Konstipasi pada Anak: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Begini penjelasan dari dokter mengenai konstipasi pada anak!

25 Mei 2020

Konstipasi Anak Penyebab, Gejala, Cara Mengatasinya
todaysparent.com

Konstipasi pada anak adalah kondisi di mana si Kecil mengalami kesulitan saat buang air besar (BAB).

Hal ini merupakan kondisi umum yang ditandai dengan feses keras dan kering. Frekuensi normal dan konsistensi BAB bervariasi sesuai dengan usia anak dan pola makan.

Konstipasi adalah kasus yang sebagian besar bersifat sementara pada anak. Untuk mengatasinya, anak perlu mengonsumsi makanan mengandung serat yang baik untuk pencernaanya.

Makanan berserat tinggi sangat bermanfaat untuk proses metabolisme tubuh dengan cara menormalkan gerakan usus, menjaga kesehatan usus dan kualitas tinja, serta mempermudah proses buang air besar.

Kondisi tersebut dapat membantu anak memenuhi kebutuhan nutrisi hariannya serta mencegah makan berlebihan, sehingga memperoleh berat badan yang ideal.

Konstipasi Anak Penyebab, Gejala, Cara Mengatasinya
Dok. Popmama.com/Sarrah Ulfah

Hal tersebut diaminkan oleh Prof. dr. Badriul Hegar, Ph.D, Sp.A (K), peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi yang ditemui tim Popmama.com pada acara talkshow berjudul Bicara Gizi: Peran Serat untuk Dukung Kesehatan Pencernaan Anak yang diselenggarakan oleh Bebeclub pada Rabu, 4 Maret 2020, di KAUM Jakarta Pusat. 

"Serat dapat membantu menyerap air di usus besar, memperbesar volume dan melunakkan konsistensi feses," jelas Profesor Hegar.

"(Serat juga) mempercepat pembuangan sisa makanan dari usus besar, dan menstimulasi agar anak punya keinginan BAB atau buang air besar," tambahnya lagi.

Mengetahui pentingnya serat untuk mencegah konstipasi, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa informasi menariknya.

Editors' Picks

1. Penyebab konstipasi pada anak

1. Penyebab konstipasi anak
Freepik/zilvergolf

Biasanya, konstipasi atau juga disebut sembelit terjadi ketika feses atau tinja bergerak lambat pada saluran pencernaan, yang menyebabkan tinja menjadi keras dan kering.

Selain itu, berikut sejumlah faktor yang menjadi penyebab konstipasi pada anak:

  • Menunda BAB

Anak mungkin mengabaikan keinginan untuk BAB karena asyik bermain atau takut pergi ke toilet. Ketika jauh dari rumah, sebagian anak mungkin menahan BAB karena merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum.

Pergerakan usus yang menyakitkan disebabkan oleh feses besar dan keras dapat menyebabkan menunda BAB. Jika sakit saat BAB, anak mungkin merasa enggan untuk pergi toilet. 

  • Perubahan pola makan

Konstipasi disebabkan karena anak tidak cukup serat dari buah-buahan dan sayuran atau cairan.

Salah satu penyebab konstipasi pada anak yang sering terjadi adalah ketika anak beralih dari makanan serba cair ke makanan padat, seiring bertambahnya usia.

  • Riwayat keluarga

Anak yang memiliki salah satu anggota keluarga yang sering mengalami konstipasi, lebih mungkin berisiko konstipasi. Hal ini mungkin terjadi karena faktor genetik atau lingkungan.

2. Gejala konstipasi pada anak

2. Gejala konstipasi anak
Kidspot.com.au

Gejala utama konstipasi adalah kesulitan buang air besar dengan frekuensi yang lebih jarang dari biasanya (kurang dari tiga kali dalam seminggu).

Secara umum, berikut sejumlah ciri-ciri konstipasi pada anak:

  • Tidak BAB selama beberapa hari
  • Feses keras menyebabkan BAB menyakitkan
  • Demam
  • Perut kembung
  • Penurunan berat badan
  • Nyeri perut (seperti sakit perut, kram, dan mual)
  • Nafsu makan anak yang buruk
  • Pendarahan pada dubur akibat luka (fisura)
  • Bagian usus yang keluar dari anus (prolaps dubur)

Kadang-kadang anak yang sembelit dapat mengalami diare sehingga hal ini akan membingungkan orangtua.

Apa yang terjadi di sini adalah bahwa adanya tinja padat yang terjebak dalam rektum, dan tinja yang agak cair bisa keluar di sekitar tinja yang padat.

Ada beberapa gejala konstipasi lain yang mungkin akan dialami oleh anak-anak, seperti sering mengeluarkan bercak-bercak di celana karena tinja yang menumpuk di rektum, tinja atau kentut berbau busuk, serta cenderung terlihat lemas, rewel atau murung.

3. Cara mengatasi konstipasi pada anak

3. Cara mengatasi konstipasi anak
kidsmilehigh.com

Berikut beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk mengatasi konstipasi pada anak:

  • Obat pelunak tinja

Cara mengatasi konstipasi pada anak yang satu ini tergolong aman, tetapi harus digunakan di bawah pengawasan dokter anak.

Kesalahan umum orangtua yang menggunakan pelunak tinja untuk konstipasi adalah tidak menggunakan dosis yang cukup banyak, atau menghentikannya terlalu cepat.

Misalnya, orangtua mungkin berpikir dapat menghentikan memberikan pelunak feses setelah buang air besar pertama kali tampak normal, akan tetapi berhenti yang terlalu cepat ternyata dapat menyebabkan masalah lain pada anak.

Beberapa anak mungkin perlu untuk tetap menggunakan pelunak feses selama beberapa minggu. Dokter dapat menyarankan tentang jadwal pemberian dosis yang tepat untuk anak.

  • Perbanyak serat dan cairan

Banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, sereal berserat tinggi, roti gandum (minimal 3 sampai 5 gram serat per porsi), dan berbagai kacang-kacangan.

Selain itu, makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt, juga dapat meningkatkan kesehatan pencernaan yang baik.

Perlu dicatat, jika anak banyak mengonsumsi makanan kaya serat tetapi tidak mendapatkan cukup cairan, maka hal tersebut dapat membuat masalah lebih buruk.

Oleh karena itu, anak harus minum banyak air sepanjang hari, bersama dengan beberapa gelas susu, dan batasi minuman manis. 

  • Waktu ke toilet yang teratur

Ingatkan anak untuk ke toilet di pagi hari dan setelah makan untuk BAB. Terutama untuk anak yang lebih kecil, beri perintah secara lembut dan jangan memaksa atau meminta.

Guna mendapatkan hasil yang terbaik, cara mengatasi konstipasi pada anak bisa dengan memperbanyak mengonsumsi makanan berserat, mengonsumsi pelunak feses (bila perlu), dan memperbanyak minum cairan.

  • Pijat perut

Pijatlah perut anak dengan lembut untuk mengendurkan otot-otot yang mendukung kandung kemih dan usus, yang membantu meningkatkan aktivitas usus.

Tetapi pemijatan dilakukan dengan hati-hati dan harus dikerjakan oleh orang yang benar-benar ahli dibidangnya.

Nah, itulah ketiga informasi penting terkait konstipasi pada anak. 

Untuk mencegah konstipasi, pastikan asupan serat yang anak konsumsi tidak kurang dan tidak berlebih.

Agar lebih spesifik dalam menghitung asupan serat yang dikonsumsi anak, kini Mama dapat dengan mudah menggunakan fitur Fibre O Meter yang diluncurkan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia di kanal Bebeclub.

Dengan aplikasi ini, setiap orangtua bisa menggunakan fitur tersebut guna menghitung dan memastikan asupan serat harian anak.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.