Anak-anak dibawah lima tahun adalah kelompok usia yang sangat rentan terhadap kekurangan gizi.
Dampak dari pemenuhan gizi yang tidak optimal dapat memiliki konsekuensi jangka panjang, yang tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengganggu perkembangan kognitif dan motorik, serta perkembangan otak anak secara keseluruhan.
Salah satu masalah yang juga berpotensi signifikan pada anak stunting adalah anak dengan kondisi stunting memiliki risiko anemia dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak stunting.
Di mana anemia umumnya ditemukan pada 1 dari 5 anak Indonesia berusia dibawah 5 tahun. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya memenuhi kebutuhan nutrisi anak sejak dini untuk mencegah dampak jangka panjang yang merugikan.
Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si selaku Lead Gerakan Sekolah Sehat dari Direktorat Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia mengatakan, "Kesehatan merupakan faktor penting agar anak bisa belajar dengan baik. Untuk itu, pemenuhan gizi seimbang harus bisa dipenuhi dengan baik agar anak tetap sehat, salah satunya bisa didapatkan melalui kebiasaan konsumsi susu."
Ia juga menambahkan, "Selain itu, pendidikan dasar menjadi salah satu fase penting dalam perkembangan seorang anak untuk memiliki berbagai kemampuan yang diperlukan saat ia dewasa nanti. Kolaborasi lintas sektor dari berbagai pihak untuk memastikan semua anak Indonesia memiliki hak dan akses terhadap pendidikan yang setara tanpa terkecuali, dan dapat mengimplementasikan serta memaknai Merdeka Belajar dengan baik merupakan hal yang sangat penting."
Akhir kata, "Kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan SGM dalam memberikan bantuan dana pendidikan kepada 70 anak Indonesia. Dukungan ini merupakan langkah awal penting, tidak hanya menyediakan bantuan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak konkrit terhadap pembangunan generasi masa depan yang lebih baik," tutupnya.