Tantangan Mendampingi Belajar Daring bagi Anak Autis

Cari solusinya juga yuk, Ma

30 Juli 2020

Tantangan Mendampingi Belajar Daring bagi Anak Autis
Pexels/Julia M Cameron

Penyanyi Tanah Air, Anji Manji beberapa waktu lalu membagikan tantangan yang ia rasakan saat mendampingi anaknya saat belajar daring melalui Twitter pribadinya.

Dalam unggahannya itu, Anji mengaku memerlukan energi ekstra dalam mendampingi anak belajar daring di tengah pandemi ini, terlebih bagi anak berkebutuhan khusus atau berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi.

Sepertinya dirinya yang harus dengan sabar mendampingi dan mendidik anaknya yang mengidap ASD (Autism Spectrum Disorder) ketika harus terapi daring.

Meski sulit, Anji tetap memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.

Tantangan Mendampingi Anak Autis saat Belajar Daring

Tantangan Mendampingi Anak Autis saat Belajar Daring
Twitter/duniamanji

Masih mewabahnya virus corona di Indonesia membuat pemerintah memberlakukan pembelajaran jarak jauh secara daring atau online.

Adanya pandemi Covid-19 sangat berdampak pada anak autis yang memiliki masalah perkembangan.

Masalah perkembangan yang dimaksud adalah bagaimana memberikan prioritas kesehatan bagi anak autis dan layanan pendidikan yang berkualitas. Anak-anak seperti ini tentunya membutuhkan pendampingan khusus yang harus sabar.

Seperti yang diunggah Anji pada Twitter pribadinya, ia memerlihatkan video saat anaknya yang mengidap ASD tengah melakukan belajar daring dengan gurunya melalui video call.

Meski sulit, orangtua yang memiliki anak autis diminta mampu memberikan energi positif selama masa pandemi ini.

Sebab jika orangtua dalam kondisi buruk, maka anak dalam kondisi autis dapat merasakannya dan berdapampak pada perkembangan anak tersebut.

Untuk itu, berikut Popmama.com telah merangkum solusi bagi para orangtua yang mendampingi anak autis dalam belajar daring. Disimak yuk!

1. Tidak bicara keras pada anak

1. Tidak bicara keras anak
Freepik/master1305

Anak pengidap autisme kerap kali berbicara menggunakan suara keras dan tidak dapat mengontrol volume suara mereka. Meski anak autis berbicara seperti itu, bukan berarti Mama atau pengasuhnya dapat membalas ucapan mereka dengan berteriak juga ya!

Sebisa mungkin hindari berbicara terlalu keras pada anak autis ya, Ma.

Sebab anak autis akan lebih menaruh perhatian pada orangtua yang menempatkan mereka sebagai teman, jika terus diajak bicara keras maka perasaannya juga akan terganggu.

Editors' Picks

2. Tetap mendampingi dengan penuh kesabaran

2. Tetap mendampingi penuh kesabaran
Twitter/duniamanji

Mendampingi anak belajar secara daring mungkin terasa menyulitkan bagi sebagian orangtua, terlebih bagi mereka yang memiliki anak berkeutuhan khusus atau pun ekonomi yang tak memadai.

Meski demikian, bukan berarti Mama menyerah dan melepaskan begitu saja agar anak tidak mendapatkan pembelajaran. Mama harus ekstra sabar dalam menghadapi dan mendampingi anak autis dalam belajar daring.

Pembelajaran tetap dilakukan guna menjaga perkembangan anak agar tetap stabil meski hanya dilakukan dari rumah, untuk itu tetap berikan kesabaran penuh selama menemani anak autis dalam belajar ya, Ma.

3. Tanyakan bagaimana keadaan anak ketika emosinya mulai mereda

3. Tanyakan bagaimana keadaan anak ketika emosi mulai mereda
Freepik/Drobotdean

Anak autis memiliki masalah dalam komunikasi, sehingga membuatnya lebih agresif dibanding anak-anak lainnya. Saat tubuhnya mulai panas, anak akan menjadi emosi dan mudah marah.

Tak jarang saat sudah begitu, anak akan menyebabkan orang sekitarnya terluka karena sikap agresifnya. Namun sebenarnya, anak tidak bermaksud melukai orang lain kok! Ia hanya merasa tidak nyaman dengan kondisinya dan tidak bisa mengkomunikasikannya.

Saat emosinya mulai mereda, barulah Mama bisa menanyakan bagaimana keadannya dengan terus menenangkannya agar emosinya kembali stabil.

4. Mencoba membuat anak tetap merasa nyaman

4. Mencoba membuat anak tetap merasa nyaman
ebay.com

Seperti ulasan sebelumnya, agar anak tidak mudah emosi, sebaiknya Mama membuat suasana belajar tetap nyaman. Jika suasana tetap kondusif dan nyaman, maka anak akan lebih rileks belajar.

Mama bisa menyediakan tempat belajar yang nyaman untuknya dengan memilih tempat duduk yang memiliki sandaran dan busa yang nyaman untuk duduk. Serta meja yang posisinya tak terlalu rendah dan tinggi dari posisi duduknya.

Pastikan juga anak sudah dalam keadaan kenyang ya, Ma. Hal ini agar tidak membuatnya lebih agresif karena rasa lapar yang ia rasakan.

5. Tidak banyak orang di ruang belajar

5. Tidak banyak orang ruang belajar
Freepik/bristekjegor

Ketika tempat belajarnya sudah dibuat senyaman mungkin, langkah selanjutnya adalah membuat ruangan belajarnya tidak diisi oleh banyak orang.

Suasana yang tenang dan tidak ramai orang akan membuat anak tidak mudah terganggu dan tetap fokus pada materi yang dijelaskan oleh gurunya secara daring.

Untuk itu, pastikan ruang belajarnya hanya diisi oleh ia dan pendamping belajarnya ya, Ma.

Nah, itu dia solusi mendampingi anak autis dalam belajar secara daring di masa pandemi ini. Kuncinya tetap sabar dan berikan yang terbaik untuk anak ya, Ma. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.