Efeknya Buruk! 6 Hal yang Dilakukan Mama ini Melanggar Privasi Anak

Hati-hati, 6 hal ini ternyata bisa berefek buruk pada anak, Ma

17 September 2019

Efek Buruk 6 Hal Dilakukan Mama ini Melanggar Privasi Anak
Freepik

Apakah Mama memperhatikan bahwa cara memperlakukan anak sangat berbeda dengan cara memperlakukan orang dewasa? Ada beberapa hal di mana anak membutuhkan penanganan atau tindakan khusus yang berbeda dengan orang dewasa. Otak anak belum berkembang sempurna dan mereka juga tidak memiliki pengalaman seperti orang dewasa.

Namun secara tidak disadari, ada beberapa tindakan orangtua yang justru melanggar batas privasi dan berefek buruk terhadap anak. 

Sebagai orangtua, Mama tentu akan bereaksi jika ada orang lain yang melanggar batasan tersebut. Namun Mama juga sering lupa kalau Mama mungkin melakukan hal yang sama kepada anak.

Anak-anak pada usia 2 hingga 10 tahun yang paling sering mengalami perlakuan yang melanggar batas pribadi. Pola asuh anak pra remaja seringkali melupakan bahwa anak harus dihormati privasinya.

Berikut adalah beberapa tindakan yang (tanpa sengaja) melanggar batasan anak. Popmama.com rangkum untuk Mama ketahui!

1. Mencium anak

1. Mencium anak
Pexels/Albert Rafael

Mencium anak adalah tanda sayang orangtua. Namun Mama pasti akan merasa sangat terganggu ketika orang asing tiba-tiba menghampiri dan mencium anak Mama. Pada usia 2-10 tahun, anak mungkin belum cukup umur untuk mengetahui ada sesuatu yang salah.  

Tetapi sebagai orangtua, Mama lakukan. Mama mungkin tidak akan berpikir kalau ini bisa diterima jika melakukannya kepada orang dewasa yang tidak dikenal dan malah akan mengakibatkan masalah.

Sebagian anak mungkin akan malu jika Mama menciumnya secara terang-terangan di depan umum. Sebaiknya, jangan melakukan kontak fisik yang tidak diinginkan atau diminta oleh anak.  

2. Memaksa memberikan pelukan

2. Memaksa memberikan pelukan
Freepik/pressfoto

Sama dengan mencium anak di depan umum, dengan memaksa anak untuk memberikan kasih sayang secara fisik, kita merampas pilihan mereka untuk menolak sentuhan serta mengajarkan pelajaran jangka panjang tentang siapa yang mengendalikan tubuh mereka.

Penting bagi Mama untuk memastikan anak mengetahui bahwa mereka memiliki keputusan atas segala yang berhubungan dengan tubuh mereka. Ini berarti bahwa jika anak Mama tidak ingin memeluk nenek atau anggota keluarga lain, tidak apa-apa.

3. Memukul dan melakukan kekerasan fisik lainnya

3. Memukul melakukan kekerasan fisik lainnya
Shutterstock/ZNAYMERU

Masih ada orangtua yang percaya bahwa tidak apa-apa untuk memukul anak. Hanya karena itu terjadi pada banyak orangtua ketika masih anak-anak, ini tidak menjadikan tindakan tersebut boleh dilakukan kepada anak. Memperbaiki perilaku ini sulit, tetapi diperlukan untuk membesarkan anak yang stabil secara emosional.

Sekali lagi, perlu diingat bahwa jika orang dewasa secara fisik menyakiti atau menyerang orang dewasa lain, itu dianggap sebagai tindakan ilegal. Jadi, mengapa kita mencoba merasionalisasi memperlakukan anak-anak kita dengan cara ini?

Editors' Picks

4. Memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan

4. Memaksa anak melakukan sesuatu tidak mereka inginkan
Freepik

Sebagai orang dewasa, jika menolak dan berkata "tidak," kemungkinan besar keinginan Mama akan dihormati.

Tetapi untuk beberapa alasan, dengan anak-anak, orangtua mungkin akan mengabaikan mereka ketika mereka mengekspresikan keinginan mereka untuk tidak melakukan suatu tindakan.

Tentu, ada saat-saat ketika Mama harus meolak keputusan anak misalnya jika anak tidak mau pergi ke sekolah. Orangtua membesarkan anak dengan keyakinan mendasar bahwa sebagai orangtua memiliki kekuatan untuk mengatur keputusan anak. Namun orangtua juga memiliki harapan bahwa anak akan menjadi individu yang mandiri, yang mampu berbicara untuk diri mereka sendiri di masa depan.

Ingat, anak-anak belajar melalui tindakan atau contoh dari orangtua. Jika Mama menginginkan anak dapat berpikir kritis dan membuat keputusan sendiri, Mama harus mengajari mereka bahwa perspektif dan suara mereka penting.

5. Menyangkal perasaan anak

5. Menyangkal perasaan anak
Freepik/Zilvergolf

Ketika ada orang asing yang sedang kesal, Mama tidak mungkin akan menghampirinya dan berkata, “ Hei, ayo tersenyum! Saya tidak suka kamu terlihat kesal!”

Tetapi ketika itu terjadi pada anak, Mama mungkin akan mengatakan kepada anak agar mereka berhenti menangis atau mengeluh. Karena bagi Mama, tidak masuk akal untuk marah atau sedih.

Memberitahu anak untuk ceria ketika mereka sedang sedih atau mengekspresikan emosi, mengirimkan pesan yang membingungkan dan dapat menyebabkan penindasan emosional. Jika Mama mengalami hari buruk dan boleh mengungkapkannya, mengapa tidak dengan anak? Hal yang menurut Mama sepele bisa jadi merupakan hal penting bagi anak.

Yuk, mulai hargai emosinya. Justru bagus jika anak mau menunjukkan emosinya di depan Mama.

6. Membocorkan rahasia anak kepada orang lain

6. Membocorkan rahasia anak kepada orang lain
Pixabay/irinakeinanen

Tidak ada yang suka kalau rahasianya dibocorkan. Rasanya tidak enak. Namun, sebagian orangtua mungkin merasa hal tersebut dapat diterima jika mereka melakukan hal tersebut kepada anak.

Ketika anak melakukan sesuatu yang rahasia dan memberitahukan kepada Mama dengan harapan menjaga rahasia itu, jangan dibocorkan ya, Ma. Mari ajari anak bahwa mereka juga memiliki hak privasi dan Mama menghormati privasi anak

Ingat, anak belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri dan apa yang akan mereka terima dari orang lain di setiap tahap kehidupan. Mereka menyerap pesan yang disengaja dan tidak disengaja setiap kali mereka berinteraksi dengan orangtua. Dan jika orangtua secara tidak disengaja telah mengirim pesan bahwa suara, preferensi, atau otonomi tubuh mereka tidak penting, mereka mungkin berakhir dengan risiko pengalaman negatif di masa depan.

Yuk, mulai menghargai hak anak.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!