7 Cara agar Anak Tak Gampang Pamer, Tanamkan Sejak Dini Yuk

Dimulai dari orangtua, nantinya anak juga akan menurunkan sikap tersebut

17 Oktober 2021

7 Cara agar Anak Tak Gampang Pamer, Tanamkan Sejak Dini Yuk
Freepik

Pernahkah anak mama melontarkan kata-kata seperti, "Tadi nilaiku lebih bagus lho dari nilai temanku yang lain!" atau kata-kata seperti, "Kakak nggak punya kan mainan banyak sepertiku?"

Kata-kata yang memamerkan kelebihan seperti ini mungkin sering tanpa sadar terlontar oleh anak-anak mama. Meski sering kali membuat sebal orang yang mendengar, namun pamer adalah hal yang normal terjadi pada anak.

Dilansir dari laman Parents.com, seorang psikolog dan founder Center for Well-Being, Stephanie Mihalas, Ph.D, menjelaskan bahwa pamer adalah hal normal dan biasanya dilakukan anak ketika usianya menginjak 5 atau 6 tahun ke atas.

Di usia ini, anak masih belum sepenuhnya memahami perbedaan antara ia dan orang lain dengan mengukur apa yang ia miliki dengan yang anak-anak lain miliki.

Meski menjadi hal yang normal, namun banyak orang dibuat kesal dan bisa saja menangkapnya dengan maksud yang salah. Jika dibiarkan terus menerus, ini juga akan berbahaya pada anak mama karena bisa jadi menimbulkan bullying yang akan ia terima.

Nah, agar anak tidak mudah pamer kelebihannya pada orang lain, kali ini Popmama.com telah merangkum 7 cara yang bisa Mama dan Papa lakukan. Apa saja caranya? Yuk, langsung disimak!

1. Mencoba berikan nasihat yang halus

1. Mencoba berikan nasihat halus
Freepik/tirachardz

Nasihat tak selalu menyudutkan apalagi membentak kok, Ma. Nasihat bisa Mama dan Papa berikan dengan cara yang lebih halus yakni mengajak bicara anak dan memberikan pemahaman padanya apa itu pamer.

Beri tahu juga pada anak bahaya dari sikap pamer yang terus menerus ia lakukan. Sehingga anak harus bisa menghindari sikap tersebut dan diharapkan menjadi orang yang rendah hati.

2. Berikan pujian yang tepat

2. Berikan pujian tepat
Freepik/jcomp

Setiap orangtua tentu merasa bangga jika anaknya dapat melakukan usaha yang lebih baik dari teman lainnya. Namun, tanpa sadar terkadang orangtua memberikan pujian yang justru membandingkan kehebatan anak lain.

Misalnya saja seperti, "Kakak hebat banget tadi nilainya lebih tinggi dari teman sebangkunya."

Perkataan seperti ini sebaiknya dihindari ya! Mama bisa menggantinya dengan pujian yang lebih tepat misalnya saja seperti, "Kakak keren banget deh, hasil belajar kemarin benar-benar membuahkan hasil. Tetap semangat belajarnya ya!"

Editors' Picks

3. Jadi contoh yang tepat

3. Jadi contoh tepat
Freepik/Racool_studio

Anak adalah peniru dari orangtuanya. Mungkin tanpa disadari, Mama atau Papa juga sering kali membandingkan anak sebagai contoh tidak baik yang kemudian memicu anak gampang pamer.

Untuk itu, sebelumnya Mama dan Papa juga perlu melihat diri sendiri apakah diri kita sebagai orangtua sudah benar mengajarkan pada anak? Cara mudahnya adalah dengan tidak membandingkan kehebatan anak dengan anak lain atau saudaranya sendiri.

Dengan begitu, anak pun menjadi peniru yang baik untuk tidak membandingkan kehebatan yang ia miliki pada anak-anak lainnya.

4. Ajak anak untuk memuji orang lain

4. Ajak anak memuji orang lain
Freepik/Pressfoto

Daripada membandingkan kehebatan dengan orang lain, coba latih anak untuk bisa memuji orang lain yuk, Ma. Memuji kemampuan orang lain bukan berarti anak kalah kok, justru ini menjadi cara bahwa anak memiliki rasa empati kepada orang sekitarnya. 

Sikap seperti ini akan sangat dibutuhkan anak saat melakukan kerja tim. Misalnya saja saat mereka harus bertanding dalam ajang olahraga di sekolah. Keberhasilan yang mereka raih tentu berkat kerja keras satu sama lain, sehingga tak ada salahnya memuji teman satu timnya.

5. Ajarkan anak agar lebih peka terhadap orang lain

5. Ajarkan anak agar lebih peka terhadap orang lain
Freepik

Di usia sekolah, anak sudah lebih memahami banyak hal. Itulah mengapa Mama bisa mengajarkan anak banyak hal di usia ini. Selain mengajarkan perihal pendidikan formal di sekolah, tetapi cobalah mengajarkan kepekaan terhadap perasaan orang lain.

Misalnya saja saat anak mama berhasil mendapat nilai tinggi di suatu ujian tertentu, tetapi salah satu temannya justru sebaliknya. Nah, di sinilah rasa empati dan kepekaan anak diuji.

Coba ajak anak untuk tidak memaerkan hasil ujiannya kepada temannya tersebut. Sebab hal ini juga bisa memicu rasa iri dan tidak senang. Mungkin cara terbaik yang bisa dilakukan adalah memberikan semangat agar temannya tetap berusaha untuk ujian berikutnya.

Agar anak tidak memaerkan kelebihannya di atas kekurangan orang lain, yang akhirnya justru memicu rasa sakit hati orang tersebut. Mama bisa memberi tahu pada anak untuk memamerkan hal tersebut kepada orangtuanya saja, Ma.

6. Bangun rasa percaya diri

6. Bangun rasa percaya diri
Freepik/Gpointstudio

Anak yang memiliki rasa percaya diri bisa dibangun sejak dini, Ma. Caranya adalah dengan pengakuan serta dukungan yang orangtuanya berikan pada mereka.

Pengakuan dan dukungan dari Mama dan Papa bisa menjadi pembelajaran kepada anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati. Dengan begitu, anak pun tidak akan memamerkan atau meninggikan dirinya di hadapan orang lain.

7. Fokus pada hasil yang anak dapat

7. Fokus hasil anak dapat
Freepik/ArthurHidden

Anak tidak tahu bahwa apa yang mereka pamerkan disebut sikap pamer. Untuk itu, pendekatan yang bisa dilakukan adalah kembali lagi pada poin sebelumnya, yakni menjelaskan dan mengajak bicara anak tentang arti pamer.

Saat anak sudah tahu bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sikap pamer, maka Mama bisa menjadi orang yang membantunya memberikan solusi positif. Cobalah fokus pada hasil yang anak dapat. Dengan begitu, anak pun tidak akan merasa dibandingkan dengan hasil orang lain.

Itulah cara yang bisa dilakukan orangtua agar anak tak gampang pamer pada orang lain. Cara-cara ini bisa ditanamkan sejak dini agar nantinya sikap pamer tidak terus menerus anak lakukan.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.