Bikin Bahagia, Ini 7 Keterampilan Sosial yang Wajib Diasah Sejak Dini

Pupuk keterampilan sosial ini sebagai bekal yang mempermudah hidup anak di masa depan

26 Februari 2020

Bikin Bahagia, Ini 7 Keterampilan Sosial Wajib Diasah Sejak Dini
Freepik/Erhii_bobyk

Dalam hidup ini, manusia perlu memiliki berbagai keterampilan untuk bertahan hidup. Salah satu yang penting diasah sejak dini adalah kemampuan sosial. Keterampilan sosial yang baik membuat anak menikmati hubungan dengan teman sebaya yang lebih harmonis. Anak dengan keterampilan sosial yang baik pula, mendapatkan manfaat secara langsung, seperti mengurangi stres saat berada di luar rumah atau sekolah.

Dilansir dari verywellfamily.com, sebuah studi yang dipublikasikan di American Journal of Public Health menyatakan bahwa keterampilan sosial dan emosional anak di usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar dapat menjadi bekal kesuksesannya di masa dewasa kelak. Bahkan, penelitian dari Penn State dan Duke University menemukan anak dengan kemampuan mendengarkan, berbagi, bekerjasama, dan mengikuti peraturan di usia lima tahun, mendapatkan pekerjaan yang baik di usia 25 tahun.

Lantas, apa saja sih kemampuan sosial yang harus dimiliki anak sejak usia dini? Berikut Popmama.com merangkum tujuh kemampuan sosial tersebut:

1. Berbagi dengan teman

1. Berbagi teman
Freepik
Freepik

Secara alamiah, anak antara usia tiga hingga enam tahun punya ego yang tinggi dan cenderung mementingkan dirinya sendiri. Mereka tidak suka berbagi hal yang disukainya, seperti kue, camilan atau mainan favoritnya. Di sisi lain, jika mereka berbagi, mungkin yang diberikan pada orang lain adalah hal yang tidak lagi diminatinya. 

Di usia tujuh atau delapan tahun, sebagian besar anak sudah memiliki kepedulian terhadap keadilan dan lebih bersedia jika diminta berbagi. Anak yang merasa puas dengan diri mereka sendiri, punya keinginan berbagi lebih besar. Berbagi membuat mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Jadi, penting sekali mengajari anak berbagi dengan orang lain sebagai cara untuk meningkatkan harga dirinya.

2. Bisa bekerjasama dalam kelompok

2. Bisa bekerjasama dalam kelompok
Freepik/Rawpixel.com

Keterampilan kerjasama yang baik sangat penting untuk keberhasilan anak bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Di masa kanak-kanak, anak perlu bekerjasama dengan teman-temannya saat bermain dan belajar di kelas.

Dalam kerjasama, dibutuhkan partisipasi, kontribusi dan saling menolong. Di kemudian hari, keterampilan bekerjasama ini penting saat ia dewasa, di dunia kerja maupun dalam hubungan romantis bersama pasangan.

3. Mendengarkan dan menyimak pembicaraan dengan orang lain

3. Mendengarkan menyimak pembicaraan orang lain
Freepik

Di sini, konteks mendengarkan bukan secara fisik, tetapi menyimak dan memahami apa yang dikatakan orang lain. Dalam komunikasi yang sehat, kemampuan mendengarkan sangatlah penting dimiliki seseorang. 

Sebagian besar kesuksesan akademis seseorang ditentukan dari kemampuannya menyimak dan memahami apa yang disampaikan pengajar. Menyerap materi yang diberikan, mencatat dan berpikir kritis semuanya diawali dari kemampuan mendengar dan menyimak yang baik.

Editors' Picks

4. Mengikuti peraturan dan perintah

4. Mengikuti peraturan perintah
Pixabay/MJ555

Anak yang tidak mampu mengikuti aturan atau perintah, akan mengalami banyak kesulitan dalam lingkungan sosial dan akademisnya. Mereka mungkin harus mengulang tugas dan pekerjaan rumah. Lebih jauh lagi, saat ia bertumbuh menjadi remaja, ia berpeluang mendapat masalah karena kelakuan buruk akibat tidak mentaati aturan.

5. Menghormati ruang personal

5. Menghormati ruang personal
Freepik

Sebagian anak mungkin merasa akrab dengan kerabat dan teman-temannya, hingga tidak memahami adanya batasan ruang personal yang harus dihormati. Penting bagi orangtua untuk memberikan pemahaman tentang hal ini agar anak dapat diterima di lingkungan sosialnya, tanpa menimbulkan rasa tak nyaman dari orang lain yang berinteraksi dengannya.

Sebaliknya, orangtua juga perlu menjadi contoh yang baik bagi anak. Sesederhana menerapkan aturan di rumah untuk mengetuk pintu kamar sebelum masuk. Aturan ini diberlakukan agar anak tahu batasan ruang personal orang lain yang harus dihormati.

6. Melakukan kontak mata saat berbicara

6. Melakukan kontak mata saat berbicara
Freepik/noxos

Sebagian anak mengalami kesulitan melihat mata orang yang diajak berbicara. Di budaya masyarakat timur, hal ini dianggap tidak sopan. Keterampilan ini memang butuh diasah, khususnya bagi anak yang punya sifat pemalu.

Dalam berkomunikasi, kontak mata berperan penting. Tekankan pada anak bahwa dengan memandang mata orang yang diajak berbicara, itu tandanya kita menghormati dan menyimak pembicaraannya, dan semua orang senang diperlukan seperti itu.

7. Memiliki sopan santun dalam berperilaku

7. Memiliki sopan santun dalam berperilaku
Freepik/tirachardz

Mengucapkan "tolong", "terima kasih" dan "maaf" merupakan perilaku sopan santun dasar yang harus ditanamkan sejak kecil. Perilaku sopan santun lainnya yang tak kalah penting, misalnya tertib antrian, tidak bersendawa keras saat makan dan mengucapkan "permisi" jika lewat di depan orang lain.

Sopan santun dalam berperilaku adalah bekal kehidupan yang dapat membantu kehidupan sang Anak sendiri hingga ia dewasa. Mereka akan mendapatkan perhatian dan dihormati karena sikap mereka yang hormat terhadap orang lain.

Tentu saja, mengajarkan sopan santun terkadang seperti perjuangan tiada habisnya. Namun, dengan contoh setiap hari yang dilihat anak dari orangtua dan lingkungan kecilnya, niscaya pelajaran sopan santun akan lebih mudah diingat anak.

Keterampilan sosial bukanlah sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki anak. Keterampilan ini harus terus-menerus diasah agar sempurna sampai anak dewasa. Carilah saat di mana anak dapat diajari keterampilan sosialnya langsung, bukan sekadar teori. Beberapa keterampilan sosial punya tingkat kerumitan tinggi, seperti memahami kondisi orang lain, bersikap asertif jika diganggu orang lain, atau mengendalikan diri dan menyampaikan pendapat dengan baik jika tidak setuju. 

Mulailah dengan keterampilan sosial paling dasar terlebih dahulu dan pertajam kemampuan anak seiring berjalannya waktu. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.