Lewat caption-nya, Reis juga mengatakan kalau ada penelitian di bidang psikologi yang menunjukkan bahwa anak kecil saat diberikan kebebasan memilih materi yang berbeda akan justru memilih mainan yang mengoptimalkan perkembangannya.
"Penelitian di bidang psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak kecil, ketika bebas memilih materi yang berbeda, akan memilih materi yang mengoptimalkan perkembangannya dan berada tepat di atas tingkat kompetensinya saat ini," tulis Reis.
Hal itu sejalan dengan jurnal penelitian The Choice of Toys by Early Childhood Children. Kesimpulan dari jurnal itu menunjukkan, minat spontan anak terhadap mainan diubah menjadi minat kognitif. Alhasil, itu mendorong mereka untuk memilih mainan tertentu.
Penelitian itu juga mencatat bahwa anak usia 12-24 bulan atau 1-2 tahun membuat pilihan terbanyak dalam hal mainan. Alasannya, itu sejalan dengan meningkatnya aktivitas secara kognitif dan berkembangnya kemampuan sensorik-motorik anak dengan mainan.
Di sisi lain, anak usia 24-46 bulan atau 2-3 tahun berada pada urutan kedua yang membuat pilihan terbanyak mengenai mainan. Hal ini menunjukkan kalau kelompok usia tersebut telah memperluas kegiatan dalam memuaskan minat kognitif mereka pada aktivitas non permainan, seperti lewat melukis, membaca, dan sebagainya.
"Jadi kita tahu kita bisa memercayai anak untuk membuat keputusan yang baik dan tahu bahwa ketika kita mengamati mereka dalam konsentrasi yang intens, maka aktivitas mereka sangat penting untuk perkembangan dan penguasaan diri mereka. Oleh karena itu, kita tidak akan menyela anak, kecuali demi keselamatan atau pertimbangan orang lain," tutup Reis.
Jadi, itulah rangkuman penjelasan tentang alasan Mama penting tak menganggu anak saat bermain. Semoga rangkuman ini bisa menjadi pedoman untuk Mama, ya.