Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Adab Anak Saat Kumpul Keluarga yang Wajib Diajarkan
Freepik/Drazen Zigic
  • Momen kumpul keluarga bisa menjadi suatu kecemasan sendiri tentang bagaimana perilaku si Kecil di depan keluarga besar.

  • Berbagai adab sederhana seperti tidak rebutan, minta izin, dan bersikap tenang penting diajarkan sejak dini.

  • Dengan pembiasaan dan kesabaran, si Kecil bisa tumbuh menjadi pribadi yang sopan dan disukai banyak orang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen kumpul keluarga adalah kesempatan berharga untuk mempererat tali silaturahmi. Namun bagi Mama, terkadang momen ini juga bisa jadi suatu kecemasan tentang bagaimana perilaku si Kecil di depan keluarga besar.

Si Kecil yang tidak paham adab atau tata krama saat berkumpul dengan keluarga bisa membuat Mama merasa malu atau tidak nyaman. Padahal, adab ini sebenarnya bisa diajarkan sejak dini dengan cara yang konsisten.

Mengajarkan adab bukan tentang membuat si Kecil jadi kaku atau kehilangan keceriaan mereka. Ini tentang mengajarkan rasa hormat, kepekaan terhadap orang lain, dan cara berperilaku yang baik dalam situasi sosial.

Berikut Popmama.com rangkum 7 adab si Kecil saat kumpul keluarga yang wajib diajarkan!

1. Tidak berkomentar soal makanan

Freepik/pressfoto

Salah satu adab penting yang harus diajarkan adalah tidak berkomentar negatif tentang makanan yang disajikan. Si Kecil yang terkadang tanpa sadar mengatakan "aku nggak suka ini" atau "ih, makanannya aneh" di depan tuan rumah.

Komentar seperti ini terkesan tidak sopan dan bisa menyakiti perasaan orang yang sudah susah payah menyiapkan makanan. Apalagi jika diucapkan di depan banyak orang, ini bisa membuat tuan rumah merasa tidak dihargai.

Ajarkan si Kecil bahwa jika memang tidak suka dengan makanan tertentu, tidak perlu dikomentari keras-keras. Cukup ambil porsi sedikit atau ucapkan "terima kasih" dan tidak mengambil sama sekali dengan cara yang sopan.

Jika si Kecil memang sangat pemilih dalam hal makanan, Mama bisa membawa bekal untuk si Kecil dan memberi pengertian pada tuan rumah tanpa harus membuat heboh di depan semua orang.

Yang penting, ajarkan si Kecil untuk menghargai usaha orang lain. Meski makanannya mungkin tidak sesuai selera, seseorang sudah meluangkan waktu dan tenaga untuk menyiapkannya.

2. Tidak rebutan atau memaksa

Freepik/pikisuperstar

Saat kumpul keluarga, biasanya ada banyak makanan atau mainan yang menarik perhatian si Kecil. Adab penting yang harus diajarkan adalah tidak rebutan atau memaksa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Ketika si Kecil rebutan makanan, berebut mainan dengan sepupu, atau memaksa untuk duduk di tempat tertentu menunjukkan kurangnya kontrol diri dan rasa hormat terhadap orang lain.

Ajarkan si Kecil untuk menunggu giliran dengan sabar. Jika ada makanan favorit, ambil secukupnya dan biarkan orang lain juga mendapat bagian. Jika ada mainan yang ingin dimainkan, tunggu sampai si Kecil lain selesai atau ajak bermain bersama.

Konsep berbagi dan menunggu giliran ini mungkin sulit untuk si Kecil, tapi ini adalah kesempatan baik untuk melatih mereka. Berikan contoh nyata tentang bagaimana cara yang benar untuk meminta atau menunggu.

Jika si Kecil mulai rebutan, segera ingatkan dengan tenang. Jangan menunggu sampai situasi memburuk atau si Kecil sampai bertengkar dengan sepupu.

Pujilah si Kecil saat mereka berhasil berbagi atau menunggu giliran dengan baik. Pujian positif ini membuat si Kecil lebih termotivasi untuk berperilaku baik.

3. Meminta izin sebelum melakukan sesuatu

Freepik/ASphotofamily

Meminta izin adalah adab dasar yang sangat penting diajarkan pada si Kecil. Saat di rumah, si Kecil harus paham bahwa mereka tidak bisa sembarangan melakukan sesuatu tanpa izin.

Ajarkan si Kecil untuk minta izin sebelum mengambil makanan dari kulkas, menyalakan TV, bermain di kamar tertentu, atau menggunakan barang yang ada di rumah keluarga.

Rumah orang lain punya aturan yang berbeda dari rumah sendiri. Meski itu rumah kakek nenek atau om tante yang dekat, tetap harus ada batasan dan rasa hormat terhadap privasi mereka.

Kalimat sederhana seperti "Boleh aku ambil air minum?" atau "Boleh aku main di sini?" sudah cukup untuk menunjukkan rasa hormat.

Jika si Kecil lupa minta izin, ingatkan dengan lembut. Jangan langsung memarahi di depan orang banyak karena bisa membuat si Kecil malu dan malah jadi memberontak.

Jelaskan pada si Kecil bahwa minta izin bukan berarti tidak dipercaya, tapi bentuk penghormatan terhadap pemilik rumah dan barang-barangnya.

4. Duduk dan bersikap tenang

Freepik

Si Kecil yang terlalu aktif berlarian, berteriak, atau membuat keributan bisa mengganggu kenyamanan acara kumpul keluarga. Ajarkan si Kecil untuk duduk dengan tenang saat orang dewasa sedang mengobrol atau saat makan bersama.

Ini bukan berarti si Kecil harus duduk kaku seperti patung sepanjang acara. Si Kecil tetap boleh bermain dan bergerak, tapi harus tahu kapan waktunya untuk tenang dan kapan waktunya untuk aktif.

Saat makan bersama, ajarkan si Kecil untuk duduk dengan baik, tidak bermain-main dengan makanan, dan tidak berteriak atau tertawa terlalu keras yang bisa mengganggu orang lain.

Saat orang dewasa sedang berbicara hal penting, ajarkan si Kecil untuk tidak menyela atau membuat keributan. Jika si Kecil bosan, sediakan aktivitas seperti buku atau mainan yang tidak berisik.

Berikan batasan yang jelas pada si Kecil tentang area mana yang boleh untuk bermain dengan keras dan area mana yang harus dijaga ketenangan. Misalnya, boleh main di halaman tapi harus tenang di ruang tamu.

Jika si Kecil mulai terlalu gaduh, ajak ke luar sebentar untuk melepas energi. Kadang si Kecil hanya butuh bergerak sebentar agar bisa kembali tenang.

5. Mengucapkan terima kasih

Freepik/pressfoto

Mengucapkan terima kasih adalah adab yang paling dasar tapi seringkali terlupakan. Ajarkan si Kecil untuk selalu ucapkan terima kasih saat diberi makanan, minuman, hadiah, atau perlakuan baik apapun.

Terima kasih bukan hanya soal sopan santun, tapi juga tentang menghargai kebaikan orang lain. Si Kecil yang terbiasa berterima kasih akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan menghargai orang lain.

Ajarkan si Kecil untuk ucapkan terima kasih dengan tulus, bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Bisa ditambahkan dengan senyuman atau kontak mata agar terasa lebih tulus.

Ketika si Kecil mendapat hadiah atau uang dari keluarga, ingatkan untuk langsung ucapkan terima kasih tanpa harus disuruh. Jangan sampai Mama atau Papa yang ucapkan terima kasih sementara si Kecil hanya diam saja.

Setelah acara selesai, ajarkan si Kecil untuk mengucapkan terima kasih pada tuan rumah yang sudah menerima kunjungan. Ini menunjukkan apresiasi atas waktu dan usaha yang sudah diberikan.

6. Tidak mengganggu orang lain

Freepik/rawpixel.com

Saat kumpul keluarga, ada banyak orang dengan berbagai usia dan kebutuhan. Ajarkan si Kecil untuk tidak mengganggu orang lain yang sedang istirahat, berbicara, atau melakukan aktivitas mereka.

Si Kecil yang berlari-lari dan tidak sengaja menabrak orang tua yang sedang duduk, atau si Kecil yang terus menyela pembicaraan orang dewasa menunjukkan kurangnya kesadaran sosial.

Ajarkan si Kecil untuk membaca situasi. Jika ada orang yang sedang serius berbicara, jangan dekati atau ganggu. Jika ada bayi yang sedang tidur, jangan berisik di dekatnya.

Jelaskan pada si Kecil bahwa setiap orang punya kebutuhan berbeda. Kakek nenek mungkin butuh istirahat, bayi butuh tidur, dan orang dewasa butuh waktu untuk mengobrol tanpa gangguan.

Jika si Kecil ingin meminta sesuatu atau bicara dengan orang dewasa yang sedang mengobrol, ajarkan untuk menunggu jeda atau ucapkan "permisi" dengan sopan.

7. Tidak meminta-minta barang

Freepik

Adab terakhir yang sangat penting adalah tidak meminta-minta barang milik orang lain. Banyak si Kecil yang melihat mainan atau barang menarik di rumah keluarga lalu langsung minta untuk dibawa pulang.

Kebiasaan meminta-minta ini terkesan kurang sopan dan bisa membuat Mama mungkin merasa malu. Apalagi jika dilakukan berulang kali atau dengan cara merengek.

Ajarkan si Kecil bahwa tidak semua yang mereka lihat bisa menjadi milik mereka. Boleh mengagumi atau meminjam untuk dimainkan di tempat, tapi tidak boleh memaksa untuk membawa pulang.

Jika memang ada keluarga yang dengan sukarela ingin memberikan sesuatu pada si Kecil, ajarkan si Kecil untuk tidak langsung mengiyakan. Biarkan Mama yang memutuskan apakah pantas menerima atau tidak.

Jelaskan pada si Kecil bahwa meminta-minta barang sama seperti tidak menghargai apa yang sudah mereka miliki di rumah. Ini juga mengajarkan si Kecil tentang rasa syukur dan tidak tamak.

Jika si Kecil sangat tertarik dengan mainan tertentu, Mama bisa mencatatnya sebagai ide hadiah untuk ulang tahun atau Lebaran nanti. Ini mengajarkan si Kecil tentang kesabaran dan menunggu.

Intinya, Ma, jangan terlalu keras pada si Kecil jika mereka lupa atau melakukan kesalahan. Proses belajar adab butuh waktu dan kesabaran. Yang penting adalah ada perbaikan bertahap, bukan kesempurnaan instan.

Ingat bahwa tujuan mengajarkan adab adalah untuk membentuk karakter yang baik dan peka terhadap perasaan orang lain. Dengan adab yang baik, si Kecil akan lebih dihormati, disayangi, dan diterima dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.

Adab mana yang paling sulit diajarkan pada si Kecil?

Editorial Team