiskinan, akses, pernikahan dini atau keterbatasan orangtua dalam menyekolahkan anaknya. Terkadang, anak putus sekolah juga disebabkan oleh cara pikir orangtua dan masyarakat yang menganggap sekolah bukanlah satu-satunya solusi.

Orangtua sering kali memberikan bekal kepada anaknya keterampilan yang tidak bisa didapatkan di sekolah. Sehingga sekolah tidak lagi menjadi pilihan bagi orangtua.

Dalam forum diskusi yang bertemakan "Gawat Darurat Pendidikan: Masihkah Susah Bersekolah?", Popmama.com berkesempatan mewawancarai Najelaa Shihab selaku pegiat pendidikan sekaligus Inisiator “Semua Murid Semua Guru” di Kolega Tebet, Jakarta pada Sabtu, (26/1).

Di kesempatan kali ini, Najelaa akan membagikan pendapatnya mengenai anak putus sekolah di Indonesia yang menyebabkan kondisi gawat darurat di dunia pendidikan.

Simak alasannya yuk, Ma!

1. Tidak selamanya pendidikan tinggi itu lebih baik

1. Tidak selama pendidikan tinggi itu lebih baik
pxhere.com

Terkadang ada juga orangtua yang menganggap meraih pendidikan tinggi bukanlah jalan terbaik untuk kesejaheraan hidup. Sehingga menurut data Dapodik Kemendikbud, angka anak putus sekolah tertinggi ada di jenjang SMK, yaitu sebanyak 73,000 siswa pada tahun ajaran 2017/2018.

Hal itu juga dibenarkan oleh Najelaa. "Karena data menunjukan, sekolah lebih tinggi belum tentu cepat mendapat pekerjaan juga. Kondisi di Indonesia, lulusan SD lebih cepat mendapat pekerjaan dibandingkan lulusan SMK gitu, dan SMA," kata Najelaa.

2. Masyarakat belum tentu bersalah

2. Masyarakat belum tentu bersalah
pxhere.com

Pola pikir soal lulus sekolah mendapat kerja bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat.

"Jadi nggak bisa cuma sekadar menyalahkan mereka (masyarakat). Kenyataan di lapangan mereka merasakan sekolah bukan solusi. Pekerjaan memang sulit dicari," tambah Najelaa.

Selain itu, pandangan masyarakat yang berbeda juga tidak bisa disalahkan. Mengingat, nyatanya sekolah bukanlah solusi dan tidak bisa menjadi prioritas utama bagi seluruh masyarakat Indonesia.  

Editors' Picks

3. Pentingnya pendidikan orangtua dan keluarga

3. Penting pendidikan orangtua keluarga
usda.gov

Sebagai seorang penggiat pendidikan, Najelaa mengungkapkan pentingnya latar belakang orangtua dan keluarga untuk menyadari manfaat pendidikan.

“Pada akhirnya saya melihatnya, pendidikan orangtua juga penting. Jadi kita nggak bisa cuma bicara. Kalau mau memperbaiki pendidikan berarti kita harus memperbaiki semua lahan. Kita juga harus melakukan pendidikan keluarga, untuk kemudian membuat orangtua itu makin sadar manfaat pendidikan,” jelas Najelaa kepada Popmama.com.

4. Standar sekolah yang belum sesuai dengan kebutuhan

4. Standar sekolah belum sesuai kebutuhan
pixnio.com

Masyarakat perkotaan, pedesaan, dan pelosok memiliki kebutuhan yang berbeda. Sehingga standar sekolah tidak bisa menjadi tolak ukur kebutuhan para siswa dan masyarakat untuk menunjang kehidupannya.

Najelaa mengatakan, “Jadi memang solusi sekolah formal yang standar itu bisa diterapkan, jangan-jangan salahnya kita selama ini karena mencoba menstandarkan padahal konsumsi masyarakatnya itu berbeda-beda.”

5. Regulasi yang menghambat

5. Regulasi menghambat
flickr.com/ wecometolearn

Menurut Najelaa cara mendapatkan pendidikan bisa bermacam-macam bukan hanya berasal dari pendidikan formal di sekolah saja.

Apalagi saat anak harus meninggalkan sekolah untuk memenuhi kewajibannya membantu orangtua, dan akhirnya anak tidak bisa lagi kembali ke sekolah karena peraturan-peraturan yang justru menghambat.  

Nah itulah Ma, pendapat Najelaa mengenai anak yang putus sekolah di indonesia yang semakin gawat darurat pendidikan.

Ternyata masih banyak masyarakat dan orangtua yang belum sadar manfaat pendidikan dan menjadikannya prioritas. Namun, mereka juga tidak sepenuhnya salah karena yang mengerti kebutuhan dan kebaikan anak adalah orangtuanya sendiri.

Baca juga:

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;