Haru! Angel Lelga Meminta Maaf pada Anaknya Perihal Penggrebekan

Belajar dari kasus Angel Lelga-Vicky Prasetyo, begini cara atasi trauma anak

22 November 2018

Haru Angel Lelga Meminta Maaf Anak Perihal Penggrebekan
Instagram.com/angellelga

Pembicaraan mengenai Angel Lelga dan Vicky Prasetyo seakan tak ada habisnya.

Bahkan baru-baru ini Vicky dikabarkan telah menggrebek kediaman Angel atas dasar kecurigaanya pada sang Istri yang berselingkuh dengan lelaki lain. Kasus tersebut hingga kini menimbulkan tanda tanya besar. 

Apakah kesalahan tersebut benar-benar dilakukan oleh Angel Lelga, ataukah hanya kecurigaan Vicky semata?

Berkaitan dengan kasus tersebut, pada (20/11) Angel Lelga mengupload foto ia dan sang Anak guna menuliskan permintaan maafnya.

Haru Angel Lelga Meminta Maaf Anak Perihal Penggrebekan
Instagram.com/angellelga

"Mami love Hawra, maafin mami atas kejadian yang udah bikin Hawra takut. Mami save you," tulisnya di Instastory.

Anak Angel tersebut diketahui bernama Hawra. Ia memang tak pernah mengekspos siapa nama lengkap anaknya, namun di akun Instagram-nya, Angel kerap mengunggah aktivitas Hawra.

Menyaksikan hal tersebut pastinya sangat menyakitkan dan mengagetkan bagi seorang anak kecil yang masih berusia 6 tahun, apalagi ia harus melihat perseteruan kedua orangtuanya yang dipublikasikan di hampir semua media.

Berkaitan dengan hal tersebut, berikut Popmama.com telah melansir dari Anxiety and DepresssionAssociation of America (adaa.org) mengenai 3 cara mengatasi masalah keluarga tanpa harus bertengkar hebat dan menyakiti anak.

1. Ajaklah anak untuk berpikiran positif dalam segala kondisi

Cobalah untuk mengajak anak untuk selalu berpikir positif dalam segala kondisi yang dihadapinya.

Memang tidak mudah untuk selalu berpikiran positif meskipun dalam kondisi yang seakan membuat kita menyerah.

Namun jika membiarkan anak terus termenung sedih dan selalu berpikir negatif bukanlah solusi yang tepat. 

Ajarkan anak dengan pelan untuk mulai bisa menerima kenyataan dan mencoba berpikiran positif.

Anggota ADAA Aureen Wagner, PhD, Direktur Pusat Kecemasan Ansietas di Cary, North Carolina juga menganjurkan pada Mama untuk meyakinkan anak bahwa Mama akan melakukan segalanya untuk menjaganya agar tetap aman.

Editors' Picks

2. Mencoba hal-hal baru

Ajaklah anak untuk mencoba hal-hal yang baru, selama itu dapat bersifat positif dan membentuk karakter anak yang positif maka hal-hal tersebut bisa dilakukan. 

Misalnya saja mencoba hobi baru, ke tempat-tempat baru yang mengasyikkan, dan lainnya yang membuat pikiran menjadi lebih fresh serta pikiran-pikiran buruk dapat terlupakan sejenak.

Menurut Wagner, selain mencoba hal baru, Mama juga dapat menyuruhnya untuk terus melakukan rutinitas hariannya seperti biasa. 

3. Jadilah tempat berbagi untuk anak

Masalah yang terjadi pada Mama dan pasangan, janganlah sampai mempengaruhi peran Mama sebagai orangtua. Jangan membiarkan anak merasakan beban tersebut sendirian. 

Cobalah untuk selalu menjadi tempat berbagi untuk anak, sehingga segala keluh kesah yang anak rasakan dapat tersalurkan dengan baik dan tidak menyebabkan anak mencari perhatian di tempat lainnya.

Wagner juga menyarankan untuk terus mendorong mereka untuk berbicara dan bertanya, biarkan anak terbuka tentang perasaan yang mereka rasakan. Dan yang terpenting, jawab pertanyaannya dengan jujur.

Nah, itulah beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk menyembuhkan trauma anak terhadap pertengkaran keluarga.

Jika 3 langkah tersebut dirasa masih belum cukup, maka ia membutuhkan treatment khusus untuk mengatasi anak-anak dengan kasus tersebut. 

Ada banyak perubahan sifat pada anak yang mungkin tidak diketahui oleh setiap orang tua.

Sehingga nantinya menyebabkan kenakalan remaja atau bahkan menyebabkan gangguan jiwa pada anak karena merasa tidak siap dengan kondisi yang ada.

Banyak sekali kasus-kasus anak yang mengalami broken home mengalami trauma yang terkadang sulit untuk disembuhkan hingga dewasa.

Untuk itulah dibutuhkan tindakan atau treatment khusus yang dilakukan oleh terapis sehingga kondisi anak nantinya tidak akan sampai mempengaruhi psikologisnya.

Baca juga: 8 langkah untuk mengatasi trauma pada anak

Topic: