Sigra, Putra Anji, Didiagnosa Autism Spectrum Disorder, Apa Itu?

Apa itu ASD dan bagaimana menanganinya?

21 Mei 2019

Sigra, Putra Anji, Didiagnosa Autism Spectrum Disorder, Apa Itu
Youtube.com/Keluarga Kece

Kalau Mama followers akun Keluarga Kece milik Anji dan Wina, pasti ikut merasa prihatin saat mendengar Sigra didiagnosa Autism Spectrum Disorder (ASD) tingkat ringan. Dalam video tersebut, Wina bercerita bagaimana Sigra sampai bisa didiagnosa ASD.

Awalnya, Anji dan Wina sama-sama berpikir Sigra mengalami terlambat bicara, seperti yang dialami kakak-kakaknya. Namun, setelah usia 2,5 tahun tidak ada perubahan signifikan dari perkembangan putranya tersebut.

Akhirnya, mereka membawa Sigra ke dokter spesialis tumbuh kembang dan menyatakan Sigra mengalami speech delay. Terapi pun dilakukan guna menangani masalah tersebut. Lewat satu tahun, lagi-lagi Sigra belum menunjukkan perubahan berarti, ditambah frekuensi tantrum Sigra yang kian menjadi.

Anji dan Wina sepakat mencari second opinion atas kondisi putra kesayangan mereka. Di sebuah klinik tumbuh kembang, Sigra diperiksa dengan teliti. Hasilnya, ia didiagnosa ASD tingkat ringan. Tentu saja Anji dan Wina sangat terkejut mendengar hal tersebut. Bahkan, ada perasaan denial atau sulit menerima kenyataan pada awal diagnosa itu diketahui.

Belajar dari cerita Anji dan Wina, apa yang bisa Mama pelajari soal ASD ini? Berikut Popmama.com merangkumnya dari berbagai sumber untuk Mama.

1. Pengertian ASD

1. Pengertian ASD
parents.com

ASD merupakan gangguan perkembangan pada anak yang muncul lewat gejala hambatan berinteraksi sosial, berkomunikasi, serta mempunyai pola perilaku dan minat terbatas, malah cenderung berulang. Biasanya, gangguan ini bisa terlihat sebelum anak berusia 3 tahun.

Seperti diceritakan Anji, Sigra kerap menunjukkan gejala-gejala yang mengarah pada ASD, antara lain:

  • Tidak merespons saat dipanggil namanya
  • Jarang melakukan kontak mata
  • Menyakiti diri sendiri, tetapi tidak merasa sakit
  • Suka melakukan gerakan stereotip berulang tanpa tujuan jelas, seperti melompat-lompat
  • Tantrum berlebihan karena sulit mengungkapkan keinginannya

ASD sendiri mempunyai beberapa tingkatan atau level. Sigra mengalami ASD level ringan yang artinya masih bisa disembuhkan asal menjalani serangkaian terapi secara intensif.

2. Diet makanan tertentu berpengaruh signifikan

2. Diet makanan tertentu berpengaruh signifikan
blondeandbalanced.com

Dalam video tersebut, Wina juga sempat menyebutkan Sigra ternyata alergi pada makanan tertentu, yaitu gluten dan susu serta olahannya (keju, mentega). Padahal, Sigra sangat suka makan. Mau nggak mau, Wina harus memberlakukan diet khusus pada putranya.

Penelitian memang menunjukkan bahwa anak autisme memiliki risiko terkena alergi lebih tinggi daripada anak yang tidak mengidap autisme. Rupanya, hal ini berkaitan dengan perbedaan sistem imunitas tubuh anak autisme, yaitu produksi senyawa antibodi yang bereaksi dengan komponen alergi lebih tinggi.

Meski demikian, efektivitas terapi diet untuk memperbaiki kondisi anak autisme belum bisa dipastikan secara ilmiah. Namun, pada beberapa kasus, seperti halnya Sigra, hal ini cukup berpengaruh.

Lebih lanjut, jika anak Mama menderita autisme dan Mama ingin melakukan terapi diet, tetap berkonsultasi dengan dokter lebih dulu.

Jangan sampai Mama hanya menerapkannya semata ikut-ikutan saja tanpa dasar yang jelas. Ingat bahwa setiap anak itu berbeda, sekalipun didiagnosa gangguan serupa. Salah-salah kebutuhan nutrisi si Kecil kurang terpenuhi.

Editors' Picks

3. Menerima kenyataan langkah terberat, tapi paling utama

3. Menerima kenyataan langkah terberat, tapi paling utama
Freepik

Anji dan Wina mengakui bahwa langkah terberat adalah menerima kenyataan Sigra mengidap ASD. Namun, hal pertama yang harus dilakukan orangtua saat mengetahui anaknya istimewa justru penerimaan.

“Sampai akhirnya kadang anak diumpetin dari orang, nggak pengen orang lain tahu. Jadinya, anak malah nggak berkembang,” tutur Anji.

Sikap orangtua yang mau menerima keistimewaan anak jelas mendukung tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal terapi. Terapi bukan hanya dilakukan di tempat terapi, tetapi juga di rumah dengan membangun lingkungan yang kondusif.

“Sigra menjadi lebih baik karena kita tahu, kita menerima, dan kita mau membuka diri,” jelas Anji.

Wina juga sempat menjelaskan, kalau orangtua hanya berfokus pada apa penyebabnya, mengapa anak kok bisa mengidap gangguan itu, dan pikiran-pikiran lain, justru anak malah tidak tertangani dengan baik.

Kuncinya adalah penerimaan orangtua terhadap keistimewaan anak. Mama dan Papa sama-sama bisa saling menguatkan dan fokus sepenuhnya pada penanganan yang dibutuhkan anak.

4. Peka pada tumbuh kembang anak

4. Peka tumbuh kembang anak
Pixabay/PublicDomainPictures

Wina juga mengatakan jika menemui sesuatu yang berbeda pada diri anak, segera konsultasikan dengan dokter spesialis tumbuh kembang anak agar bisa mendapat penanganan yang tepat.

“Karena anak yang masih berada pada usia emas atau golden age, akan sangat-sangat bagus kalau diterapi. Hasilnya akan sangat maksimal,” jelas Wina.

Inilah yang mereka amati dari rangkaian terapi yang dijalani oleh Sigra. Dalam setahun saja, perkembangan Sigra begitu pesat.

Berarti, semakin dini gangguan tumbuh kembang terdeteksi oleh dokter atau psikolog, semakin cepat pula tertangani, dan hasilnya lebih optimal. Bahkan, tak jarang Mama menemui kasus serupa yang bisa sembuh total.

5. Terapi yang bisa dilakukan

5. Terapi bisa dilakukan
elinsignia.com

Mama tentu harus berkonsultasi dengan dokter atau psikolog dulu sebelum menjalani terapi untuk anak dengan gangguan ASD. Namun, secara umum berikut beberapa jenis terapi yang biasa dilakukan guna memaksimalkan potensi anak dengan ASD.

  • Terapi wicara, biasa dilakukan untuk menangani problem komunikasi anak autisme. Beberapa contohnya seperti memijat bibir dan otot wajah untuk mengembangkan artikulasi bicara dan mengenalkan kata lewat gambar dan tulisan di bawah.
  • Terapi okupasional, anak akan belajar tentang pertumbuhan dan perkembangan manusia serta bagaimana berinteraksi dengan lingkungan melalui kegiatan sehari-hari. Contohnya, bermain peran, meronce manik-manik, belajar berpakaian.
  • Applied Behavioral Analysis (ABA), dalam terapi ini anak autisme diajari bagaimana mengembangkan keterampilan dasar menjadi kemampuan yang lebih kompleks. Misalnya, dari melihat menjadi menatap mata orang lain, mendengar menjadi mendengarkan cerita.

Demikian sekilas informasi mengenai ASD yang perlu Mama ketahui. Ingat untuk selalu memantau dan peka pada tumbuh kembang anak, terlebih jika anak masih berada dalam usia 0-5 tahun.

Deteksi dini akan membantu masalah anak tertangani lebih awal, sehingga kemungkinan sembuh juga tinggi. Setuju kan, Ma?

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!