Unsplash.com/fahri ramdani
Secara umum stunting disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak cukup atau mengalami gizi buruk pada ibu dan anak.
Selain itu sebagian besar stunting disebabkan juga kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan gizi sebelum dan masa kehamilan.
Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami kondisi stunting:
- Gizi ibu dan praktik pemberian makan yang buruk pada anak
Bila ibu mengalami anemia dan kekurangan gizi, maka anak akan mengalami stunting.
Masalah gizi anak yang berdampak pada stunting, berkaitan erat dengan asupan gizi dan nutrisi calon ibu.
Dari 89,1 persen perempuan hamil yang mendapatkan tablet tambah darah, hanya sebesar 33,3 persen ibu hamil yang mengonsumsi tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan (Data Riskesdas, 2013)
Perempuan yang kekurangan berat badan dan mengalami anemia selama masa kehamilan juga, akan memungkinkan memiliki anak dengan keadaan stunting.
Bahkan hal ini, berisiko menjadi kondisi stunting yang akan terjadi secara turun-menurun.
Tidak hanya itu, gizi buruk yang dialami ibu selama menyusui juga dapat mengakibatkan pertumbuhan anak terhambat.
Kondisi tersebut juga bisa diperburuk bila asupan gizi pada bayi kurang memadai, misalnya bayi diberikan air putih dan teh sebelum berusia enam bulan.
Seharusnya di usia ini, anak hanya diberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif maupun susu formula sebagai penggantinya.
Selain itu pada momen makan pertama anak, tidak diberikan asupan nutrisi yang lengkap pada menu makanannya. Padahal, momen makan pertama si kecil sangatlah penting.
Lingkungan dengan sanitasi yang tidak sehat dan bersih, menjadi salah satu faktor yang menyebabkan anak stunting.
Sanitasi yang buruk pun berkaitan dengan terjadinya penyakit diare dan infeksi cacing usus (cacingan) secara berulang-ulang pada anak.
Terbukti, kedua penyakit tersebut telah terbukti ikut berperan menyebabkan anak kerdil.
Tingginya kontaminasi bakteri dari tinja ke makanan yang dikonsumsi dapat menyebabkan diare dan cacingan yang kemudian berdampak kepada tingkatan gizi anak.
Praktik hidup inilah yang kemudian dapat mengurangi nafsu makan anak, menghambat proses penyerapan nutrisi di dalam tubuh anak, serta meningkatkan risiko kehilangan nutrisi.
Diperkirakan pernikahan dini menjadi satu diantara penyebab lahirnya balita mengidap stunting.
Balita yang terlahir akibat pernikahan dini kerap lahir dengan tidak sempurna dan terganggu dalam perkembangannya, hal ini pun dapat diindentifikasi ketika balita lahir kurang dari 48 sentimeter.
- Fetus Alcohol Syndrome (FAS)
Anak yang terlahir dengan sindrom alkohol janin juga dapat mengalami stunting. FAS merupakan pola cacat yang dapat terjadi pada janin karena sang ibu mengonsumsi terlalu banyak minuman beralkohol saat sedang hamil.
Anak dengan FAS memiliki sekelompok rangkaian gejala yang mencakup bentuk wajah yang berbeda dari anak normal, pertumbuhan fisik terhambat, serta beberapa gangguan mental.