5 Risiko Jika Orangtua Memaksa Anak untuk Unggul di Semua Bidang Studi

Bisa membuat anak lebih mudah depresi, Ma!

7 Juli 2020

5 Risiko Jika Orangtua Memaksa Anak Unggul Semua Bidang Studi
Focusforwardcc.com

Setiap orangtua tentu menginginkan yang terbaik buat buah hatinya, tak jarang banyak orangtua menaruh mimpi besar agar bisa diwujudkan di masa depannya kelak.

Bermimpi memiliki anak yang cerdas dalam berbagai hal tentu saja keinginan banyak orangtua, tetapi ini bukan berarti menjadikan anak sebagai subjek yang harus lihai menguasai berbagai bidang ilmu yang ada.

Tanpa sadar, kita sebagai orangtua sering kali membesarkan ego dan gengsi dengan memaksa anak untuk bisa menjadi pribadi yang cemerlang dan unggul, misalnya di sekolah. Ketika sudah begini, anak pun menjadi korban dan ujungnya malah tertekan dalam menjalani hidup diusia yang masih terlalu dini.

Agar Mama dan Papa tak salah mengambil langkah dalam mendidik anak, yuk ketahui yang Popmama.com rangkum mengenai 5 risiko yang akan terjadi pada anak jika terlalu memaksanya menjadi unggul disegala bidang. Jangan salah ya, Ma!

1. Mudah depresi dan memilih mengurung diri

1. Mudah depresi memilih mengurung diri
Freepik/Ksandrphoto
Ilustrasi

Meski bermaksud untuk kebaikan anak di masa depan, tetapi Mama perlu mempertimbangkan perasaan dan kemampuan sang buah hati. Sebab mereka bukanlah robot yang bisa diminta ini itu dengan mudah.

Jika dipaksakan untuk unggul di sekolah, anak akan lebih mudah depresi dan memilih mengurung diri, bersembunyi dari keramaian orang. Padahal, anak membutuhkan orang dewasa yang dapat membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik, bukan dengan menuntut terlalu keras.

Mama dan Papa perlu ingat bahwa setiap anak tidaklah sama, sehingga perlu mempertimbangkan dalam mendidik anak agar tidak salah pola asuh yang justru membuat anak lebih mudah depresi.

Editors' Picks

2. Mempunyai ketakutan yang berlebih ketika gagal

2. Mempunyai ketakutan berlebih ketika gagal
Freepik

Ketika orangtua menerapkan sikap otoriter agar anak menjadi pribadi yang unggul di sekolah, ini bisa membuatnya merasa ketakutan. Terlebih ketika anak mendapat kegagalan, misalnya ia gagal dalam sebuah tes di sekolah.

Ketika anak gagal dalam tes, ia akan lebih takut dan terus berpikir ia akan mendapat celaan dari orangtuanya karena tidak berhasil melampaui nilai yang diperoleh teman-temannya di kelas.

Jika anak alami ketakutan karena hal ini, maka akan sulit baginya untuk menjadi pribadi yang pemberani. Bahkan saat ia dewasa kelas, ia akan kesulitan dalam memecahkan masalah lantaran besarnya perasaat takut yang ada pada dirinya.

3. Anak sulit mengasah kepekaan sosialnya

3. Anak sulit mengasah kepekaan sosialnya
Freepik/Arrow_smith2

Ketika Mama terlalu memforsis anak agar terus belajar demi unggul di sekolah, ini akan membuat anak kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Akibatnya, anak akan alami kesulitan dalam bersosialisasi.

Saat anak sibuk dengan jadwal kursus atau les privat yang padat, anak tidak bisa merasakan kebebasan dengan temannya lantaran masih berada di ruangan kelas bimbingan belajar.

Hal ini bukan tidak mungkin akan membuat anak sulit untuk mengasah kepekaan sosialnya hingga dewasa. Bahkan kelak anak bisa saja menjadi pribadi yang anti sosial atau takut membuka diri karena tidak ada waktu untuk terlibat dalam kehidupan sosial bersama lingkungannya.

Kalau sudah begini, anak akan kehilangan ruang untuk memiliki pengalaman bekerja dengan tim, bahkan ia kelak akan tergolong orang yang sulit mengasah jiwa kepemimpinan atau leadership.

Jadi, tetap berikan sedikit kelonggaran pada anak ya, Ma!

4. Minus kecerdasan emosional

4. Minus kecerdasan emosional
Freepik/photoroyalty

Saat anak terlalu menerima tekanan dari orangtua agar bisa sukes dalam semua bidang akademis, ini akan membuatnya kekurangan kecerdasan emosional dan berdampak sulitnnya mengontrol emosi yang ada pada dirinya serta orang lain.

Anak akan menjadi pribadi yang mudah marah jika ia tidak menyukai sesuatu atau tidak bisa menerima tanggapan dari orang lain. Ketika ini terus terjadi, kecerdasan emosional anak pun terus berkurang dan akan menjadikannya pribadi yang sulit menghargai orang lain, bahkan cenderung apatis dan kurang empati memedulikan sekitarnya.

5. Anak dapat menjadi manusia yang egois dan melampaui batas

5. Anak dapat menjadi manusia egois melampaui batas
freepik/freepik

Jika Mama terlalu sering memaksa anak, ini bisa membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang egosi lho! Bukan tanpa alasan, hal ini terjadi karena ia akan selalu merasa semua hal harus ia taklukan dengan tangannya sendiri.

Untuk mendapatkan apa yang ia mau, anak bisa saja bertindak melampaui batasnya sehingga menghalalkan berbagai cara untuk mewujudkan cita-cita orangtuanya. Untuk itu orangtua juga harus menaruh perhatian lebih pada anak agar ia tidak bertindak melampaui batas kemampuannya.

Anak adalah karunia yang harus dijaga dan dididik agar kelak dapat melangkah ke jalan yang tepat. Meski bermaksud baik untuk masa depannya, jangan sampai cara yang Mama gunakan justru malah membuatnya depresi ya!

Gunakan cara-cara yang santun dan tidak terlalu mementingkan ego dengan tidak memaksakan kehendak Mama dan Papa padanya. Dengan begitu, anak pun bisa dengan lapang hati menjalankan roda kehidupannya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.