Perhatikan, 5 Hal yang Tak Boleh Orangtua Paksakan pada Anak

Meski tujuannya baik, memaksakan anak justru bisa menimbulkan dampak negatif lho!

12 Januari 2022

Perhatikan, 5 Hal Tak Boleh Orangtua Paksakan Anak
Freepik/Bearfotos

Setiap orangtua tentu bertanggung jawab terhadap mendidik anak-anaknya. Bimbingan yang telah diberikan sejak usia dini seringkali membuat orangtua menetapkan ekspektasi atau harapan pada anak-anaknya.

Meskipun harapan ini juga demi kebaikan anak, tak jarang terkadang hal ini membuat orangtua jadi terlalu menuntut anak terlalu banyak, yang justru membuatnya merasa terbebani dan terpaksa untuk menjalaninya hanya demi menuruti keinginan orangtua. 

Karena jika dilakukan terus menerus, anak bisa terkena dampaknya. Seperti kurangnya harga diri, tidak menikmati proses yang dijalani, hingga berujung pada stres dan depresi.

Kira-kira apa sajakah hal yang tak boleh orangtua paksakan pada anak? Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa diantaranya, di bawah ini!

1. Selalu menjadi yang paling unggul di sekolah

1. Selalu menjadi paling unggul sekolah
Freepik/gpointstudio

Tentu semua orangtua ingin anak-anak mereka unggul dan mendapat nilai yang bagus di sekolah. Bagi banyak orangtua ini adalah sesuatu yang bisa dibanggakan pada teman dan kerabat.

Namun, perlu diingat bahwa anak-anak memiliki cara berbeda dalam merespons pendidikan, sama seperti bagaimana anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam cara belajar. Sehingga menuntut anak untuk selalu jadi yang terbaik di kelasnya, bukanlah hal yang tepat.

Bahkan, orang-orang jenius, seperti Albert Einstein dan Thomas Edison bukanlah tokoh yang brilian sejak kanak-kanak. 

Alih-alih menuntut anak untuk selalu unggul di kelas, bantulah anak untuk belajar dan perhatikan di pelajaran mana anak menunjukkan potensi yang kuat.

Editors' Picks

2. Merubah perilakunya dengan cepat

2. Merubah perilaku cepat
Freepik

Saat anak melakukan sesuatu yang membuat kesal, Mama mungkin akan langsung berbicara pada anak bahwa ingin mereka segera memperbaiki perilaku.

Meski ini bertujuan untuk membuat anak belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik, tetapi ingatlah bahwa akan sulit bagi anak untuk langsung mengubah perilaku secara cepat, apalagi dalam waktu beberapa jam.

Memberikan konsekuensi hanya dapat dilakukan untuk memberi tahu bahwa sikap yang dilakukannya salah, bukan semata-mata untuk secara instan mengubah perilaku. Hindari berharap peningkatan terjadi dengan cepat dan tiba-tiba.

Perubahan bisa bertahap dan membutuhkan bimbingan orangtua. Penting juga bagi Mama untuk memerhatikan ketika sikap anak menjadi lebih baik, berikan apresiasi dan pujian agar ia merasa termotivasi untuk selalu melakukan hal yang lebih baik.

3. Mengharapkan anak bisa seperti anak-anak lain

3. Mengharapkan anak bisa seperti anak-anak lain
Pexels/Monstera

Baik sadar atau tidak, seringkali orangtua membandingkan anak mereka dengan anak-anak lain. Meskipun ini dianggap sebagai hal yang normal dan untuk memotivasi anak agar lebih baik lagi, tetapi mengucapkannya bisa sangat merugikan anak.

Ketika Mama membandingkan atau berharap anak bisa seperti anak lain, artinya Mama sedang mengirimkan pesan bahwa ia tidak cukup baik. Ini juga memberi tahu anak bahwa ia harus bercita-cita menjadi seperti orang lain.

Alih-alih meminta anak bisa menjadi seperti anak lain, sebagai gantinya Mama dapat mengajarkan anak agar ia bisa berkembang menjadi dirinya sendiri dengan versi yang lebih baik. Selain itu, fokuslah pada kekuatan dan kelemahan anak, bukan pada seberapa baik atau buruk kinerja teman-temannya.

4. Harus ramah dan ceria saat berinteraksi dengan orang lain

4. Harus ramah ceria saat berinteraksi orang lain
Freepik/peoplecreations

Apakah Mama memiliki anak yang pemalu? Anak yang pemalu seringkali sulit berinteraksi dengan orang yang dianggap asing baginya. Hal ini terkadang membuat orangtua merasa gelisah bahkan kesal ketika anak tampak murung, merajuk, dan menjadi pendiam.

Pemikiran bahwa anak harus selalu ramah dan ceria ini, muncul ketika orangtua ingin terlihat bagaimana pengasuhannya berhasil dalam mendidik anak di hadapan orang lain. Padahal yang sebenarnya, perubahan suasana hati adalah bagian alami dari sifat manusia.

Jadi, hindari menuntut anak untuk selalu bersikap ramah dan ceria ya Ma, karena perasaan malu atau tidak nyaman saat bertemu dengan orang baru itu wajar bagi anak-anak.

5. Menganggap bahwa pendapat orangtua yang selalu benar

5. Menganggap bahwa pendapat orangtua selalu benar
Freepik/master1305

Tak dapat dipungkiri bahwa bimbingan orangtua berdasarkan pengalaman dan pelajaran hidup yang telah dilewati selama ini. Namun, perlu diingat bahwa anak-anak, khususnya yang lebih besar, juga memiliki pemikiran dan pendapatnya sendiri.

Jika anak tidak diberikan kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya sendiri, ini bisa berdampak pada masa depannya. Ia mungkin tidak berani menyampaikan ide-ide kreatifnya, rentan terhadap kritikan, dan mengembangkan kepemimpinan yang buruk.

Sebelum memaksakan pendapat Mama, tanyakanlah bagaimana pendapat anak. Jika pendapatnya adalah sesuatu yang positif dan memberikan kesempatan baik, berikan dukungan padanya.

Namun ketika merasa bahwa pemikiran anak kurang tepat, Mama bisa menjelaskan mengapa pikirannya tersebut bukan hal yang benar. Berikan beberapa contoh kasus dari buku atau pengalaman hidup sehari-hari.

Nah itulah beberapa hal yang tak boleh orangtua paksakan pada anak. Memang terkadang, orangtua memaksakan sesuatu demi kebaikan sang anak sendiri. Namun, ingatlah bahwa anak juga memiliki pemikiran, minat, dan mimpinya sendiri.

Sebagai orangtua, Mama bisa memberikan dukungan, sambil mengawasi apa yang anak lakukan, dan memberikan bimbingan ketika anak membutuhkannya.

Baca juga:

Topic:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.