Cara Belajar Gaya Kinestetik untuk Anak 4-5 Tahun

Begini cara belajar tepat untuk anak dengan gaya belajar kinestetik

20 Juni 2019

Cara Belajar Gaya Kinestetik Anak 4-5 Tahun
Pexels/Pixabay

Sejak anak lahir, kita sebagai orangtua berusaha memberinya stimulasi sedini mungkin.

Hal-hal sederhana seperti mengajaknya bicara, bercanda, mencium, dan memeluk pun bisa menjadi rangsangan penting bagi kelima indra yang ia punya.

Ketika usianya menginjak prasekolah atau 4-5 tahun, beberapa anak mulai memberi tanda bahwa ia memilih gaya belajar tertentu: visual, auditori, dan kinestetik. Biasanya, ia akan lebih mudah mempelajari hal-hal baru lewat salah satu gaya belajar itu.

Bagi sebagian anak, kebutuhan bergerak aktif ke sana ke mari lebih besar. Meski memang sudah menjadi masanya anak perlu ruang gerak ekstra, kebanyakan orangtua memahaminya secara berbeda.

Anak dengan gaya belajar kinestetik punya kebutuhan bergerak lebih tinggi, tetapi sering dipandang sebagai masalah perilaku.

Keluhan yang muncul antara lain anak tidak bisa diam, terlalu aktif, atau terkesan kurang fokus. Padahal, semakin Mama menyuruh anak ini untuk duduk tenang, semakin sulit ia belajar.

Inilah yang sering menjadi kendala anak bergaya belajar kinestetik. Lalu, apa yang bisa Mama lakukan jika si Kecil punya gaya belajar ini?

1. Kenali lebih dulu ciri-ciri gaya belajar kinestetik

1. Kenali lebih dulu ciri-ciri gaya belajar kinestetik
Pexels/Kate Romeo

Sekali Mama memahami bahwa gerakan-gerakan atau aktivitas yang dilakukan anak adalah caranya belajar, Mama pun lebih mudah mengajari anak banyak hal.

Ciri-ciri anak dengan gaya belajar kinestetik adalah:

  • Ia harus selalu bergerak: menggoyangkan kaki, menari, mengetuk-ngetuk meja dengan pensil, dan lain-lain. Anak belajar lewat tubuh dan indra perabanya.
  • Anak punya ingatan fisik yang tajam. Sekali ia melihat satu atau beberapa gerakan, ia bisa langsung mengulangnya dengan mudah.
  • Anak punya koordinasi tubuh yang baik, termasuk koordinasi mata dan tangan serta kepekaan terhadap ruang gerak.
  • Biasanya, anak dengan gaya belajar kinestetik kesulitan untuk duduk diam dalam waktu lama
  • Sebagai konsekuensi poin di atas, anak dengan tipe ini pun mudah bosan
  • Anak cenderung sulit belajar hal-hal yang berurutan jika hanya dijelaskan secara visual atau verbal
  • Saat belajar, konsentrasinya mudah terpecah oleh situasi lain di sekitarnya

Editors' Picks

2. Mungkinkah anak punya lebih dari satu gaya belajar?

2. Mungkinkah anak pu lebih dari satu gaya belajar
Pexels/Di Lewis

Tentu saja mungkin, Ma! Terlebih saat usia prasekolah, metode belajar yang dilakukan di sekolah pun merangsang kelima indra anak. Pendekatan seperti gerak, membacakan cerita, dan bermain membantu stimulasi kemampuan anak.

Namun, biasanya anak dengan gaya belajar kinestetik cenderung sulit mendengarkan. Ia lebih suka merekam informasi lewat gerakan tubuh dan visualisasi suatu hal.

Kombinasi keduanya justru membantu anak lebih fokus dan bisa mengingat apa yang telah ia pelajari dengan mudah.

3. Cara Mama mendukung anak dengan gaya belajar kinestetik

3. Cara Mama mendukung anak gaya belajar kinestetik
Pexels/Vinicius Costa

Untuk anak usia 4-5 tahun, pertama dan utama Mama harus bisa menerima diri anak apa adanya.

Mama tidak bisa berharap anak kinestetik mau duduk anteng dalam waktu lama dan mendengarkan atau menyimak baik-baik setiap hal yang Mama sampaikan.

Penerimaan ini akan membawa Mama ke langkah selanjutnya, yaitu mengajarkan anak berbagai hal baru dengan cara tersendiri. Mari simak caranya.

  • Tiga strategi terbaik yang bisa Mama coba untuk mengajak si Kecil belajar adalah melalui gerakan, cerita, dan visual (gambar atau video).
  • Anak kinestetik butuh belajar lewat pergerakan tangan dan tubuh, serta konsep yang disampaikan secara visual dengan alur cerita jelas.
  • Berikan anak gambaran besar dari suatu hal yang ingin Mama sampaikan, lalu pakai materi atau peralatan berbentuk tiga dimensi agar lebih mudah menjelaskan. Misalnya, pengenalan huruf tidak hanya sebatas membunyikan A, B, C, dst, tetapi perlu ada alat peraga berupa kepingan huruf yang bisa dibongkar pasang seperti puzzle.
  • Berikan anak kesempatan untuk mencoba sendiri, tahan diri Mama untuk tidak segera membantunya saat ia kesulitan. Justru lewat trial and error itulah ia sedang melakukan proses belajar.
  • Beri anak lebih banyak waktu untuk bermain di luar agar ia bisa meluapkan energinya untuk bergerak bebas.
  • Bagi waktu belajar ke dalam sesi dengan durasi lebih singkat supaya fokusnya tetap terjaga. Variasikan metode belajar dengan melakukan hal lain. Misalnya, setelah belajar mengenal huruf selama 10 menit, beri jeda 5 menit untuk berpindah tempat atau sekadar memainkan mainan lain.

Bagaimana, Ma, mudah kan mengajari anak dengan gaya belajar kinestetik?

Kelebihan anak dalam belajar inilah yang perlu Mama asah agar kemampuan si Kecil berkembang optimal.

Lebih penting lagi, selalu tekankan bahwa proses belajar adalah hal utama, bukan sekadar pencapaian atau hasil akhir yang didapat.

Jadi, anak pun mengerti bahwa belajar bisa menyenangkan jika dilakukan dengan cara tepat.

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!