Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mantan QC Pabrik Bongkar Rahasia Bahan Pembuatan Sosis, Pakai Daging Sisa!
Instagram.com/dr.herlin.ramadhanti
  • Seorang petugas mantan QC mengungkap praktik pembuatan sosis menggunakan bahan daging sisa dan zat kimia dosis tinggi, memicu kekhawatiran publik soal keamanan pangan anak.

  • Proses produksi melibatkan penggunaan MRM, phosphate, dan nitrit untuk memperbaiki tekstur serta warna sosis, meski kandungan daging aslinya sangat minim.

  • Ada dugaan pengabaian standar keamanan demi target produksi, sementara pakar kesehatan mengimbau orangtua lebih waspada terhadap produk Ultra Processed Food dan memilih alternatif homemade.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pemilihan bahan pangan yang sehat dan bergizi merupakan tanggung jawab besar bagi setiap orangtua dalam menjamin tumbuh kembang anak. 

Namun, belakangan ini publik dikejutkan oleh pengakuan seorang mantan Quality Control (QC) mengenai proses produksi sosis yang diduga menggunakan bahan sisa dan zat kimia dosis tinggi. 

Menanggapi fenomena yang viral ini, dr. Herlin Ramadhanti melalui akun Instagram pribadinya, @dr.hemlin.ramadhanti, memberikan pandangan dari sudut pandang Natural Lifestyle Functional Medicine

Berikut Popmama.com merangkum fakta-fakta terkait keamanan pangan pada produk olahan daging tersebut!

1. Pengakuan mantan Quality Control mengenai bahan baku sisa

Pexels/Gnosis Producciones

Sebuah unggahan dari akun @fima.maranatha di Threads mendadak viral setelah membongkar pengalaman pribadinya saat bekerja sebagai QC di sebuah pabrik sosis selama enam bulan. 

Ia menceritakan pengalamannya saat bertugas pada jam dua pagi dan melihat proses pengolahan bahan baku yang sangat memprihatinkan. 

“Bukan potongan daging utuh, tapi sisa-sisaan.” 

Ia menyadari bahwa produk yang selama ini dianggap premium oleh masyarakat ternyata berasal dari bahan sisa yang diolah sedemikian rupa. 

Pengakuan ini tentu menjadi perhatian serius bagi orangtua, mengingat sosis sering menjadi pilihan utama untuk bekal anak karena kepraktisannya.

2. Penggunaan teknologi MRM dan bahan kimia dosis tinggi

Pexels/Freek Welsink

Dalam unggahan tersebut, dijelaskan penggunaan Mechanically Recovered Meat (MRM) sebagai bahan utama sosis ekonomis. 

MRM merupakan sisa daging yang menempel pada tulang, yang kemudian dilepaskan menggunakan tekanan tinggi hingga menjadi tekstur bubur. 

Untuk menutupi kualitas bahan yang rendah, digunakan berbagai zat kimia pangan agar produk tetap menarik bagi konsumen. 

“Biar adonan tadi bisa padat dan “crunchy”, kita pakai pengenyal (Phosphate) dosis tinggi. Terus ditambah tepung tapioka yang banyak biar volumenya besar tapi modalnya tetap murah.” 

Selain pengenyal, zat Nitrit juga ditambahkan agar warna sosis tetap merah muda meskipun sudah disimpan di dalam freezer selama satu tahun. 

Hal ini menunjukkan bahwa banyak produk sosis di pasaran sebenarnya lebih didominasi oleh tepung dan bahan kimia dibandingkan serat daging asli yang dibutuhkan oleh tubuh anak.

3. Pengabaian standar keamanan pangan demi target produksi

Pexels/jo

Hal yang paling mengkhawatirkan dari pengakuan ini adalah adanya dugaan pengabaian laporan laboratorium mengenai batas aman konsumsi demi mengejar target pengiriman produk. 

Mantan QC tersebut mengungkapkan bahwa instruksi dari pihak manajemen sering kali memaksa untuk meloloskan produk meskipun kualitasnya meragukan. 

Bahkan, terdapat kejadian di mana bahan baku yang sudah seharusnya ditolak karena suhu dan aroma yang tidak sesuai tetap diproses menjadi sosis. 

Modus yang digunakan adalah dengan menambahkan bumbu dan aroma asap (liquid smoke) yang lebih banyak guna menutupi bau tidak sedap dari bahan baku tersebut. 

Praktik ini tentu sangat membahayakan kesehatan konsumen, terutama anak-anak yang organ ginjalnya harus bekerja ekstra keras untuk menyaring beban natrium dan pengawet dalam jumlah besar sejak dini. 

Kejadian ini menjadi alasan kuat bagi sang mantan QC untuk mengundurkan diri karena tidak ingin menjadi bagian dari proses produksi yang mengabaikan keselamatan publik.

4. Tanggapan medis mengenai produk Ultra Processed Food

Pexels/Mateusz Feliksik

Meskipun kebenaran berita tersebut masih berdasarkan testimoni satu pihak, dr. Herlin mengingatkan para orangtua untuk selalu waspada terhadap produk Ultra Processed Food (UPF) yang banyak beredar di pasaran. 

dr. Herlin memberikan saran praktis bagi para Mama agar lebih berhati-hati. 

“Yang jelas sebagai konsumen kita perlu berhati-hati ya, terlebih produk di pasaran banyak yang UPF (Ultra Processed Food).” 

Sebagai alternatif yang lebih sehat, disarankan bagi orangtua untuk mencoba membuat sosis homemade sendiri di rumah menggunakan bahan-bahan segar atau real food

Penggunaan tepung gluten free dan daging berkualitas tinggi dalam pembuatan sosis rumahan dapat menjadi solusi agar anak tetap mendapatkan asupan protein yang maksimal tanpa risiko terpapar zat kimia berbahaya atau bahan baku sisa.

Kewaspadaan dalam membaca label kemasan dan memahami proses pengolahan makanan menjadi kunci utama bagi orangtua untuk melindungi kesehatan jangka panjang anggota keluarga. 

Sudahkah Mama memastikan bahwa produk olahan yang dikonsumsi anak setiap hari bebas dari bahan tambahan pangan yang berbahaya?

Editorial Team