TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

8 Alasan Anak Tidak Rela Membuang Barang, Waspada Hoarding Disorder

Kebiasaan tidak rela membuang barang dapat memicu hoarding disorder pada anak

19 September 2022

8 Alasan Anak Tidak Rela Membuang Barang, Waspada Hoarding Disorder
Pexels/Ketut Subiyanto

Ketika si Anak sedang membersihkan ruangan atau membereskan kamar, biasanya akan menemukan barang-barang yang sudah tidak lama digunakan. Barang itu bisa berupa boneka usang, buku bekas, atau mainan lama yang telah rusak.

Namun, si Anak tidak rela membuang barang tersebut, dan akhirnya menyimpan barang itu kembali di suatu tempat.

Mungkin saja orang lain menganggap bahwa benda-benda yang disimpan si Anak sudah tidak layak digunakan atau tidak penting, apalagi jika bendanya berupa plastik bungkus bekas makanan, kotak bekas, sampai price tag baju.

Akan tetapi, si Anak mempunyai alasannya sendiri untuk menyimpan barang-barang tersebut, sehingga tidak ingin membuangnya.

Kebiasaan anak seperti ini bisa memicu gangguan psikis pada dirinya, yaitu hoarding disorder. Hal ini tentu perlu diwaspadai agar tidak semakin parah.

Agar Mama lebih waspada terhadap kebiasaan si Anak dalam menyimpan barang, berikut Popmama.com telah merangkum alasan anak tidak rela membuang barang dari beberapa sumber. Disimak, ya!

1. Barang masih bisa diperbaiki dan dipakai lagi

1. Barang masih bisa diperbaiki dipakai lagi
Unsplash/Trym Nilsen

Saat membereskan ruangan, mungkin anak akan sering menemukan benda-benda yang ternyata sudah dalam keadaan rusak. Misalnya, kipas tangan yang pegangannya sudah patah, atau kemeja yang kancingnya sudah hilang.

Namun, si Anak berpikir kalau barang-barang itu masih bisa diperbaiki dan digunakan lagi dalam keadaan semula. Maka itu, ia memilih untuk menyimpannya kembali walaupun pada akhirnya benda tersebut lupa diperbaiki.

2. Mungkin akan dibutuhkan pada masa mendatang

2. Mungkin akan dibutuhkan masa mendatang
Unsplash/TheMIS Photography

Buku bekas yang halamannya masih kosong, kaleng biskuit yang sudah tidak ada isinya, atau kotak kemasan pasta gigi yang sudah tidak dipakai, merupakan beberapa benda yang menurut anak masih dapat digunakan, tapi mungkin tidak untuk saat ini.

Akibatnya, si Anak memilih untuk menyimpan barang-barang itu karena merasa akan membutuhkannya di masa yang akan datang.

3. Ada tempat untuk menyimpan benda

3. Ada tempat menyimpan benda
Pexels/SHVETS production

Si Anak memiliki kamar yang luas, atau punya ruangan khusus untuk dirinya seperti ruang bermain atau ruang penyimpanan. Ia tidak khawatir untuk menyimpan barang apapun karena merasa punya tempat yang cukup untuk meletakkannya.

Semua benda disimpan begitu saja, bahkan yang sudah tidak terpakai lagi. Selama ia masih memiliki tempat untuk menyimpan semuanya, maka menurutnya tidak akan menjadi masalah.

Editors' Picks

4. Dapat dijual suatu saat nanti

4. Dapat dijual suatu saat nanti
Pexels/Erik Mclean

Saat menemukan barang-barang tidak terpakai tetapi masih dalam kondisi yang baik, si Anak berpikir untuk tetap menyimpannya karena bisa untuk dijual kepada orang lain suatu saat nanti.

Yang menjadi masalah adalah benda-benda tersebut nyatanya tak kunjung dijual, tetapi anak tetap tidak rela membuangnya walaupun ia sudah tidak menggunakan barang itu lagi.

5. Diberikan oleh orang spesial

5. Diberikan oleh orang spesial
Pixabay/Bella H.

Anak sering mendapat barang yang dibelikan oleh orangtuanya, atau selalu diberi hadiah dari teman atau sahabat kesayangannya di hari ulang tahunnya.

Meski benda-benda itu sudah tidak digunakan lagi, terlebih kertas kado yang dipakai sebagai bungkusan hadiah, ia masih menyimpan dan merawatnya dengan baik karena semua itu adalah pemberian dari orang yang spesial bagi dirinya.

6. Punya nilai yang sangat berarti

6. Pu nilai sangat berarti
Pexels/cottonbro

Alasan yang satu ini cukup berkaitan dengan alasan sebelumnya, di mana barang itu merupakan pemberian dari sosok yang sangat berarti untuk si Anak. Benda tersebut sangat berharga baginya, selalu menemaninya di kala senang dan sedih.

Walaupun kini barangnya sudah usang, anak tidak rela untuk membuangnya karena barang itu menyimpan banyak kenangan untuknya, mempunyai nilai yang penuh makna.

7. Lupa kalau pernah memiliki barang tersebut

7. Lupa kalau pernah memiliki barang tersebut
Unsplash/Mike Bergmann

Ketika membersihkan kamar, biasanya si Anak akan menemukan banyak barang yang bahkan ia tidak tahu jika itu adalah miliknya. Melihat kondisi bendanya masih bagus dan bisa digunakan, anak mulai ragu untuk menyimpannya, membuangnya, atau memberikannya pada orang lain.

Karena bingung memilih, si Anak akhirnya memutuskan untuk menyimpannya lebih dahulu, berpikir bahwa bendanya dapat diberikan untuk orang lain saat ia sudah memantapkan pilihannya.

8. Merasa lebih aman jika benda disimpan

8. Merasa lebih aman jika benda disimpan
Pexels/Los Muertos Crew

Sejak kecil, anak sudah terbiasa tinggal dengan barang-barang yang ada di kamar atau ruangannya, baik barang yang memang digunakan maupun yang sudah tidak terpakai lagi. Ia merasa aman berada di sekitar benda-benda miliknya walau sudah menumpuk di mana-mana.

Si anak tidak rela jika ia diharuskan untuk membuang semua barang tidak terpakai yang sudah menghiasi ruangannya selama bertahun-tahun. Anak merasa terancam dan tidak nyaman kalau bendanya harus disingkirkan.

Itulah beberapa alasan anak tidak rela membuang barang atau hoarding disorder yang perlu Mama dan anak mama ketahui.

Untuk menghindari kebiasaan anak yang sering menyimpan barang hingga memicu hoarding disorder, Mama dapat membantu si Anak untuk bisa memilah mana benda yang dapat disimpan, dibuang, atau didonasikan kepada orang yang lebih membutuhkan.

Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk