7 Hal yang Tidak Boleh Mama Lakukan saat Anak Mengatakan Perasaannya

Kira-kira apa yang membuat anak enggan berbicara dengan Mama?

22 Mei 2021

7 Hal Tidak Boleh Mama Lakukan saat Anak Mengatakan Perasaannya
Freepik/Zinkevych

Dalam budaya kita, kita sering bertanya satu sama lain, "Apa kabar?", dan kita juga begitu sering memberikan jawaban singkat seperti, "Saya baik-baik saja” atau “Saya sibuk".

Sebagai orangtua, Mama perlu ingin tahu bagaimana kabar dan perasaan anak, kan? Perasaan anak adalah jendela bagi jiwanya yang terdalam. Sulit untuk memiliki hubungan yang mendalam dengan anak jika ia tidak membicarakan perasaanya.

Jadi bagaimana Mama dapat membuat anak-anak terutama yang enggan, untuk berbicara tentang perasaan mereka?

Atau bagaimana jika tinggal dengan seorang anak yang sering berhenti berbicara dengan Mama, bagaimana dapat mendorong anak untuk terbuka?

Bukan dengan memaksa, berikut ini Popmama.com akan memberikan tujuh hal yang perlu dihindari ketika anak membicarakan tentang perasaannya. Simak informasinya di bawah ini yuk!

1. Jangan panik

1. Jangan panik
Freepik/karlyukav

Seorang anak tidak akan membicarakan perasaannya jika ia yakin apa yang akan dibicarakan akan membuat Mama khawatir atau membuat Mama jadi tidak nyaman. Sebagai solusinya, bersikaplah tenang dan percaya diri akan kemampuannya menangani situasi sulit.

Mama bisa mengatakan, "Mama yakin kamu akan mampu melewati ini". Jika perlu, Mama dapat bertanya apa yang akan anak lakukan. Katakan, "Jika kamu tidak tahu harus bagaimana lagi, kamu bisa datang kepada Mama untuk meminta bantuan."

2. Jangan mengambil perasaan secara pribadi atau bersikap defensif

2. Jangan mengambil perasaan secara pribadi atau bersikap defensif
Freepik/Pixel-shot.com

Bahkan jika seorang anak marah kepada Mama, biarkan ia mengekspresikan dirinya sepenuhnya sebelum menawarkan sudut pandang Mama. Jangan kesal karena anak mungkin tidak akan datang lebih awal lagi untuk berbicara dengan Mama.

Dengarkan sepenuhnya, kemudian renungkan kembali apa yang telah Mama dengar. Meskipun itu mungkin adalah keluhan tentang Mama. Setelah anak-anak merasa benar-benar didengar, ia juga akan mulai mendengarkan Mama.

Editors' Picks

3. Jangan salahkan anak

3. Jangan salahkan anak
Freepik/Wavebreakmedia

Hindari mengatakan, "Sudah kubilang" atau "Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan" atau "Apa yang kamu harapkan terjadi?"

Jika seorang anak sedang bergumul dengan suatu situasi, ia mungkin merasa rentan, tidak kompeten, atau bahkan merasa malu. Sebagai gantinya, tunjukkan pada anak tentang kebaikan dan kasih sayang, bahkan Mama bisa mengatakannya pada anak.

Setelah itu katakan, "Kamu benar-benar tidak ingin itu terjadi" atau "Itu masuk akal". Kebaikan dan kasih sayang orangtua akan menunjukkan kepada anak bahwa ia dapat mendatangi Mama, bahkan ketika anak telah membuat kesalahan.

4. Jangan tutup percakapan

4. Jangan tutup percakapan
Freepik

Orang dewasa terkadang menutup percakapan dengan meminta anak untuk pergi ke ruangan lain atau menyuruhnya untuk "tenang". Sayangnya dengan hanya menyuruh anak-anak untuk tenang, tidak akan membantunya untuk tenang.

Yup, terkadang orangtua tidak harus selalu ada untuk anak-anak, namun jika Mama sibuk maka katakan saja, dan nyatakan kapan Mama akan punya waktu senggang. Jika Mama tidak "tersedia secara emosional", istirahatlah.

Katakan "Mama sedang kesulitan sekarang. Itu bukan salahmu. Mama akan istirahat selama 10 menit dan kemudian kita bisa berbicara lebih banyak. "

5. Jangan meremehkan perasaannya

5. Jangan meremehkan perasaannya
Freepik/Dragonimages

Jangan berkata, "Itu bukan masalah besar" atau "Kamu hanya bersikap dramatis/terlalu sensitif", atau "kamu hanya ingin perhatian." anak belum memiliki pengalaman emosional sebanyak orang dewasa, dengan mengatakan hal ini dapat menyepelekan perasaannya.

Sebagai solusinya, tunjukanlah rasa empati. Ucapkan "Masuk akal jika kamu merasa seperti itu" atau "Sepertinya kamu merasa putus asa. Apakah itu yang kamu rasakan? ”, yang diakhiri dengan "Oh, Mama mendengarmu".

6. Jangan menuduh anak berbohong

6. Jangan menuduh anak berbohong
Freepik/peoplecreations

Tidak ada yang bisa menghentikan percakapan lebih cepat daripada jika Mama mengatakan kepada anak bahwa ia berbohong atau tidak mengatakan yang sebenarnya. Jika seorang anak mengatakan sesuatu yang menurut Mama tidak benar, ajukan lebih banyak pertanyaan.

Katakanlah seperti, "Bantu Mama memahami masalah ini" atau "Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Tanyakan "Apakah ada hal lain tentang ini yang kamu belum beri tahukan?"

Jika ia masih belum terbuka, yakinkan anak dengan mengatakan, "Kamu tidak akan mendapat masalah."

Anak-anak paling sering berbohong kepada orang dewasa untuk menghindari masalah, jika Mama menghilangkan kekhawatiran ini, maka akan melakukan percakapan yang lebih dalam.

7. Jangan selalu menunggu anak mendatangi Mama

7. Jangan selalu menunggu anak mendatangi Mama
Freepik/tirachardz

Yang satu ini bervariasi dari satu anak ke anak lainnya, beberapa anak hanya akan terbuka setelah dijelaskan bahwa Mama tertarik untuk bercakap-cakap. Namun anak lainnnya hanya akan berbicara saat mendatangi Mama.

Anak-anak cenderung tidak terbuka pada Mama, jika ia merasa Mama sangat membutuhkan atau terlalu terikat, atau Mama memiliki agenda dan harapan besar darinya.

Cobalah mulailah percakapan dengan anak, miliki rasa penasaran, tunjukkan minat pada hidupnya, dan tanyakan tentang perkembangannya. Tanyakan tentang hal-hal yang lebih detail seperti mengatakan, “Ceritakan lebih banyak" atau "Apa lagi yang terjadi?"

Bagi beberapa anak, mengungkapkan perasaannya adalah hal yang menakutkan. Maksimalkan upaya di atas dengan berpikiran anak mama akan terus membicarakan perasaan mereka selama bertahun-tahun yang akan datang, bahkan hingga masa remajanya!

Manakah dari strategi berikut yang akan Mama gunakan saat berbicara dengan anak?

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.