People pleaser, menurut Webster (2023) merupakan seseorang yang selalu berusaha melakukan sesuatu tanpa memikirkan diri sendiri sehingga orang lain merasa senang. Mereka merasa bahwa untuk disukai orang lain, mereka harus memenuhi kebutuhan orang tanpa henti.
Seorang people pleaser cenderung memiliki hubungan erat dengan salah satu gangguan kepribadian lain, seperti avoidant personality disorder sebab keduanya sama-sama merespon rasa takut akan penolakan.
Karakter ini terbentuk ketika kasih sayang diberikan hanya jika anak menuruti kata orangtua. Faktor seperti tekanan sosial, media sosial, ketidakpastian dalam hubungan interpersonal dan pola pembelajaran keluarga dapat memengaruhi pengembangan karakter ini.
Anak yang hanya “disayang ketika berperilaku baik” belajar bahwa cinta dapat hilang kapan saja. Orangtua mungkin tidak bermaksud melukai, hanya ingin mendisiplinkan, namun anak menangkap pesan berbeda, “Jika aku tidak sesuai keinginan mereka, mereka akan kecewa atau pergi.”
Dampaknya, anak tumbuh takut ditolak. Ia rela mengorbankan kenyamanan dan kebutuhan pribadi agar orang lain tetap senang.
Tanda-tandanya anak dengan people pleaser:
Sulit berkata “tidak” meski merasa tidak nyaman
Mudah minta maaf pada hal-hal kecil
Merasa bersalah jika membuat orang lain kecewa
Rentan dimanfaatkan karena tidak bisa menolak
People pleaser merupakan luka psikologis tersembunyi, “Aku harus membuat orang lain bahagia, baru aku layak dicintai.”