Anak mama memang masihlah sangat muda. Beberapa pertanyaan sederhana dan terbuka dapat membantu mama memahami seperti apa yang dirasakannya dalam situasi sosial ini.
Pada usia ini, mungkin anak tidak tertarik menceritakan apa yang terjadi di sekolah seharian. Jadi, ketika ia melakukan penolakan terhadap ajakan mama, mama dapat mengajukan pertanyaan terbuka padanya saat itu juga untuk mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana ia berpikir dan merasakan.
Beberapa contoh pertanyaan yang dapat mama ajukan misalnya, "Teman yang seperti apa yang menurutmu asyik diajak bermain?" atau "Bagaimana perasaanmu tadi saat mengajak teman baru bermain?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membangun rasa kepercayaan anak terhadap orangtua, bahwa orangtua tertarik pada perspektifnya ketimbang hanya menyuruhnya melakukan sesuatu yang ia tidak nyaman.
Orangtua dapat menambahkan kekuatan empati, seperti. "Mama tahu kamu mungkin takut mereka akan mengatakan 'tidak'. Itu tidak apa-apa kok." Dengan cara ini orangtua juga mempelajari sesuatu yang mengejutkan tentang pengalaman anak, yang dapat membantu orangtua memberi respons dengan lebih efektif.
Memahami perspektif anak dan adanya empati dalam respons kita merupakan unsur utama agar anak-anak kita merasa dipahami dan diterima apa adanya.
Semoga informasi ini menginspirasi ya, Ma.