7 Cara Ajarkan Empati pada Anak untuk Cegah Bullying Sejak Dini

Empati tak hanya mencegah bullying, namun dapat membangun karakter anak yang penuh kasih sayang

21 Oktober 2021

7 Cara Ajarkan Empati Anak Cegah Bullying Sejak Dini
Freepik/photohobo

Kebaikan dan kasih sayang adalah kualitas yang diharapkan semua orangtua untuk ditanamkan pada anak mereka. Tetapi mencapai tujuan ini membutuhkan lebih dari sekadar meminta anak melakukan hal-hal baik untuk orang lain.

Ketika Mama ingin memiliki anak dengan kualitas tersebut, tanamkan rasa empati. Anak yang memiliki empati dapat melihat atau merasakan sesuatu dari sudut pandang orang lain dan memahami bagaimana perasaan mereka.

Empati juga komponen utama dari kecerdasan emosional. Dan jika diajarkan dengan benar, empati bisa sangat membantu dalam mencegah bullying. Lantas, bagaimana cara menanamkan empati pada anak?

Berikut Popmama.com akan membahas tujuh cara agar Mama dapat mengajari anak berempati dan mencegah bullying di masa depan.

1. Penuhi kebutuhan emosional anak

1. Penuhi kebutuhan emosional anak
Pexels/amber currin

Sangat sulit bagi anak-anak untuk memperlakukan orang lain dengan baik jika mereka tidak merasa dicintai. Salah satu alasan anak-anak menggertak orang lain adalah karena mereka tidak merasa baik tentang diri mereka sendiri atau mereka iri pada orang lain.

Orangtua tidak dapat mengharapkan anak-anak mereka untuk mencintai dan penuh kasih sayang jika mereka tidak diperlakukan dengan cinta dan kebaikan. Bahkan orangtua yang bermaksud baik membuat kesalahan dalam hal kebutuhan emosional anak.

Misalnya, menuntut nilai sempurna, mengharapkan keunggulan di berbagai bidang, atau bahkan mendorong anak untuk menjadi populer, ini dapat membuat anak merasa tidak mampu dan mengarah pada perilaku bullying.

Sebaliknya, rayakan siapa anak, kerja kerasnya, dan pencapaiannya, serta bekerja untuk membimbingnya menuju perilaku yang lebih baik. Juga berusaha untuk menanamkan ketahanan, harga diri, keterampilan sosial, dan ketegasan.

2. Bantu anak mengidentifikasi dan membagikan perasaannya

2. Bantu anak mengidentifikasi membagikan perasaannya
Pexels/ketut subiyanto

Ketika anak-anak memahami dan menyebutkan bagaimana perasaannya, mereka lebih siap untuk mengidentifikasi perasaan serupa pada orang lain.

Selain itu, beri kesempatan anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, bahkan yang negatif. Misalnya, dorong anak mama untuk memberi tahu ketika ia marah, sedih atau frustrasi, dan libatkan ia dalam percakapan.

Tujuannya agar anak belajar cara mengomunikasikan perasaannya dengan cara yang sehat tanpa amukan, kekerasan, atau intimidasi.

Editors' Picks

3. Mengajarkan anak pentingnya melihat situasi dari sudut pandang orang lain

3. Mengajarkan anak penting melihat situasi dari sudut pandang orang lain
Freepik/Pch.vector

Mengajari anak-anak untuk melihat suatu situasi dan memahami bagaimana hal itu dapat dialami dari sudut pandang orang lain adalah keterampilan hidup yang penting.

Misalnya, tanyakan kepada anak bagaimana pendapat anak ketika ia melihat anak seorang nenek yang membawa barang berat, atau bagaimana perasaan para korban bencana alam.

Anak yang pandai melihat sudut pandang lain cenderung memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Anak juga cenderung lebih berhasil karena mampu mengkaji masalah dari semua sudut pandang

Keterampilan ini juga bermanfaat dalam pencegahan bullying. Anak-anak yang dapat melihat sesuatu dari perspektif berbeda mungkin lebih memahami bagaimana perasaan siswa yang mendapatkan intimidasi.

4. Berikan contoh empati pada anak

4. Berikan contoh empati anak
Freepik/Rawpixel-com

Bicaralah dengan anak-anak tentang bagaimana perasaan orang lain dan mengapa Mama merespon seperti yang dilakukan.

Misalnya, mengapa Mama membantu para korban banjir dengan memberikan donasi atau mengapa Mama membantu membersihkan rumah nenek. Pastikan anak-anak melihat Mama melakukan hal-hal ini dan mereka tahu mengapa Mama melakukannya. 

Ketika anak-anak dapat mengenali situasi di mana orang lain mungkin merasa sedih atau terluka akibat menyaksikan tindakan bullying, mereka akan lebih siap untuk mengetahui apa yang harus dilakukan.

Anak juga akan tidak cenderung terlibat dalam perilaku menyakitkan seperti agresi, pemanggilan nama, dan bullying. 

5. Ajari anak untuk menemukan kesamaan

5. Ajari anak menemukan kesamaan
Pexels/Artem Podrez

Dilansir dari Very Well Family, sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak lebih cenderung merasa empati terhadap seseorang jika mereka dapat memahami bagaimana perasaan seseorang.

Misalnya ketika anak kehilangan kakek-nenek atau hewan peliharaannya, ia mungkin lebih berempati terhadap teman sekelasnya yang mengalami situasi serupa.

Demikian juga, jika anak mengalami intimidasi atau ditindas di dunia maya, ia cenderung mengetahui bagaimana perasaan korban lain. Ini akan mendatangkan rasa pemberdayaan pada anak-anak untuk mengubah sesuatu yang terjadi pada mereka, menjadi sesuatu yang positif.

7. Jelaskan bagaimana perilaku anak memengaruhi orang lain

7. Jelaskan bagaimana perilaku anak memengaruhi orang lain
Freepik/Pvproduction

Apakah anak seorang pengganggu, menyebarkan desas-desus dan gosip, atau hanya berjuang untuk bersikap baik, penting bagi Mama untuk membicarakan konsekuensi dari perilakunya.

Penting juga untuk mendorong anak untuk mempertimbangkan kondisi orang lain sebelum membuat keputusan atau perilaku buruk. 

Bahkan sesuatu yang sederhana seperti membuat nama temannya menjadi lelucon, dapat memengaruhinya dengan cara yang mungkin tidak disadari oleh anak mama. Seperti merasakan kesedihan hingga kurangnya harga diri.

7. Bantu anak membayangkan bagaimana perasaan orang lain

7. Bantu anak membayangkan bagaimana perasaan orang lain
Freepik/jcomp

Mengetahui bagaimana perasaan orang lain dalam situasi apa pun adalah inti dari empati. Carilah kesempatan untuk mengobrol bersama bagaimana perasaan orang lain. Meskipun penting untuk membagikan pemikiran Mama, tetap izinkan anak untuk berbicara juga.

Ajukan pertanyaan terbuka seperti, “Apa yang kamu lihat?” dan “Apa yang kamu ingin seseorang lakukan jika kamu berada dalam situasi itu?”

Ketika anak-anak meluangkan waktu untuk berhenti dan berpikir tentang bagaimana sesuatu berdampak pada perasaan orang lain, mereka lebih mungkin untuk mengambil sikap atau memberikan bantuan untuk seseorang yang ditindas.

Nah itulah beberapa cara yang dapat Mama lakukan untuk menanamkan rasa empati anak sebagai salah satu cara memerangi tindakan bullying di masa depan. Ingatlah bahwa berempati atau memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, lebih dari sekadar bersikap baik.

Anak-anak yang berempati memahami perasaan mereka dan menggunakannya untuk membuat keputusan. Pada akhirnya, menanamkan empati, tidak hanya mencegah bullying tetapi juga mempersiapkan anak-anak untuk sukses dalam hidup.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.