Benarkah Beda Anak, Beda Cara Pendekatan Disiplinnya?

Sesuaik strategi disiplin agar anak bisa tumbuh jadi pribadi bertanggung jawab

15 September 2020

Benarkah Beda Anak, Beda Cara Pendekatan Disiplinnya
Freepik/prostooleh

Memiliki anak lebih dari satu menyenangkan sekaligus menantang bagi orang tua manapun. Kepribadian tiap anak unik sehingga Mama Papa harus pandai memahaminya, termasuk saat ingin menanamkan disiplin.

Mama bisa mendisiplinkan secara lembut pada si kakak, tetapi pendekatan serupa bisa jadi tidak berhasil pada si adik. Namun, menerapkan perlakuan berbeda pada mereka jelas bukan solusi.

Bagaimanapun Mama perlu konsisten dalam mendisiplinkan anak. Namun, jika tiap peraturan punya konsekuensi beda-beda, ujungnya malah kacau.

Di sinilah Mama bisa menyesuaikan strategi disiplin agar bisa memenuhi kebutuhan masing-masing anak.

Yuk, simak tips strategi mendisiplinkan anak seperti Popmama.com   lansir dari Very Well Family.

1. Pahami dulu apa tujuan disiplin sehat

1. Pahami dulu apa tujuan disiplin sehat
freepik/freepik

Disiplin bukan perkara membuat anak patuh atau menurut saja pada orang tua. Disiplin sehat seharusnya mengajari anak bagaimana membuat pilihan lebih baik atas sesuatu hal.

Ini berarti mendisiplinkan mereka tidak sama dengan mempermalukan anak karena berbuat salah, Ma.

Daripada menghukum dan menilai anak “buruk”, beri anak konsekuensi yang mengajarinya untuk bertindak lebih baik di masa mendatang.

Satu lagi, disiplin sehat juga mendorong otonomi dalam diri anak. Sesuaikan tingkat kebebasan yang Mama beri pada anak menurut kepribadian, kecerdasan, dan tingkat kedewasaannya.

Plus, tetap bimbing mereka agar anak dapat berkembang optimal.

2. Kenali temperamen anak

2. Kenali temperamen anak
Freepik

Gaya mendisiplinkan anak-anak boleh jadi sama, tetapi masing-masing anak punya temperamen unik. Maka, Mama perlu menyesuaikan pendekatannya dengan sifat anak.

Temperamen merujuk pada sifat bawaan yang menggambarkan bagaimana pendekatan anak terhadap dunia sekitarnya.

Ada anak yang bisa segera berbaur dan menikmati pengalaman baru dengan penuh rasa ingin tahu. Sebaliknya, ada anak yang “terlambat panas” alias butuh waktu lama beradaptasi saat berhadapan dengan lingkungan baru.

Namun, semua temperamen baik adanya. Mama perlu strategi agar bisa mendisiplinkan anak secara efektif.

Perhatikan juga seperti apa temperamen Mama. Dalam beberapa hal, bisa jadi Mama lebih cocok untuk mendekati si kakak daripada adik. Sementara, Papa mampu memahami si adik sehingga tahu mana cara tepat untuk mengajarinya.

Editors' Picks

3. Pertimbangkan kebutuhan anak

3. Pertimbangkan kebutuhan anak
Pexels/Gustavo Fring

Menentukan seperti apa cara terbaik mendisiplinkan anak tak lepas dari usaha mempertimbangkan apa yang ia butuhkan. Coba ajukan beberapa pertanyaan ini pada diri Mama.

  • Seberapa jauh anak membutuhkan kegiatan terjadwal
  • Bagaimana respons anak terhadap pujian dan reward
  • Bagaimana keterampilan sosial emosional anak
  • Apakah anak perlu latihan atau persiapan lebih dulu sebelum menghadapi situasi baru
  • Seberapa banyak ia membutuhkan penjelasan akan suatu hal
  • Konsekuensi apa yang efektif untuk anak
  • Apa saja yang anak butuhkan agar ia merasa aman, nyaman, dan disayangi
  • Bagaimana Mama bisa memandang persoalan dari sudut pandangnya

4. Disiplin sesuai kematangan diri anak

4. Disiplin sesuai kematangan diri anak
Freepik/Rawpixel.com

Strategi disiplin yang Mama terapkan harus sesuai dengan perkembangan anak. Pertimbangkan bagaimana kemampuan anak saat ia diberi tanggung jawab tertentu.

Kadang usia tidak bisa jadi patokan. Artinya, bisa jadi si adik dapat melakukan sesuatu hal yang mungkin belum bisa dilakukan kakaknya.

Sama halnya dengan konsekuensi. Sebagai contoh, Mama bisa menerapkan timeout pada anak yang berusia lebih muda. Sedangkan anak yang lebih tua bisa diterapkan konsekuensi hilangnya waktu bermain gadget.

5. Tetap buat aturan rumah yang berlaku sama bagi tiap anggota keluarga

5. Tetap buat aturan rumah berlaku sama bagi tiap anggota keluarga
Pexels/Ketut Subiyanto

Terlepas dari perbedaan strategi disiplin untuk tiap anak, Mama tetap perlu membuat aturan rumah yang berlaku sama untuk seluruh anggota keluarga.

Aturan rumah ini tidak bisa ditawar-tawar alias dinegosiasikan. Semua orang yang tinggal di rumah harus mematuhinya.

Contoh, berganti pakaian dan cuci tangan kaki setelah bepergian, mengetuk pintu saat hendak masuk kamar, minta izin sebelum pinjam barang.

Hal ini juga berlaku serupa pada nilai-nilai moral keluarga. Misalnya, berkata jujur, bersikap sopan, dan menyayangi satu sama lain.

6. Adil tidak selalu sama

6. Adil tidak selalu sama
Pexels/Elly Fairytale

Jelaskan pada anak bahwa perilaku adil tak lantas ia bisa mendapatkan hal yang sama. Bisa saja salah satu anak membutuhkan lebih banyak perhatian, pujian, dan dukungan daripada anak lainnya.

Maka, hindari membandingkan anak dan tekankan pembedaan perilaku tersebut pada anak, terutama jika perilaku itu terlihat jelas.

Jangan lupa bantu anak mengakui dan menerima perasaannya dengan mendengarkan keluh kesahnya. Terakhir, dorong anak untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri sehingga ia selalu termotivasi menjadi diri yang lebih baik.

Pada akhirnya, mendisiplinkan anak adalah perjalanan panjang yang tak selesai dalam satu malam. Tiap anak akan melewati proses berbeda untuk membangun kedisiplinan tersebut. Bersikap fleksibel akan membantu Mama Papa saat mendampingi anak agar ia tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.