Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Perilaku Buruk Anak yang Tidak Boleh Dibiarkan oleh Orangtua
Freepik
  • Artikel menyoroti pentingnya peran orangtua dalam membentuk karakter dan akhlak anak sejak dini melalui proses belajar yang konsisten.
  • Dijelaskan bahwa perilaku buruk anak tidak boleh dibiarkan karena bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi hubungan sosial serta emosinya.
  • Popmama.com mengajak orangtua mengenali tanda-tanda perilaku negatif anak agar dapat segera diarahkan dengan tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap orangtua, tentu ingin melihat si Anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, sopan, dan memiliki akhlak yang kuat. Nilai-nilai tersebut sejatinya tak muncul begitu saja Ma, melainkan terbentuk dari proses belajar yang panjang sejak anak masih kecil.

Meskipun demikian, ada beberapa perilaku yang tidak boleh dibiarkan terus-menerus pada anak. Jika orangtua terlalu sering mengabaikannya, kebiasaan tersebut tentu dapat terbawa hingga ia tumbuh lebih besar dan berpotensi memengaruhi hubungan sosial maupun perkembangan emosinya ketika dewasa.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali tanda-tanda perilaku buruk anak yang perlu segera diarahkan. Untuk memahami informasi secara lebih dalam simak dalam informasi yang telah Popmama.com siapkan satu ini yuk.

1. Suka berbohong

Freepik

Pada usia tertentu, anak mungkin mulai mencoba berbohong untuk menghindari hukuman atau mendapatkan sesuatu yang ia inginkan Ma. Hal ini sering terjadi karena anak masih belajar untuk memahami konsekuensi dari perkataan dan tindakannya Ma.

Menurut psikolog Kang Lee, dari University of Toronto, kebiasaan berbohong dapat mulai muncul sejak usia prasekolah karena kemampuan kognitif anak mulai berkembang. Anak mulai memahami bahwa informasi dapat dimanipulasi untuk memengaruhi respons orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Bukan dengan hukuman yang keras, tetapi dengan menjelaskan, mengapa berkata jujur penting serta memberi contoh melalui perilaku sehari-hari.

2. Bersikap tidak sopan kepada orang lain

Freepik

Sebagai orangtua, Mama mungkin sering kali merasa gemas saat anak bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua. Terlebih ketika melakukanya dengan gestur tidak menyenangkan, seperti menutup kuping atau memeragakan gerak bibir orang lain.

Dalam sebagian kasus, sikap ini muncul disebabkan karena mereka masih belajar memahami norma sosial. Anak sering kali meniru perilaku yang ia lihat di lingkungan sekitarnya, baik dari teman, media, maupun orang dewasa di rumah.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk segera mengarahkan anak ketika menunjukkan perilaku tidak sopan. Teguran dapat disampaikan dengan tenang sambil menjelaskan mengapa sikap tersebut tidak baik dilakukan.

3. Memotong pembicaraan

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Sebagian anak sering kali memotong pembicaraan orang lain ketika ingin menyampaikan sesuatu. Misalnya saja ketika orangtua sedang berbicara dengan orang lain, anak menyela atau langsung berbicara tanpa menunggu giliran.

Hal ini tentu merupakan salah satu kebiasaan yang tanpa disadari, merupakan perilaku buruk pada anak lho, ma. Sejatinya anak perlu belajar bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara dan didengarkan. Peran orangtua sangat penting untuk membantu anak belajar tentang etika berkomunikasi.

Mama bisa mengajarkan anak untuk menunggu giliran berbicara, misalnya dengan memberi isyarat sederhana seperti menyentuh tangan orangtua ketika ingin menyampaikan sesuatu. Dengan latihan yang konsisten, anak akan belajar bahwa mendengarkan orang lain sama pentingnya dengan menyampaikan pendapatnya sendiri.

4. Suka marah

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Ledakan emosi merupakan bagian yang wajar dalam proses perkembangan anak. Pada masa kanak-kanak, ia masih belajar mengenali perasaan serta cara mengekspresikannya dengan tepat Ma.

Anak yang memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik cenderung mampu mengendalikan kemarahan serta mengekspresikan perasaan dengan cara yang lebih konstruktif. Sebaliknya, anak yang kesulitan mengatur emosi lebih berisiko menunjukkan perilaku agresif atau reaksi marah yang berlebihan.

Penting untuk orangtua memahami peran dalam membantu anak belajar mengelola emosi dengan sehat. Mama dapat mengajarkan anak untuk mengenali perasaan yang muncul, menenangkan diri ketika marah, serta mengekspresikan emosi melalui kata-kata.

5. Bersikap egois

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Pada usia dini, anak memang cenderung memiliki sifat egosentris. Ia melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri. Namun seiring bertambahnya usia, anak perlu belajar tentang empati dan berbagi dengan orang lain.

Menurut teori perkembangan Jean Piaget, anak secara bertahap belajar memahami perspektif orang lain melalui interaksi sosial. Artinya, orangtua dapat membantu dengan memberi contoh berbagi dalam kehidupan sehari-hari serta menjelaskan bagaimana tindakan tersebut dapat membuat orang lain merasa dihargai.

6. Mengambil hak orang lain tanpa izin

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Perilaku mengambil barang milik orang lain tanpa izin juga menjadi salah satu kebiasaan yang tidak boleh dibiarkan pada anak Ma. Misalnya mengambil mainan teman, menggunakan barang milik saudara atau membawa pulang sesuatu yang bukan miliknya.

Meskipun sering dianggap sebagai hal sepele, nyatanya kebiasaan ini perlu segera diarahkan agar anak memahami batasan antara miliknya dan milik juga orang lain. Mama dapat membantu anak belajar menghargai hak orang lain dengan cara yang tepat.

Misalnya mengajarkan anak untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum meminjam barang, mengembalikannya setelah selesai digunakan, serta meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Dengan bimbingan yang tepat, anak akan belajar bahwa menghargai milik orang lain merupakan bagian penting dari sikap jujur, tanggung jawab dan empati dalam kehidupan sosial.

7. Sengaja tidak mendengarkan orangtua

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Sebagian orangtua mungkin sering kali Mama mengalami situasi ketika anak terlihat pura-pura tidak mendengarkan saat dipanggil atau diberi arahan. Khususnya ketika ia asik dengan dunianya sendiri seperti tetap bermain ketika diminta merapikan mainan, atau tidak merespons ketika orangtua berbicara.

Penelitian dalam jurnal Child Development, menunjukkan bahwa kemampuan anak untuk mengontrol perhatian dan merespons instruksi berkembang secara bertahap seiring pertumbuhan usia. Oleh karena itu, anak perlu dibimbing agar belajar memperhatikan dan menghargai ketika orang lain sedang berbicara.

Mama dapat membantu anak mengubah kebiasaan ini, dengan cara yang konsisten namun tetap tenang. Misalnya saja, dengan mendekati anak terlebih dahulu sebelum berbicara, memanggil namanya, serta memastikan ia benar-benar memperhatikan sebelum memberi instruksi.

Itulah ma, informasi penting mengenai beragam perilaku buruk yang tidak boleh dibiarkan pada anak. Mari untuk terus memastikan pola asuh yang tepat pada anak sehingga anak dapat tumbuh dengan baik di masa depan.

Editorial Team