Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kronologi Alat Kelamin Anak 3 Tahun di Karawang Digunting dan Ditusuk
Unsplash/Jeff Hendricks
  • MAM mengalami luka serius setelah diduga mengalami kekerasan di Karawang, dengan dua anak di bawah umur disebut terlibat dalam peristiwa tersebut.

  • Setelah mendapat perawatan dan menjalani operasi, MAM masih harus mengikuti kontrol medis serta menghadapi trauma yang terlihat dalam kesehariannya.

  • Keluarga mengawal pemulihan fisik dan psikologis MAM, sementara penanganan dua anak yang berkonflik dengan hukum mengikuti sistem peradilan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (12/10/2026)

Peristiwa yang menimpa MAM terjadi di sekitar kolong jembatan kereta api Simpang Jomin, Kecamatan Kotabaru.

sekitar pukul 15.00 WIB

R disebut sedang memancing ikan di kawasan Jomin ketika MAM menghampirinya.

Sekitar pukul 17.40 WIB

MAM dibawa ke area dekat rel kereta api Simpang Jomin dan diduga mengalami kekerasan di sana.

15 Oktober 2026

UPTD PPA Kabupaten Karawang melakukan penjangkauan. KemenPPPA mengonfirmasi MAM telah menjalani pemeriksaan visum et repertum dan mendapat perawatan medis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    MAM mengalami luka serius dan trauma setelah diduga mengalami kekerasan.
  • Who?
    MAM, Amelia sebagai ibunya, serta dua anak berinisial R (10) dan S (13) yang diduga terlibat.
  • Where?
    Peristiwa diduga terjadi di area dekat rel kereta api Simpang Jomin, Kecamatan Kotabaru, Karawang.
  • When?
    Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (12/10/2026), sekitar pukul 15.00 WIB hingga 17.40 WIB.
  • Why?
    Kepolisian menyebut dugaan awal berkaitan dengan tindakan perundungan, sementara faktor lain masih didalami.
  • How?
    MAM mendapat perawatan medis, menjalani operasi rekonstruksi dan sunat perbaikan, serta dijadwalkan menjalani kontrol dan pendampingan psikologis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

MAM, anak kecil berusia 3 tahun, terluka setelah diduga disakiti oleh dua anak di Karawang. Mama MAM lalu membawanya berobat ke rumah sakit. MAM sudah boleh pulang, tetapi masih harus kontrol. Ia juga masih takut, sulit tidur, dan perlu pendampingan agar bisa pulih.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Keluarga MAM terus mendampingi pemulihan anak, mulai dari perawatan medis hingga rencana asesmen psikologis melalui LPSK. Pemerintah juga menekankan kepentingan terbaik anak bagi korban maupun anak yang berkonflik dengan hukum. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan fisik, kondisi psikologis, perlindungan, dan proses hukum tetap diperhatikan secara bersamaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kasus kekerasan terhadap balita berusia 3 tahun di Karawang, Jawa Barat, menyita perhatian publik. Anak laki-laki berinisial MAM mengalami luka serius pada alat kelaminnya setelah diduga dianiaya menggunakan gunting dan tusuk sate oleh dua anak yang juga masih di bawah umur.

Peristiwa tersebut terjadi di sekitar kolong jembatan kereta api Simpang Jomin, Kecamatan Kotabaru, pada Senin (12/10/2026). Dalam keterangan awal kepolisian, dua anak yang diduga terlibat berinisial R (10) dan S (13).

Di balik luka fisik yang dialami MAM, sang Mama, Amelia, menceritakan perubahan kondisi anaknya setelah kejadian. Di channel Youtube NGOBROL ASIX dan CURHAT BANG Denny Sumargo, ia mengaku sang anak mengalami ketakutan hingga mempertanyakan keberadaan Mamanya saat dirinya membutuhkan pertolongan.

Berikut Popmama.com rangkum kronologi kasus ini serta perjuangan keluarga mendampingi pemulihannya.

1. Bermula saat MAM menghampiri anak yang sedang memancing

Magnific/standret

Dirangkum dari berbagai sumber, kejadian yang menimpa korban MAM bermula sekitar pukul 15.00 WIB. Saat itu, R, salah satu terduga pelaku sedang memancing ikan di kawasan Jomin.

MAM menghampirinya untuk melihat hasil pancingan. Tak lama kemudian, S, terduga pelaku lainnya juga datang ke lokasi.

Kepolisian menyebut kedua anak kemudian pergi ke rumah S untuk mengambil gunting dan tusuk sate. Sekitar pukul 17.40 WIB, MAM dibawa ke area dekat rel kereta api Simpang Jomin dan diduga mengalami kekerasan di sana.

Kasi Humas Polresta Karawang, Ipda Muh Asim, menyebut dugaan awal berkaitan dengan tindakan perundungan.

Sementara itu, keluarga MAM meyebut korban berada di sekitar area majelis pengajian dan bermain di luar sebelum kejadian tersebut berlangsung.

2. Alat kelamin korban diduga ditusuk dan digunting, ada luka di bagian tubuh lain

Pexels/Maksim Goncharenok

Kepolisian mengungkapkan bentuk kekerasan yang dialami MAM tidak hanya terjadi pada alat kelaminnya

Pihak kepolisian menceritakan kalau celana korban dibuka, lalu alat kelaminnya ditusuk dengan tusuk sate dan digunting hingga mengalami luka robek dan berdarah. Korban juga diduga dipukul pada bagian wajah dan dada, sehingga mengalami luka di bahu kiri dan luka cakaran,” ungkap pihak kepolisian.

Setelah MAM menjerit kesakitan, R disebut mengantarkannya kembali ke rumah. Keluarga kemudian membawa anak tersebut untuk mendapatkan pertolongan medis.

Melihat kondisi MAM awalnya dibawa ke bidan, kemudian RS Elsa, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Siloam Purwakarta karena membutuhkan penanganan lebih lanjut.

3. Korban mengalami trauma setelah kejadian

Pexels/Mikhail Nilov

Saat kejadian berlangsung, Amelia sedang bekerja di Klaten, Jawa Tengah. Ia segera kembali setelah mendapat kabar mengenai kondisi anaknya. Dalam podcast NGOBROL ASIX bersama Ashanty, Amelia tidak kuasa menahan tangis ketika menceritakan penyesalannya karena tidak berada bersama MAM saat kejadian.

Perasaan tersebut semakin berat ketika MAM disebut masih mengingat kejadian yang dialaminya. Menurut Amelia, anaknya pernah mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencoba meminta pertolongan ketika berada di dekat jalur kereta.

“Mama, Dedek minta tolong sama kereta tapi keretanya nggak nolongin... Mama ke mana, Mama nggak nolongin Dedek?” cerita Amelia menirukan ucapan anaknya.

Ungkapan tersebut menjadi salah satu bagian yang paling berat bagi Amelia sebagai seorang Mama. Di usia yang baru 3 tahun, MAM disebut masih membawa ingatan tentang ketakutan yang dialaminya saat kejadian.

4. Keluarga sebut MAM harus menjalani operasi dan kontrol berkala

Pexels

MAM sempat menjalani perawatan intensif di RS Siloam Purwakarta. Secara resmi, KemenPPPA mengonfirmasi bahwa korban telah menjalani pemeriksaan visum et repertum serta mendapatkan perawatan medis setelah UPTD PPA Kabupaten Karawang melakukan penjangkauan pada 15 Oktober 2026.

Menurut keterangan Amelia dan keluarga, MAM kemudian menjalani operasi rekonstruksi pada area kelamin serta tindakan sunat perbaikan karena luka yang dialaminya. Keluarga juga menyebut aliran urine anak sempat berubah arah dan merembes dari sisi luka sehingga kondisinya perlu terus dipantau.

Setelah kondisinya stabil, MAM disebut telah diperbolehkan pulang. Namun, keluarga mengatakan anak masih harus menjalani kontrol medis secara berkala untuk memantau pemulihan luka dan fungsi saluran kemihnya.

Keterangan rinci mengenai jenis operasi, kondisi saluran urine, serta prognosis jangka panjang tersebut sejauh ini berasal dari penuturan keluarga. Belum ditemukan pernyataan langsung dokter yang menangani MAM dalam sumber publik yang dapat diverifikasi.

5. Trauma MAM disebut masih terlihat setelah pulang dari rumah sakit

Pexels/Maylight st

Luka yang dialami MAM bukan hanya secara fisik. Amelia mengatakan anaknya mengalami perubahan setelah peristiwa tersebut, mulai dari gangguan tidur hingga ketakutan terhadap benda-benda tertentu.

Menurut sang Mama, MAM kerap terbangun pada malam hingga menjelang subuh sambil menjerit, “Jangan... jangan!”.

Keluarga juga menyebut MAM menjadi takut terhadap benda tajam seperti gunting dan tusuk sate. Ia bahkan disebut beberapa kali menahan buang air kecil karena masih mengingat rasa sakit yang pernah dialaminya.

Selain itu, MAM dikatakan lebih takut bertemu orang asing dan cenderung menutup diri ketika diajak berkomunikasi. KemenPPPA menegaskan bahwa pemulihan fisik maupun psikologis anak harus menjadi prioritas.

KemenPPPA juga menyatakan MAM dijadwalkan mendapatkan pendampingan konselor dan pendampingan psikologis untuk menilai kondisi psikologisnya serta menentukan intervensi lanjutan.

6. Amelia mengaku menolak tawaran damai Rp10 juta

Youtube.com/NGOBROL ASIX

Di tengah proses pemulihan anaknya, Amelia juga menceritakan adanya upaya penyelesaian secara kekeluargaan. Menurut keterangannya, keluarga salah satu anak yang diduga terlibat sempat menawarkan uang Rp10 juta.

Amelia mengatakan dirinya tidak dapat menerima bila kejadian yang dialami MAM dianggap sekadar kesalahan anak-anak biasa.

“Saya sediakan sekarang uang Rp10 juta, tapi saya bikin anak Bapak kayak anak saya, ditendang, dipukul, digunting... Bapak terima enggak?” ujar Amelia.

Ia juga mengaku kecewa karena ketika bertemu dengan anak-anak yang diduga terlibat, dirinya tidak melihat permintaan maaf maupun penyesalan seperti yang diharapkannya.

Di sisi lain, karena pihak yang diduga melakukan kekerasan juga masih anak-anak, penanganan hukumnya mengikuti Sistem Peradilan Pidana Anak. KemenPPPA menyebut anak yang lebih muda diputuskan menjalani rehabilitasi di UPT di bawah Kemensos, sementara anak berusia 13 tahun masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan ditempatkan sementara di salah satu pondok pesantren di Karawang.

Kepolisian sebelumnya menyatakan masih mendalami faktor yang melatarbelakangi tindakan tersebut, termasuk kemungkinan faktor lingkungan.

7. Keluarga akan mengawal pemulihan dan mencari keadilan bagi MAM

Pixabay/MiamiAccidentLawyer

Bagi Amelia, proses hukum bukan satu-satunya hal yang harus diperjuangkan. Ia juga ingin memastikan MAM mendapatkan pemulihan fisik dan psikologis yang memadai setelah kejadian.

Keluarga bersama kuasa hukum berencana mengupayakan perlindungan dan asesmen psikologis melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Keluarga juga menyatakan akan terus mengikuti perkembangan penanganan perkara.

Amelia mengungkapkan kuatnya keinginan tersebut ketika berbicara mengenai keadilan bagi anaknya.

“Kalau misalkan Dedek nggak dapat keadilan di dunia... wallahi aku enggak akan maafin kamu sampai kapan pun, aku tuntut kamu di akhirat nanti,” katanya.

Sementara itu, pemerintah menekankan bahwa kepentingan terbaik anak tetap harus ditempatkan sebagai prioritas, baik terhadap MAM sebagai korban maupun dua anak yang berkonflik dengan hukum.

Kasus MAM menjadi pengingat bahwa kekerasan yang melibatkan anak membutuhkan penanganan yang sangat hati-hati. Korban sudah pasti membutuhkan perlindungan, perawatan medis, dan pemulihan trauma. Namun, proses hukum terhadap anak yang diduga terlibat tetap harus mengikuti ketentuan peradilan anak dan disertai asesmen untuk memahami faktor di balik perilaku mereka.

Curated For You

Editorial Team

Related Article