Emosi Negatif pada Orangtua, Haruskah Disalurkan saat di Depan Anak?

Boleh saja, tetap perlu dikendalikan, Ma

6 Juni 2020

Emosi Negatif Orangtua, Haruskah Disalurkan saat Depan Anak
Unsplash/Andre Hunter

Para orangtua mungkin setuju jika emosi negatif sebaiknya tidak disalurkan di depan anak. Selain anak dapat meniru, hal ini pun bisa saja membuat si Kecil merasa bersalah karena emosi yang mereka tangkap.

Emosi negatif berupa marah atau kekecewaan yang diungkapkan secara berlebihan, seperti berteriak, bentakan, atau bahkan merusak barang-barang di depan anak memang sebaiknya dihindari.

Namun, ternyata emosi negatif secara wajar yang disalurkan di depan buah hati bisa bermanfaat.

Tak hanya membuat Mama dan Papa lebih lega, mengungkapkan emosi negatif juga secara tidak langsung akan membuat anak belajar memahami serta tahu cara mengatasi emosi dirinya sendiri. 

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com jelaskan dampak positif dari menyalurkan emosi negatif di depan anak. 

Editors' Picks

1. Emosi terpendam memengaruhi hubungan dengan anak

1. Emosi terpendam memengaruhi hubungan anak
Pexels/Kat Jayne

Melansir laman The Conversation, tindakan menekan emosi sebenarnya meningkatkan tekanan darah dan gairah fisiologis. Pengamat dapat memahami kesusahan meskipun para orangtua berusaha menyembunyikannya, bahkan membuat mereka merasa stres juga.

Penelitian terbaru juga menemukan bahwa ketika orangtua merasakan emosi negatif (seperti amarah atau dendam) dan menahannya dari anak-anak mereka, mereka mengalami kualitas hubungan yang lebih rendah dan responsif yang berkurang terhadap kebutuhan anak mereka. 

Faktanya, bahkan bayi sangat terpengaruh oleh dinamika interaksi orangtua, salah satunya emosi. Jika Mama meredam dinamika alami ini, bayi bisa saja merasa kesal. Jadi, jangan takut untuk mengekspresikan diri di depan anak ya, Ma. 

2. Boleh diungkapkan, tetapi harus dikendalikan

2. Boleh diungkapkan, tetapi harus dikendalikan
Pexels/Mohamed Abdelghaffar

Di sisi lain, ekspresi kemarahan dan kesedihan yang "tidak terkendali" oleh orangtua juga tidak membantu anak. Tanpa kendali berarti emosi dengan intensitas tinggi, tanpa upaya untuk mengaturnya.

Misalnya, berteriak, menghancurkan barang-barang dan menyalahkan orang lain yang menyebabkan rasa marah. Hal ini dapat berdampak buruk pada anak, alih-alih meluapkan emosi, Mama justru menambah masalah baru. 

Apalagi pada anak usia di bawah 3 tahun, jika mereka melihat orangtua marah hebat, anak akan melakukan hal yang sama saat merasa marah atau kecewa. Anak bisa ikut berteriak, berguling, atau tantrum. 

Terlebih, anak-anak melihat orangtua mereka sebagai panutan dan cenderung meniru perilaku mereka secara sadar maupun tidak sadar. 

3. Tunjukkan cara mengatasi emosi pada anak

3. Tunjukkan cara mengatasi emosi anak
Pexels/Tatiana Syrikova

Jika memang ingin menyalurkan emosi negatif di depan si Kecil, tunjukkan juga kepada anak bahwa Mama dan Papa berusaha mengatasi emosi tersebut. Hal ini dapat membuat anak belajar mengendalikan dan mengatasi emosi sebagai manusia. 

Penelitian klasik menemukan bahwa anak usia 6 tahun memiliki pemahaman emosional dan keterampilan mengambil perspektif yang lebih baik jika Mama berbicara kepada mereka tentang emosi orangtua saat anak berusia 3 tahun.

Jadi pada saat merasa sedih, marah, atau frustrasi dan anak melihat Mama mengekspresikan emosi, jelaskan apa yang terjadi dengan pengertian yang dapat mereka pahami. Jelaskan juga bagaimana cara untuk menghadapinya, ya. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.