Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
keluarga sedang bermain bersama
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Intinya sih...

  • Anak bisa duduk tenang saat makan menunjukkan kemampuan mengendalikan diri dan fokus yang lebih baik.

  • Frekuensi anak marah dan tantrum mencerminkan kondisi emosional yang tak stabil dan dipengaruhi oleh respons orangtua.

  • Kemampuan anak mengurangi penggunaan gawai menunjukkan kontrol diri yang baik serta hubungan emosional yang kuat dengan orangtua.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menerapkan pola asuh yang tepat, merupakan salah satu tantangan terbesar bagi setiap orangtua dalam mengasuh anak. Perlu diingat bahwa tidak ada rumus pasti dalam mendidik anak karena setiap anak sejatinya memiliki karakter, kebutuhan, serta tahapan perkembangan yang berbeda-beda.

Meskipun demikian, terdapat sejumlah indikator yang dapat membantu orangtua mengevaluasi apakah pola didik yang diterapkan sudah berjalan secara sehat dan efektif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola dan cara asuh yang tepat, tidak hanya membentuk anak menjadi patuh, melainkan membantu anak tumbuh sebagai pribadi yang mandiri.

Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk mengevaluasi apakah cara mendidik Mama sudah bisa dikatakan baik dalam mendidik anak? Berikut ini Popmama.com telah merangkum tujuh tes apakah pola didik orangtua sudah benar diterapkan pada anak. Disimak, ya!

1. Anak sudah bisa duduk tenang saat makan

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Tes pertama yang dapat Mama lakukan untuk menilai efektivitas pola asuh adalah dengan memperhatikan apakah anak sudah mampu duduk tenang saat waktu makan. Kebiasaan sederhana ini mencerminkan kemampuan anak dalam mengendalikan diri. Anak yang terbiasa makan dengan tertib, umumnya memiliki kemampuan regulasi emosi dan fokus yang lebih baik.

Menurut Dr. Laura Markham, psikolog anak dan penulis buku Peaceful Parent Happy Kids, kebiasaan duduk tenang saat makan bukan hanya soal sopan santun, tetapi juga melatih anak untuk mengenali rasa lapar dan membangun hubungan positif saat di meja makan.

Anak yang dibiasakan makan tanpa distraksi, seperti televisi atau gawai, cenderung lebih sadar terhadap porsi tekstur dan rasa makanan, sehingga mendukung kebiasaan makan sehat sejak dini. Di sisi lain, anak yang sulit duduk tenang saat makan dapat menjadi tanda kurangnya rutinitas, kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, atau pola disiplin yang belum konsisten.

2. Apakah anak sudah jarang marah

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Frekuensi anak marah dan tantrum dapat menjadi cerminan kondisi emosional yang tak stabil pada pola komunikasi dalam anak dan keluarga. Anak yang sering kali meluapkan emosi secara meledak-ledak dinilai belum mampu mengendalikan emosi dan regulasi emosi tubuh dengan baik.

American Academy of Pediatrics (AAP), menjelaskan bahwa keterampilan mengendalikan emosi mulai berkembang sejak usia dini dan sangat dipengaruhi oleh respons orangtua terhadap perilaku anak. Pola asuh yang penuh empati, konsisten, dan suportif dinilai efektif membantu anak mengenali dan memahami emosinya secara sehat.

3. Apakah anak susah saat diminta belajar di rumah

Freepik/pvproductions

Anak yang bersedia belajar tanpa paksaan umumnya memiliki motivasi intrinsik yang baik serta merasa aman secara emosional. Hal ini menunjukkan bahwa orangtua berhasil menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan tidak menekan.

Menurut penelitian dari Harvard Graduate School of Education, anak yang dibesarkan dalam suasana suportif dan penuh dialog antar orangtua, dinilai lebih mudah membangun minat belajar dibanding anak yang sering mendapatkan tekanan atau hukuman.

Untuk itu, Mama dapat membantu dengan menciptakan rutinitas belajar yang fleksibel, suasana yang menyenangkan, serta memberikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya berpusat pada hasil ataupun nilai semata.

4. Apakah anak mudah rewel saat berbelanja di Mall

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Kemampuan anak dalam mengendalikan keinginan saat berbelanja juga dinilai menjadi indikator penting dalam menilai pola asuh keluarga di rumah. Anak yang mampu menerima penolakan saat berada di tempat umum menunjukkan bahwa ia telah belajar memahami aturan, menunda kepuasan, serta mengelola emosi dengan jauh lebih matang.

Menurut Psikolog Anak, Dr. Alan Kazdin, menjelaskan bahwa anak yang terbiasa mendapatkan penjelasan serta aturan yang diterapkan secara konsisten di kehidupan sehari-hari akan lebih mampu mengelola ekspektasi ketika menghadapi keinginan yang tak terpenuhi.

Sebaliknya, anak yang sering rewel atau tantrum di pusat perbelanjaan kerap menandakan adanya pola asuh yang terlalu permisif. Studi dalam Journal of Child and Family Studies, menyebutkan bahwa anak yang tidak dibiasakan menghadapi batasan sejak dini cenderung memiliki kontrol impuls yang lebih rendah dan lebih sulit dalam menerima penolakan.

5. Apakah anak mau mendengarkan saat dinasihati

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Hal yang bisa Mama perhatikan adalah mengenai respon anak saat dinasehati. Anak yang bersedia mendengarkan nasihat mencerminkan adanya hubungan emosional yang kuat dan rasa aman dalam komunikasi keluarga. Pola asuh yang terbuka membuat anak merasa dihargai, sehingga lebih mudah saat menerima arahan.

Menurut American Psychological Association, komunikasi dua arah yang dilandasi empati, kehangatan dan sikap saling menghargai berperan besar dalam membangun kelekatan emosional yang sehat antara orangtua dan anak. Ketika anak merasa dipahami, ia cenderung lebih kooperatif serta mampu menerima masukan tanpa merasa disalahkan.

6. Apakah anak memiliki kepribadian ceria dan aktif

Freepik

Salah satu cara paling sederhana adalah dengan mengamati kepribadian anak dalam keseharian. Anak yang tampak ceria, aktif, dan antusias berinteraksi dengan lingkungan sekitar, umumnya mencerminkan kondisi emosional yang sehat serta rasa aman yang kuat di dalam keluarga.

Ketika anak berubah dan mempunyai ciri-ciri pasif atau menarik diri, dapat menandakan adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Hal ini juga didukung oleh studi Journal of Child Psychology and Psychiatry, menunjukkan bahwa kurangnya kelekatan emosional dan minimnya stimulasi pada anak berisiko menghambat perkembangan sosial dan mental mereka kedepannya.

Oleh karena itu, kepribadian ceria dan aktif dapat menjadi indikator penting bahwa pola didik orangtua telah berjalan sehat dalam mendukung tumbuh kembang anak.

7. Apakah anak mampu mengurangi penggunaan gawai

Freepik

Kemampuan anak membatasi penggunaan gawai secara mandiri juga menjadi salah satu indikator penting bahwa pola didik orangtua telah diterapkan secara sehat dan efektif di lingkungan keluaga. Anak yang mampu melepaskan diri dari layar gawai, umumnya memiliki kontrol diri yang baik serta hubungan emosional yang kuat dengan orangtua.

Menurut Dr. Jenny Radesky dari University of Michigan, menjelaskan bahwa kebiasaan digital anak sangat dipengaruhi oleh pola interaksi keluarga. Anak yang mendapatkan perhatian, komunikasi hangat, serta stimulasi bermain cenderung tidak menjadikan gawai sebagai pelarian utama.

Hal inilah yang membuat penggunaan gawai yang berlebihan, dapat menjadi sinyal bahwa anak kurang mendapatkan batasan yang jelas saat di rumah. Kondisi ini juga berisiko memengaruhi perkembangan dan kemampuan konsentrasi anak.

Itulah Ma, informasi penting cara mengetahui apakah pola didik orangtua sudah benar untuk diterapkan di rumah. Penting juga untuk menerapan aturan penggunaan gawai pada anak, disertai pengawasan untuk membentuk kebiasaan digital yang sehat dan seimbang sejak dini.

Editorial Team