Ini Cara Aplikasi Google Glass Bisa Membantu Anak Autis Bersosialisasi

Dengan memanfaatkan teknologi, anak-anak dengan spektrum autisme ini bisa ditolong

10 Agustus 2018

Ini Cara Aplikasi Google Glass Bisa Membantu Anak Autis Bersosialisasi
Upload.wikimedia.org

Semua orangtua dengan anak penyandang autisme mengerti benar apa artinya bertatapan mata dengan anaknya. Salah satu ciri autisme yaitu tidak bisa menatap lawan bicara dan tidak mampu bersosialisasi menjadi masalah utama untuk penyandangnya. Karena hal-hal itu, mereka seperti terlempar dari lingkungan sosial.

Melihat hal tersebut, para ahli mencoba membantu penyandang autisme dengan memakai teknologi. Mereka memanfaatkan Google Glass yang diprogram untuk  membantu anak-anak penyandang autisme ini bersosialisasi. Ini caranya.

1. Aplikasi Google Glass membantu membaca emosi

1. Aplikasi Google Glass membantu membaca emosi
Pixabay/DragonWeer

Lewat Google Glass, penyandang autisme akan mendapat informasi mengenai emosi orang-orang di sekeliling si Anak. Anak dengan autisme memang selalu mengalami kesulitan untuk membaca emosi orang lain sehingga seringkali mendapat hambatan sosial.

Berdasarkan laporan Science News, Google Glass memakai teknologi berupa aplikasi untuk membaca ekspresi wajah. Sejumlah anak penyandang autisme mengikuti program uji coba memakai alat ini dan hasilnya mereka mampu melakukan lebih banyak kontak mata dengan orang-orang di sekelilingnya dan kemampuan sosial mereka juga meningkat.

Editors' Picks

2. Anak-anak mendapat pesan suara dan emoticon untuk mengenali emosi

2. Anak-anak mendapat pesan suara emoticon mengenali emosi
Pixnio

Ini yang dilakukan oleh Google Glass: aplikasi memberi tahu penggunanya melalui headset ekspresi orang-orang yang ada di sekeliling penyandang autisme. Melalui layar di kacamata, Google memberikan emoticon yang sesuai dengan hasil pembacaan ekspresinya dan memberi tahu pengguna kacamata ini emosi yang tergambar melalui headset yang mereka pakai.

Dengan gambar dan suara ini, anak penyandang autisme menjadi tahu bagaimana ia harus bertindak.

Bagusnya, karena penggunaan begitu mudah, anak-anak usia berapa pun akan mengerti emoticon dan suara yang memandu mereka.

Aplikasi ini dikembangkan oleh Universitas Stanford, Amerika Serikat. Mereka memakai data sain biomedis untuk menggambarkan 8 ekspresi: sedih, marah, bahagia, jijik, kaget, takut, tenang, dan menyesal.

Penggunaan aplikasi ini diharapkan menjadi jawaban atas sulitnya akses menuju terapi perilaku yang harus diberikan kepada anak penyandang autisme untuk masuk ke dunia “orang normal”.

Selama ini, yang menjadi kendala untuk terapi perilaku adalah akses yang terbatas, biaya yang mahal, dan antrian untuk terapi yang sangat panjang.

3. Program ini membantu kemampuan bersosialisasi

3. Program ini membantu kemampuan bersosialisasi
Pxhere/CC0 Public Domain

Seorang anak penyandang autisme, Donji Cullenbine (9), menurut orangtuanya mengalami kemajuan pesat setelah memakai aplikasi Google Glass ini. Ia mampu menunjukan ekspresi dengan tepat sehingga ia mulai bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya.

“Saya sungguh terharu ketika Donji memberikan reaksi tepat kepada orang-orang di sekelilingnya. Ia juga bilang kepada saya, ‘Sekarang saya bisa membaca pikiran mereka.’ Saya merasa terapi aplikasi ini sangat membantu,” kata orangtua Donji.

Google dan Stanford sedang menyempurnakan program ini. Semoga usai uji coba, mereka bisa membantu penyandang autisme dengan sempurna.