5 Alasan Mama Susah Move On dari Terrible Two

Ini alasan mengapa Mama akan kangen masa terrible two

7 Desember 2019

5 Alasan Mama Susah Move On dari Terrible Two
Pexels/Alexander Dummer

Terlepas dari berbagai mitos seputar terrible two, faktanya ada masa ketika si Kecil begitu “susah diatur”, keras kepala, dan hal-hal kecil bisa memicu perdebatan panjang. Waktu makan dan mandi jadi arena pertempuran Mama yang habis-habisan membujuk anak untuk mau melakukannya.

Tiba-tiba anak jadi sangat menantang untuk “ditaklukkan.” Menuruti semua kemauan anak nggak melulu jalan terbaik. Mama bisa sesekali mengambil jalan berbeda untuk meminta anak menuruti perintah Mama, meski itu berarti akan ada pertarungan yang harus dilewati.

Namun, sewaktu terrible two berlalu, mendadak Mama kangen pada segala cerita kerepotan mengasuh anak di masa tersebut. Kira-kira apa saja yang bikin Mama susah move on dari terrible two si Kecil? Berikut Popmama.com berikan jawabannya.

1. Anak tampil sebagai individu

1. Anak tampil sebagai individu
Pexels/Di Lewis

Masa terrible two boleh disebut sebagai tahapan transisi anak dari bayi menuju sosok individu yang berbeda dan terpisah dari Mama sebagai orangtuanya.

Pada satu titik, anak menyadari bahwa ia adalah individu yang punya pemikiran, pendapat, dan keinginan sendiri. Ia mulai mengekspresikan preferensi dan keinginan secara verbal, meski kadang belum bisa dipahami jelas oleh orang di sekitarnya.

Hal tersebut memunculkan rasa frustrasi pada diri anak karena Mama kadang sulit menangkap maksud si Kecil.

Editors' Picks

2. Anak belajar menyayangi orang lain

2. Anak belajar menyayangi orang lain
Parents.com

Hingga ia berusia 2 tahun, dunia masih berputar di sekeliling si Kecil. Bagi anak, ia adalah pusat dunia. Namun, perlahan ia mulai menyadari keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Salah satu buktinya, anak ingin tahu pada setiap hal yang dilakukan anggota keluarga. Pertanyaan seperti, “Mama lagi apa?” atau “Papa mau ke mana?” menunjukkan ia peduli pada orang lain.

Ketika anak mulai peduli pada hal-hal di sekitarnya, ia belajar pula untuk menyayangi. Maka, cara mengekspresikan rasa sayang dan belajar berempati bisa mulai dilakukan si Kecil di usia ini.

3. Anak senang mengekspresikan diri

3. Anak senang mengekspresikan diri
Freepik/jcomp

Si Kecil selalu punya pendapat tentang semua hal yang ia lihat sehari-hari. Entah bagaimana, ia mampu mengekspresikan apa yang ada dalam pikirannya dengan bahasa sederhana.

Memang menginjak usia 2 tahun, anak sudah mampu menguasai sekitar 300 kata. Di akhir tahun kedua kehidupannya, ia mampu mengombinasikan 3-5 kata dalam satu kalimat.

Mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir mungil si Kecil membuat Mama sadar bahwa anak sudah pandai beropini. Tak ada salahnya Mama mulai memberi anak kesempatan memilih dan mengambil keputusan sederhana terkait dirinya sendiri.

4. Anak mengembangkan imajinasinya

4. Anak mengembangkan imajinasinya
freepik.com

Di usia 2 tahun anak mulai mengembangkan imajinasinya, baik lewat permainan peran atau permainan lain. Sebagai contoh, ia coba membangun benteng di kasur dengan bantal dan guling. Di lain waktu, ia mengubah lemari buku menjadi oven untuk memanggang pizza buatannya.

Anak punya cara pandang berbeda pada dunia di sekelilingnya. Ia mengamati semua dengan cermat dan tanpa ragu ia membangun kreativitas sendiri dari imajinasinya.

Mama dapat memberi anak ruang untuk bebas berkreasi dengan barang yang ada di rumah. Tidak perlu mengkritisi karyanya dulu, beri ia kesempatan seluas-luasnya untuk menumpahkan imajinasi itu. Dari sini, ia tengah memupuk rasa percaya diri sekaligus menemukan cara seru untuk mengatasi rasa bosannya.

5. Anak jadi penolong hebat

5. Anak jadi penolong hebat
Pexels/Jennifer Murray

Mama tentu hafal dengan kebiasaan si Kecil, “Aku bisa sendiri, Ma!” berikut keteguhan diri anak bahwa ia bisa melakukan semua sendiri.

Semangat ini, serta rasa ingin tahunya yang besar, bisa Mama fasilitasi dengan meminta bantuannya di rumah. Ia akan senang hati menolong Mama ketika diminta.

Mulai dari mengambilkan pakaian ganti adiknya, membuang sampah di tempatnya, menaruh pakaian kotor di keranjang, hingga membereskan mainan miliknya. Jangan merasa keinginannya menolong itu membuat repot, Ma. Alih-alih ajak ia mengerjakan beberapa tugas rumah bersama, sehingga ia tahu membantu Mama itu seru!

Itulah 5 alasan yang membuat Mama susah move on dari masa terrible two. Apakah Mama punya versi alasan sendiri? Yuk, share di sini!

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.