6 Cara Membuat Anak Menjadi Hebat dengan Mengasah Soft Skillnya

Jangan sepelekan ya Ma, soft skill ternyata amat penting dalam kehidupan anak kelak

8 Maret 2021

6 Cara Membuat Anak Menjadi Hebat Mengasah Soft Skillnya
Pixabay/Foundry_life

Semua orangtua tentunya ingin agar anaknya menjadi nomor satu dalam bidang pelajaran. Berbagai les dijalani oleh si Anak agar ia mendapatkan nilai tertinggi di sekolah. Semakin tinggi peringkat si Anak di sekolah, maka semakin bangga pula orangtuanya. Hal ini tentunya tidaklah salah.

Siapa yang tak ingin anaknya pintar?

Namun, tahukah Mama, bahwa kesuksesan hidup tak hanya didapatkan dari kepandaian anak dalam pelajaran semata? Soft skill juga penting dalam kesuksesan hidup si Anak kelak.

Simak rangkuman Popmama.com berikut yuk, Ma.

Apakah Hard Skill dan Soft Skill?

Apakah Hard Skill Soft Skill
Pixabay/federicoghedini

Hard skill adalah keterampilan yang didapatkan melalui pelatihan dan pendidikan. Pada usia sekolah, yang termasuk di dalam hard skill adalah menulis, berhitung, atau menghapal. Hal ini diterapkan pada pelajaran sekolah.

Sedangkan soft skill adalah karakter dan keterampilan dalam diri anak, terkait hubungannya dengan orang lain. Keterampilan ini antara lain muncul dalam cara ia bersosialisasi, berkomunikasi, bernegosiasi, bertingkah laku, juga dalam kecerdasan emosionalnya.

Hard skill dan soft skill menjadi amat penting dalam kehidupan anak karena saat dewasa nanti, ia juga harus bisa piawai bersosialisasi, juga menyampaikan gagasan terkait hard skill yang ia miliki. Dengan demikian, ia juga akan bisa menempatkan diri dengan baik, serta mampu bekerja sama dalam tim. Soft skill yang baik akan membuat anak disukai oleh teman-temannya, juga oleh rekan kerjanya, dan masyarakat kelak.

Apa Sajakah yang Termasuk dalam Soft Skill?

Apa Sajakah Termasuk dalam Soft Skill
Pixabay/Esther Merbt

Berikut daftar beberapa soft skill yang berguna bagi masa depan si Anak:

Keterampilan bersosialisasi: hal ini termasuk berinteraksi dengan orang-orang di sekeliling si Anak, baik sepantaran ataupun orang dewasa.

Keterampilan berperilaku: mengucapkan "terima kasih," "kembali," atau selalu menjawab orang dengan sopan saat ditanya, ataupun menahan pintu masuk bagi orang lain, adalah hal yang penting dalam bermasyarakat. Siapa yang mengajarkan hal ini kalau bukan orangtua? 

Keterampilan berkomunikasi: termasuk cara berbicara dengan orang lain, seperti guru atau teman-temannya, bagaimana menyampaikan ide dengan jelas dan ringkas, serta penuh percaya diri.

Kemampuan mendengarkan orang lain: sama seperti komunikasi, mendengarkan orang lain adalah salah satu soft skill yang juga penting dalam hubungan si Anak dengan orang lain.

Kemampuan berempati: hal ini termasuk menempatkan diri di dalam posisi orang lain. Anak akan lebih mengerti situasi yang dialami oleh orang lain jika ia mengerti seperti apa keadaan orang lain tersebut.

Keterampilan menyelesaian masalah: tak hanya dalam matematika, penyelesaian masalah dalam kehidupan yang dijalani oleh anak sehari-hari, juga tak kalah pentingnya. Salah satu persoalan sederhana: apa yang akan ia lakukan jika listrik mati di rumah saat ia sedang belajar untuk ulangan esok hari?

Kemampuan pengendalian diri: hal ini termasuk mengendalikan emosi, tidak seenaknya memotong perkataan orang, atau tidak meledak-ledak mencurahkan amarah di depan umum.

Kepercayaan diri: tidak ada anak yang lahir dengan langsung memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Percaya diri datang dari dari mencintai dan menerima keadaan diri sendiri, dan juga didikan Mama.

Bekerja sama dalam tim: kelak menjadi salah satu pertanyaan yang selalu ditanyakan pihak pemberi kerja kepada pelamar pekerjaan, soft skill ini bisa diajarkan kepada anak sejak kecil.

Bagaimana mengasah soft skill anak? Berikut beberapa cara yang bisa Mama lakukan:

1. Ajak anak ke tempat ramai

1. Ajak anak ke tempat ramai
Pixabay/PhotoMIX-Company

Biarkan si Anak terlibat dengan lingkungan sekitarnya. Ajaklah ia ke beragam tempat dan biarkan ia melihat bagaimana orang berinteraksi satu sama lain. Bawa serta anak ke pasar tradisional, tempat bermain, taman umum, mal, bahkan acara seperti pesta pernikahan atau perayaan lainnya. Dari situ anak akan belajar melihat bagaimana orang berinteraksi satu sama lain.

Editors' Picks

2. Biarkan anak mandiri

2. Biarkan anak mandiri
Pixabay/Jason Goh

Alih-alih berusaha mengatur karena merasa tahu yang terbaik untuk anak, sebaiknya Mama berusaha untuk menahan diri dan membiarkan si Anak mengambil keputusan sesuai yang ia inginkan.

Biarkan ia pergi sendiri ke minimarket saat hendak membeli sesuatu, misalnya. Atau biarkan ia bereksplorasi sendiri bersepeda berkeliling di seputar perumahan. Anak akan belajar untuk memperhatikan keadaan sekitar dan percaya diri dalam menjaga dirinya sendiri.

3. Libatkan anak dalam berbagai kegiatan

3. Libatkan anak dalam berbagai kegiatan
Pixabay/Josh Dick

Dorong anak untuk ikut dalam berbagai kegiatan. Biarkan ia mengambil kegiatan ekstrakurikuler apapun yang ia inginkan. Pacu anak agar ikut dalam kegiatan organisasi di sekolah. Dukung ia agar dapat belajar berorganisasi dan bersosialisasi, apapun bentuknya. Dari kegiatan ini, anak akan belajar banyak hal, termasuk kerja sama dalam tim.

4. Pacu anak mengikuti lomba

4. Pacu anak mengikuti lomba
Pixabay/Arek Socha

Belajar menerima kekalahan serta kemenangan merupakan bagian dari kehidupan. Dorong anak untuk mengikuti lomba di klub olahraga yang diikutinya. Dukung ia mengikuti perlombaan tujuh belasan yang diadakan di lingkungan rumah.

Jika memungkinkan, biarkan ia terlibat untuk ikut membantu jika Mama ikut menjadi panitia persiapan kegiatannya. Ia akan berlatih pula untuk bersosialisasi dengan orang dewasa, yaitu teman-teman Mama.

5. Ajak anak mengobrol

5. Ajak anak mengobrol
Pixabay/Amber McAuley

Salah satu cara untuk melatih anak menghadapi masalah adalah berpura-pura menghadapinya. Dalam keadaan santai, Mama bisa memancingnya dengan pertanyaan: "apa yang kamu lakukan jika...?" Atau, untuk membangun empati, Mama bisa bertanya, "kalau kita bisa ngomong dengan binatang yang dikurung itu, apa yang mau kamu katakan?"

Anak akan terlatih untuk berimajinasi, mengungkapkan pendapat, berempati, sekaligus mendapat pengarahan dari Mama terkait apa yang sepatutnya ia lakukan melalui obrolan santai.

6. Beri contoh pada anak

6. Beri contoh anak
Pixabay/Pexels

Soft skill adalah keterampilan yang dimulai dari keluarga. Sedari kecil, anak akan memerhatikan apa yang dilakukan oleh Mama dan Papa saat bersosialisasi dengan orang lain. Mereka akan belajar dengan mencontoh lingkungan terdekat, yaitu keluarga.

Oleh karena itu, Mama juga harus bisa mencontohkan perilaku yang baik kepada anak. Mari bentuk anak-anak kita menjadi anak yang hebat, Ma.

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.