Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Alasan Mengapa Memaksakan Berbagi Berdampak Buruk pada Anak
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

  • Mengganggu pembentukan jati diriPada tahap awal perkembangan, anak sedang membangun pemahaman tentang kepemilikan. Anak belum mampu memahami konsep berbagi dan rasa memiliki.

  • Menghambat regulasi emosiAnak masih belajar mengenali rasa marah, kecewa, dan frustasi. Dipaksa untuk berbagi dapat mengganggu kemampuan anak dalam mengelola emosinya.

  • Otak belum siap untuk berbagi pada anakPerkembangan jaringan saraf pada otak belum sepenuhnya berkembang dengan sempurna. Anak belum mampu menahan dorongan untuk mempertahankan miliknya.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Berbagi merupakan bagian dari nilai moral dan akhlak yang lekat dalam budaya Indonesia. Sejak dini, anak kerap diajarkan untuk mau meminjamkan mainan atau barang miliknya kepada orang lain sebagai bentuk kepedulian dan empati.

Namun, hal tersebut tak selalu benar. Secara medis, perkembangan anak usia dini belum mampu untuk memahami konsep berbagi. Menurut American Academy of Pediatrics, menegaskan bahwa anak di bawah usia 3 tahun masih berada pada tahap egosentris.

Suatu fase dimana anak hanya fokus mengenal diri dan rasa memiliki. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami bahwa memaksakan berbagi, tentu bukanlah tindakan dan solusi yang tepat.

Untuk memahami informasi ini lebih dalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum alasan mengapa memaksakan berbagi dapat berdampak buruk pada anak. Disimak, ya!

1. Mengganggu pembentukan jati diri

Freepik

Pada tahap awal perkembangan, anak sedang membangun pemahaman tentang kepemilikan. Ketika anak mengatakan “punyaku”, tak hanya menandakan anak tidak mau berbagi Ma, melainkan bagian dari proses anak untuk mengenali identitas diri dan rasa memiliki.

Menurut American Academy of Pediatrics, menjelaskan bahwa kemampuan berbagi muncul seiring kematangan empati dan kontrol diri. Jika dipaksa sebelum siap, anak tentu tak akan belajar makna berbagi. Ia justru belajar bahwa rasa tidak nyaman harus diterima tanpa merasakan untuk dipahami.

Secara kognitif, kemampuannya untuk melihat sudut pandang orang lain juga masih sangat terbatas. Anak belum memahami, bahwa meminjamkan sesuatu bukanlah berarti kehilangan.

2. Menghambat regulasi emosi

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Pada dasarnya kemampuan mengelola emosi pada manusia umumnya berkembang secara bertahap. Pada fase awal, anak masih belajar mengenali rasa marah, kecewa dan frustasi. Ia belum sepenuhnya mampu mengungkapkan dengan bahasa yang jelas dan terstruktur.

Ketika dipaksa untuk berbagai, anak tidak belajar untuk berempati. Melainkan mereka hanya belajar menekan perasaan agar situasi dapat terselesaikan dengan cepat. Dalam jangka panjang, hal ini tentu dapat berakibat buruk pada anak dan dapat mengganggu kesehatan psikologis.

3. Otak belum siap untuk berbagi pada anak

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Memasuki usia awal pada anak, perkembangan jaringan saraf pada otak belum sepenuhnya berkembang dengan sempurna. Hal ini berkaitan pada bagian otak prefrontal cortex yang berperan sebagai kontrol implus dan empati anak.

Menurut Academy of Pediatrics, menjelaskan bahwa kemampuan melihat sudut pandang orang lain berkembang bertahap seiring kematangan fungsi eksekutif. Artinya anak belum mampu menahan dorongan untuk mempertahankan miliknya.

Hal ini juga didukung oleh studi dalam jurnal Child Development, yang menunjukkan bahwa perilaku berbagi secara sukarela meningkat ketika fungsi pengendalian diri mulai stabil pada usia tertentu anak. Pada tahap ini, koneksi saraf yang mendukung empati sudah jauh lebih matang, sebelum anak benar-benar memahami makna berbagi yang tepat.

4. Meningkatkan risiko tantrum

Freepik

Kemampuan dalam mengelola emosi dinilai masih sangat terbatas pada anak usia dini. Ia belum mampu menjelaskan rasa kecewa atau marah dengan kata-kata yang jelas. Ketika sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba harus segera dilepaskan, respons yang muncul sering kali berupa tangisan atau teriakan.

Saat orangtua memaksa anak berbagi, mereka dapat merasa kehilangan kendali atas situasi. Perasaan terancam ini memicu respons stress sehingga melepaskan hormon seperti kortisol yang membuat emosi semakin sulit dikendalikan. Inilah yang membuat tangisan bisa berubah menjadi ledakan tantrum.

Menurut psikoterapis anak, Jill Ceder, menegaskan bahwa paksaan tidak mengajarkan sejatinya keterampilan sosial. Anak justru belajar bahwa situasi sosial terasa tidak aman, alih-alih memahami konsep berbagi dengan menyenangkan.

5. Menurunkan rasa percaya diri

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Tanpa disadari sering kali, kebiasaan memaksakan berbagi juga dapat menimbulkan rasa tidak tidak percaya diri atau self esteem yang rendah. Hal ini berkaitan dengan terbentuknya pengalaman anak saat merasa dihargai atau didengar.

Menurut Dr. Laura Markham, menjelaskan bahwa anak sejatinya membutuhkan rasa memiliki dan kontrol atas hal-hal sederhana dalam hidupnya. Kontrol ini, membantu membangun keyakinan diri dan kemandirian pada anak. Ketika kontrol tersebut diambil, tentu berdampak pada pembentukan self esteem anak tak jarang membuat anak kehilangan percaya diri.

6. Berisiko membentuk pola People Pleaser

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Salah satu alasan mengapa memaksakan berbagi berdampak buruk pada anak adalah risiko terbentuknya sifat People Pleaser sejak dini. Ketika si Kecil terus diminta mengalah demi menghindari konflik, ia belajar bahwa kebutuhan orang lain selalu lebih penting daripada kebutuhannya sendiri.

Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai people pleasing, yaitu kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan. Berbagai studi perkembangan menunjukkan bahwa kurangnya rasa otonomi di masa kecil dapat berdampak pada rendahnya kepercayaan diri dan kesulitan menetapkan batasan saat dewasa.

7. Membuat interaksi sosial terasa tidak menyenangkan

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Interaksi sosial seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Melalui kegiatan bermain bersama, anak belajar membangun relasi, mengenal emosi dan mengembangkan keterampilan sosial secara alami. Namun, ketika anak terus dipaksa berbagi, pengalaman sosial justru dapat terasa menekan dan tidak nyaman.

Menurut American Academy of Pediatrics, pengalaman sosial yang positif berperan penting dalam membentuk rasa aman dan kepercayaan diri anak. Anak yang merasa dihargai cenderung lebih terbuka dalam berinteraksi dan mampu membangun hubungan yang sehat. Sebaliknya, tekanan sosial yang tinggi dapat memicu stres emosional bahkan menurunkan minat anak untuk bersosialisasi.

Alih-alih memaksa, Mama dapat mencontohkan perilaku berbagi dalam keseharian, serta memberikan dukungan positif saat anak mencoba melakukannya. Dengan cara ini, anak akan memahami makna berbagi sebagai tindakan tulus, bukan karena tekanan, sehingga ia tumbuh menjadi pribadi yang empatik, percaya diri, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat.

Itulah ma, informasi penting alasan mengapa memaksakan berbagai dapat berdampak buruk pada anak. Mari untuk memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan emosi anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu membangun hubungan sosial yang positif di kemudian hari.

Editorial Team