Kenali 9 Penyebab dan Jenis Kekerasan pada Anak

Kekerasan seringkali dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan anak

27 September 2021

Kenali 9 Penyebab Jenis Kekerasan Anak
Freepik/Master1305

Kekerasan anak adalah pengalaman yang sangat menyakitkan bagi seorang anak, belum lagi trauma emosional yang dirasakannya. Perasaan malu, bersalah atau bahkan kebingungan menghalangi anak-anak untuk menyelamatkan diri dari peristiwa tersebut.

Kekerasan pada anak adalah segala jenis pelecehan atau penelantaran yang merugikan anak. Sayangnya, kekerasan ini bisa dilakukan dari orang yang paling dipercaya oleh anak, yaitu orangtua.

Selain orangtua, kekerasan juga bisa dilakukan oleh pengasuh, atau orang lain yang memiliki kuasa dalam kehidupan anak.

Kenali apa saja penyebab dan jenis kekerasan pada anak yang telah Popmama.com rangkum berikut ini.

Definisi Kekerasan pada Anak

Definisi Kekerasan Anak
Freepik/Goodphoto

Kekerasan pada anak adalah segala bentuk penganiayaan fisik, psikologis atau seksual atau penelantaran anak. Ini dapat terjadi di tangan orangtua, kerabat dekat atau pengasuh, dan memiliki efek merugikan yang signifikan pada jiwa anak, demikian dilansir dari Parenting Firstcry.

Risiko kekerasan terhadap anak yang tertinggi adalah, anak berusia lima tahun ke bawah. Ketika kedua orangtua pergi bekerja, anak sering kali dipercayakan untuk diasuh oleh pengasuh anak, penitipan anak, atau anggota keluarga lainnya.

Kekerasan pada anak bisa terjadi pada anak laki-laki atau perempuan, di keluarga mana pun. Seringkali, perasaan terluka atau trauma emosional ini bertahan lama, bahkan setelah luka fisik sudah sembuh.

Kenali apa saja penyebab kekerasan yang dilakukan orangtua pada anak berikut ini:

Penyebab Kekerasan pada Anak

Penyebab Kekerasan Anak
Freepik/Rawpixel-com

Dilansir dari Queensland Goverment, ada banyak hal yang dapat menyebabkan kekerasan pada anak. Alasannya seringkali rumit, dan tidak ada penjelasan tunggal atau sederhana.

Seperti yang Mama ketahui, hampir semua orangtua ingin mencintai dan merawat anak mereka di rumah yang aman. Namun akibat stres, kelelahan, atau kurangnya keterampilan mengasuh anak atau dukungan keluarga, membuat tekanan merawat anak menjadi berlebihan, dan dapat menyebabkan kekerasan.

Penyebab kekerasan pada anak dapat meliputi:

  • Isolasi dan kurangnya dukungan — tidak ada anggota keluarga, teman, mitra, atau dukungan komunitas untuk membantu memenuhi tuntutan pengasuhan
  • Stres — tekanan keuangan, kekhawatiran pekerjaan, masalah medis, atau merawat anggota keluarga yang menyandang disabilitas
  • Harapan yang tidak realistis — kurangnya pemahaman tentang tahap perkembangan dan perilaku anak
  • Cacat intelektual atau penyakit mental — orangtua mungkin tidak dapat merawat anak mereka secara memadai
  • Kurangnya keterampilan mengasuh anak — orangtua mungkin tidak tahu cara merawat anak mereka atau mungkin percaya bahwa menggunakan kekuatan fisik yang berlebihan untuk mendisiplinkan atau menghukum anak, dapat diterima
  • Masalah narkoba, alkohol, atau perjudian — kecanduan atau penyalahgunaan zat dapat memengaruhi kemampuan orangtua untuk memenuhi kebutuhan anak mereka
  • Kepercayaan diri yang rendah — orangtua mungkin meragukan kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan anak dan merasa sulit untuk meminta bantuan
  • Pengalaman buruk di masa lalu ketika masih kanak-kanak — orangtua mungkin pernah mengalami pelecehan sebagai seorang anak dalam keluarga mereka sendiri, yang dapat menyebabkan mereka mengembangkan gaya keterikatan yang tidak aman
  • Masalah kesehatan mental.

Jenis-Jenis Kekerasan Orangtua pada Anak

Kekerasan anak adalah segala jenis pelecehan atau penelantaran yang merugikan anak. Kekerasan ini sering dilakukan oleh orang terdekat anak seperti orangtua, pengasuh, atau orang lain yang memiliki otoritas dalam kehidupan anak.

Dilansir dari Kids Health, ada enam kategori kekerasan pada anak, yaitu sebagai berikut:

Editors' Picks

1. Kekerasan fisik

1. Kekerasan fisik
Freepik/Pixabay

Kekerasan fisik adalah ketika tubuh anak dilukai. Memukul keras dengan tangan atau benda seperti ikat pinggang dapat meninggalkan memar atau luka dan menyebabkan rasa sakit. Mengguncang, mendorong, mencekik, meninju, mencengkram dengan menyakitkan, dan menendang juga bisa menjadi kekerasan fisik.

Terdapat dua jenis cedera akibat kekerasan fisik, yaitu:

  • Cedera yang tidak dapat dijelaskan, seperti memar, patah tulang, atau luka bakar
  • Cedera yang tidak sesuai dengan penjelasan yang diberikan

2. Pelecehan seksual

2. Pelecehan seksual
Pixabay/Geralt

Pelecehan seksual adalah kontak seksual (seperti tindakan seksual) atau aktivitas seksual non-kontak (seperti mengambil atau berbagi foto seksual dan pembicaraan seksual) antara:

  • Orang dewasa dan seseorang yang lebih muda dari 18
  • Anak yang lebih tua, atau remaja dan anak yang jauh lebih muda
  • Satu orang yang memiliki kekuasaan atas orang lain, berapapun usia mereka

Sebagian besar kasus pelecehan seksual melibatkan orang dewasa atau anggota keluarga terdekat yang menyalahgunakan kepercayaan anak. Seringkali, anak ditekan atau diajak bicara, ditawari hadiah, atau diminta menyimpan rahasia, bukan dipaksa secara fisik.

3. Pengabaian

3. Pengabaian
Freepik

Pengabaian adalah ketika orangtua atau orang dewasa tidak melakukan apa yang diperlukan untuk merawat seorang anak. Ini berarti tidak memberi anak cukup:

  • Makanan, perumahan atau pakaian
  • Perawatan medis
  • Pengawasan
  • Perhatian (disebut pengabaian emosional, ketika seorang anak diabaikan dalam jangka waktu yang lama)
  • Pendidikan/sekolah

4. Pelecehan emosional

4. Pelecehan emosional
Freepik/Master1305

Pelecehan emosional (atau pelecehan psikologis) terjadi ketika orang dewasa yang merawat seorang anak menghakimi, mengancam, merendahkan atau menolak anak-anak atau remaja, menahan kasih sayang sehingga anak merasa buruk tentang dirinya sendiri atau tidak berharga.

Beberapa contoh lainnya dari pelecehan emosional, antara lain:

  • Penolakan terus-menerus
  • Permusuhan
  • Ejekan
  • Intimidasi
  • Teriakan
  • Kritik
  • Paparan kekerasan keluarga.

5. Penyalahgunaan zat dan alkohol

5. Penyalahgunaan zat alkohol
Pixabay/moritz320

Penyalahgunaan zat, ketika orangtua menggunakan narkoba atau terlalu banyak alkohol, dapat membahayakan anak. Hal ini dapat menyebabkan orang dewasa mengabaikan, menyakiti secara fisik, seksual, atau emosional seorang anak.

Ketika orang dewasa menggunakan obat-obatan atau alkohol berlebihan di sekitar anak, banyak undang-undang negara bagian mengatakan ini adalah pelecehan anak, bahkan jika tidak ada yang mengabaikan atau menyakiti anak secara fisik.

Di beberapa negara, itu adalah pelecehan anak jika:

  • Orang dewasa membiarkan seorang anak minum alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang
  • Orang dewasa membuat, mengambil, atau menjual obat-obatan terlarang di hadapan seorang anak
  • Seorang perempuan menggunakan obat-obatan terlarang saat hamil

6. Pelecehan medis

6. Pelecehan medis
Bigstock

Pelecehan medis pada anak adalah ketika orangtua atau pengasuh dewasa menyakiti seorang anak dengan terlalu banyak memberikan perawatan medis, seperti obat-obatan, janji temu, operasi, atau tes laboratorium yang tidak diperlukan.

Pelecehan medis ini juga termasuk menyangkal layanan medis yang dibutuhkan, atau membuat cerita bohong yang membahayakan anak-anak.

Kekerasan pada anak sering meninggalkan bekas luka jangka panjang pada anak, yang sulit untuk dihapus dari pikiran dan fisiknya juga. Terlebih lagi jika ini dilakukan oleh orang yang dipercaya dan disayangi oleh anak, seperti orangtua.

Ini dapat berdampak besar pada cara anak mengelola hubungan selama masa dewasa dan dapat merusak kepercayaan dirinya. Anak-anak yang mengalami kekerasan, mungkin tidak dapat memiliki kinerja yang normal di sekolah, perguruan tinggi, atau bekerja ketika ia tumbuh dewasa.

Itulah penyebab dan jenis kekerasan pada anak. Lindungi anak dalam masa tumbuh kembangnya. Setiap anak memiliki hal yang sama untuk hidup yang layak dan mendapatkan perlindungan yang membuatnya merasa aman.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.