Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
9 Fakta Roseola pada Anak yang Perlu Mama Ketahui
pinteres.com/Babycenter
  • Roseola adalah infeksi virus HHV-6 atau HHV-7 yang umum menyerang bayi dan balita, biasanya menyebabkan demam tinggi namun tergolong ringan dan bisa sembuh sendiri.
  • Penularan terjadi lewat droplet atau kontak cairan tubuh, dengan gejala awal demam tinggi diikuti ruam merah kecil yang muncul saat suhu tubuh mulai turun.
  • Perawatan umumnya cukup di rumah dengan menjaga hidrasi, istirahat, serta obat penurun demam; segera ke dokter bila muncul tanda bahaya seperti kejang atau kesulitan bernapas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Roseola merupakan salah satu penyakit yang cukup sering dialami oleh bayi dan anak kecil. Meski terdengar mengkhawatirkan karena disertai demam tinggi, kondisi ini umumnya tergolong ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Dilansir dari akun Instagram @citra_amelinda, seorang dokter anak, laktasi, dan penulis buku, roseola adalah infeksi virus yang umum terjadi pada anak usia dini. Agar Mama tidak panik, berikut Popmama.com rangkum 9 fakta roseola yang perlu mama ketahui 

1. Roseola adalah infeksi virus pada anak

Pinterest.com/Annielehir

Roseola merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Human Herpes Virus (HHV) tipe 6 atau 7.

Meski termasuk keluarga herpesvirus, virus ini berbeda dengan jenis herpes yang menyebabkan penyakit menular seksual, ya, Ma.

2. Paling sering terjadi pada bayi dan balita

Pinterest.com/Affiliatedermattology

Dilansir dari jurnal National Library of Medicine, roseola umumnya dialami oleh anak usia 6–12 bulan dan paling sering terjadi pada anak di bawah usia 2 tahun.

3. Cara penularannya melalui droplet

Pinterest.com/Parents

Roseola dapat menular melalui percikan pernapasan seperti air liur atau lendir, serta kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi.

Namun, penularannya tidak secepat penyakit virus lain seperti campak atau cacar.

4. Gejalanya diawali dengan demam tinggi

Pinterest.com

Gejala biasanya muncul 1–2 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh.

Beberapa tanda yang sering muncul, antara lain:

  • Demam tinggi (lebih dari 39°C selama 3–5 hari)

  • Batuk dan pilek

  • Diare

  • Sakit tenggorokan

  • Kelopak mata membengkak

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di leher

  • Nafsu makan menurun

5. Ruam muncul saat demam mulai turun

pexels/Gustavofring

Salah satu ciri khas roseola adalah munculnya ruam setelah demam mereda, biasanya di hari ke-3 hingga ke-5.

Ruam ini memiliki karakteristik:

  • Berupa bintik merah kecil (sekitar 2–5 mm)

  • Memucat saat ditekan

  • Bisa dikelilingi area kulit yang lebih pucat

  • Umumnya muncul di dada dan perut

  • Jarang menyebar ke wajah, leher, tangan, atau kaki

6. Ruam tidak gatal dan bisa hilang sendiri

Pinterest.com/Angiezl

Berbeda dengan ruam penyakit lain, ruam pada roseola biasanya:

  • Tidak terasa gatal

  • Tidak nyeri

  • Tidak melepuh

Ruam ini bisa memudar dalam beberapa jam atau bertahan hingga 2 hari.

7. Umumnya bisa ditangani di rumah

Pinterest.com/Gustavofring

Roseola biasanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan dan tanya jawab dengan dokter.

Kondisi ini tergolong ringan, sehingga sebagian besar kasus bisa ditangani di rumah dengan pemantauan yang tepat.

8. Cara meredakan gejala agar anak tetap nyaman

pexels/Tima Miroshnichenko

Dilansir dari primayahospital.com, beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk membantu meredakan gejala, yaitu:

  • Perbanyak konsumsi cairan (air putih, susu, air kelapa, atau jus buah)

  • Pastikan anak cukup istirahat

  • Jaga suhu ruangan tetap nyaman

  • Berikan obat penurun demam sesuai anjuran dokter

9. Waspadai tanda bahaya yang perlu penanganan medis

pexels/Vikaglitter

Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami:

  • Tidak mau atau tidak bisa minum

  • Sakit kepala berat

  • Nyeri otot hebat

  • Kesulitan bernapas

  • Kejang demam

Meski roseola umumnya tidak berbahaya, kondisi ini tetap perlu diperhatikan agar tidak membuat anak tidak nyaman.

Sebagai langkah pencegahan, Mama bisa menjaga kebersihan tangan dan lingkungan sekitar anak untuk meminimalkan penularan.

Yang terpenting, tetap tenang dan pantau kondisi si Kecil. Jika Mama merasa ragu atau gejala semakin berat, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter, ya.

Editorial Team